Teknologi Bantu di Kampus, Bagaimana AI dan Perangkat Digital Mendukung Mahasiswa Disabilitas?

Pernah membayangkan bagaimana mahasiswa dengan hambatan penglihatan mengakses materi kuliah yang berisi banyak tulisan? Atau bagaimana mahasiswa Tuli mengikuti diskusi dosen ketika sebagian besar penjelasan disampaikan secara lisan?

Bagi sebagian mahasiswa, kegiatan seperti membaca modul, mencatat penjelasan dosen, mengikuti presentasi, dan mengerjakan tugas bisa membutuhkan dukungan tambahan. Di sinilah teknologi bantu atau assistive technology punya peran penting.

Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuka lebih banyak cara untuk mengakses informasi. Materi yang sebelumnya hanya tersedia dalam bentuk visual bisa dibacakan melalui suara. Penjelasan lisan dapat diubah menjadi teks. Bahkan, beberapa teknologi AI dapat membantu mendeskripsikan gambar atau merangkum informasi.

Namun, teknologi ini bukan sekadar alat canggih yang membuat aktivitas kuliah terasa lebih praktis. Jika digunakan dan dirancang dengan tepat, teknologi bantu dapat membantu mahasiswa disabilitas berpartisipasi dalam proses pembelajaran secara lebih setara.

Lantas, seperti apa penerapannya di lingkungan kampus? Dan apakah semua kampus sudah menyediakan dukungan tersebut?

1. Apa Itu Teknologi Bantu dalam Pendidikan?

Teknologi bantu adalah perangkat, perangkat lunak, atau sistem yang membantu seseorang melakukan aktivitas yang mungkin sulit diakses tanpa dukungan tertentu. Dalam pendidikan tinggi, teknologi ini dapat membantu mahasiswa mengakses materi, berkomunikasi, mencatat informasi, dan menggunakan platform pembelajaran.

Bentuknya beragam. Ada teknologi yang memang dirancang khusus untuk membantu penyandang disabilitas, seperti pembaca layar dan perangkat Braille elektronik. Ada juga fitur yang tersedia pada perangkat digital sehari-hari, seperti pengubah teks menjadi suara, pengenalan suara, pembesaran tampilan, dan teks otomatis pada video.

Teknologi bantu tidak selalu harus berupa perangkat mahal atau alat khusus. Fitur aksesibilitas pada ponsel, laptop, dan aplikasi yang sudah digunakan mahasiswa juga bisa memberikan manfaat.

Contohnya, mahasiswa yang kesulitan menggunakan papan ketik dapat memanfaatkan fitur dikte untuk menulis melalui suara. Mahasiswa dengan hambatan penglihatan dapat menggunakan pembaca layar untuk mengakses dokumen digital yang dirancang dengan format yang sesuai.

Kebutuhan setiap mahasiswa tentu berbeda. Karena itu, teknologi yang tepat perlu disesuaikan dengan kebutuhan, preferensi, dan situasi belajar masing-masing, bukan ditentukan hanya berdasarkan jenis disabilitasnya.

2. Pembaca Layar Membantu Mahasiswa Mengakses Materi Kuliah

Bagi mahasiswa dengan hambatan penglihatan, materi kuliah yang hanya mengandalkan tampilan visual dapat menjadi tantangan. Misalnya, dosen membagikan modul PDF, mengunggah materi melalui Learning Management System (LMS), atau memberikan tugas melalui dokumen digital.

Pembaca layar (screen reader) membantu pengguna mengakses informasi pada layar melalui suara sintetis atau perangkat Braille yang dapat diperbarui secara elektronik.

Dengan teknologi ini, mahasiswa dapat menavigasi teks, membaca bagian tertentu, dan mengakses informasi digital tanpa harus bergantung pada tampilan visual.

Perkembangan AI juga memungkinkan fitur tambahan, seperti bantuan untuk mendeskripsikan gambar atau menjelaskan informasi visual tertentu. Fitur seperti ini dapat membantu ketika mahasiswa menemukan ilustrasi, foto, atau diagram dalam materi kuliah.

Meski begitu, ada hal penting yang perlu diperhatikan. Pembaca layar tidak otomatis dapat memahami semua materi visual dengan sempurna. Dokumen harus memiliki struktur yang jelas, gambar perlu dilengkapi deskripsi yang relevan, dan tabel harus disusun agar informasinya bisa dibaca dengan urutan yang tepat.

Jadi, aksesibilitas bukan hanya bergantung pada perangkat yang digunakan mahasiswa, tetapi juga pada cara dosen dan kampus menyiapkan materi pembelajaran.

3. Transkripsi Otomatis Membantu Mengikuti Perkuliahan

Dalam perkuliahan, dosen sering menyampaikan informasi melalui penjelasan lisan. Mahasiswa juga perlu mengikuti diskusi kelompok, presentasi, dan sesi tanya jawab.

Bagi mahasiswa Tuli atau mahasiswa dengan hambatan pendengaran, akses terhadap informasi lisan dapat memerlukan dukungan tambahan. Salah satu teknologi yang bisa membantu adalah speech-to-text, yaitu teknologi yang mengubah ucapan menjadi teks.

Dengan fitur transkripsi otomatis, ucapan dosen dapat ditampilkan dalam bentuk tulisan pada perangkat digital. Mahasiswa bisa membaca teks tersebut untuk membantu mengikuti penjelasan, terutama ketika digunakan bersama materi kuliah tertulis.

Teknologi ini juga dapat berguna bagi mahasiswa yang membutuhkan cara lain untuk mengakses informasi lisan, termasuk ketika mengikuti perkuliahan daring.

Namun, transkripsi otomatis bukan berarti selalu menghasilkan teks yang akurat. Suara yang kurang jelas, istilah teknis, nama orang, atau beberapa orang yang berbicara bersamaan dapat menyebabkan kesalahan. Karena itu, hasil transkripsi perlu diperiksa jika digunakan sebagai catatan penting.

Selain itu, transkripsi otomatis tidak selalu dapat menggantikan juru bahasa isyarat atau bentuk dukungan komunikasi lain yang dibutuhkan mahasiswa. Pilihan dukungan sebaiknya dibicarakan bersama mahasiswa yang bersangkutan.

4. AI Membantu Membaca dan Memahami Informasi

Selain membantu mengakses informasi, AI dapat digunakan sebagai pendukung ketika mahasiswa mempelajari materi kuliah.

Misalnya, mahasiswa bisa menggunakan fitur text-to-speech untuk mendengarkan materi tertulis. Teknologi OCR (Optical Character Recognition) juga dapat mengenali teks dari gambar atau hasil pemindaian dokumen, sehingga teks tersebut berpotensi dibacakan atau diolah lebih lanjut oleh perangkat lunak aksesibilitas.

AI generatif dapat memberikan dukungan tambahan, seperti menyusun ringkasan awal, menjelaskan istilah yang sulit, atau mengubah penjelasan menjadi format yang lebih mudah dipahami.

Bayangkan seorang mahasiswa menerima materi kuliah dengan banyak istilah teknis. Ia dapat meminta AI menjelaskan istilah tertentu menggunakan bahasa yang lebih sederhana, kemudian mencocokkan penjelasan tersebut dengan modul dan referensi dari dosen.

Bagi mahasiswa yang membutuhkan format belajar berbeda, fitur seperti ini bisa membantu mengakses informasi dengan cara yang lebih sesuai.

Namun, AI bukan sumber yang selalu benar. Ringkasan bisa melewatkan bagian penting, penjelasan dapat mengandung kekeliruan, dan deskripsi gambar mungkin tidak menangkap seluruh informasi yang dibutuhkan. Hasilnya tetap perlu diperiksa, terutama untuk materi yang berkaitan dengan penilaian akademik atau keputusan penting.

Mahasiswa juga perlu memperhatikan privasi. Jangan sembarangan mengunggah data pribadi, dokumen sensitif, atau materi yang tidak boleh dibagikan ke layanan AI tanpa memastikan aturan penggunaan dan perlindungan datanya.

5. Fitur Dikte dan Kontrol Suara Mempermudah Pengerjaan Tugas

Mengetik laporan, membuat presentasi, dan mengisi formulir digital merupakan bagian dari kegiatan kuliah sehari-hari. Akan tetapi, penggunaan papan ketik atau tetikus tidak selalu menjadi cara yang paling mudah diakses oleh semua mahasiswa.

Bagi mahasiswa dengan hambatan motorik tertentu, fitur dikte dan kontrol suara dapat menjadi alternatif untuk berinteraksi dengan perangkat.

Fitur dikte (speech-to-text) memungkinkan pengguna mengucapkan kalimat yang kemudian diubah menjadi tulisan. Sementara itu, pengenalan suara dapat digunakan untuk menjalankan perintah tertentu, seperti membuka aplikasi atau memilih menu yang tersedia.

Di sisi lain, fitur navigasi menggunakan papan ketik, tombol alternatif, atau perangkat input khusus juga dapat membantu mahasiswa yang kesulitan menggunakan tetikus.

Teknologi tersebut dapat mendukung aktivitas seperti menyusun draf tugas, menulis catatan, dan mengoperasikan aplikasi pembelajaran.

Meski begitu, fitur suara tidak selalu cocok untuk semua orang. Kondisi ruang yang bising, kebutuhan komunikasi pengguna, bahasa yang didukung, serta jenis tugas yang dikerjakan dapat memengaruhi efektivitasnya. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki pilihan cara berinteraksi dengan perangkat, bukan hanya satu metode.

6. Teknologi Digital Membantu Mengatur Kegiatan Kuliah

Kehidupan mahasiswa gak hanya berisi perkuliahan. Ada tugas dengan tenggat waktu, jadwal ujian, kegiatan organisasi, dan berbagai informasi yang perlu dikelola.

Aplikasi kalender digital, pengingat tugas, pencatat, dan pengelola jadwal dapat membantu mahasiswa menyusun aktivitas sehari-hari. Fitur AI tertentu juga bisa membantu mengelompokkan informasi atau membuat rangkuman awal dari catatan yang tersedia.

Teknologi seperti ini dapat berguna bagi mahasiswa yang membutuhkan dukungan dalam mengatur informasi, mengingat jadwal, atau mengikuti rutinitas belajar.

Misalnya, mahasiswa dapat menggunakan kalender digital untuk mencatat jadwal kuliah dan mengatur pengingat sebelum tenggat tugas. Catatan digital juga dapat membantu menyimpan materi berdasarkan mata kuliah agar lebih mudah ditemukan kembali.

Namun, aplikasi pengatur jadwal bukan solusi untuk semua hambatan belajar. Manfaatnya bergantung pada kebutuhan pengguna, desain aplikasi, dan cara penggunaannya. Mahasiswa tetap perlu mendapatkan penyesuaian pembelajaran lain jika dibutuhkan.

7. Apakah Teknologi Bantu Sudah Cukup untuk Mewujudkan Kampus Inklusif?

Jawabannya, belum.

Teknologi bantu dapat mendukung akses pembelajaran, tetapi keberhasilannya juga bergantung pada lingkungan kampus. Jika materi kuliah tidak kompatibel dengan pembaca layar, video tidak memiliki takarir, atau platform akademik sulit digunakan dengan papan ketik, teknologi yang tersedia belum tentu bisa dimanfaatkan secara optimal.

Kampus inklusif perlu memperhatikan beberapa hal berikut.

Pertama, materi pembelajaran yang aksesibel. Dokumen, presentasi, video, dan platform pembelajaran perlu dirancang agar dapat diakses menggunakan teknologi bantu.

Kedua, dukungan yang sesuai kebutuhan. Mahasiswa dapat membutuhkan kombinasi teknologi, penyesuaian metode pembelajaran, layanan komunikasi, atau bentuk dukungan lainnya.

Ketiga, fasilitas dan lingkungan fisik. Aksesibilitas digital perlu berjalan bersama fasilitas fisik yang mendukung, seperti jalur yang dapat diakses, lift yang sesuai, dan ruang belajar yang aman.

Keempat, layanan kampus yang responsif. Dosen, tenaga kependidikan, dan pengelola layanan mahasiswa perlu memahami cara memberikan dukungan yang sesuai serta menjaga privasi mahasiswa.

Di Indonesia, Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023 mengatur tentang akomodasi yang layak bagi peserta didik penyandang disabilitas, termasuk di perguruan tinggi. Peraturan tersebut menjadi salah satu landasan dalam penyediaan dukungan, sarana dan prasarana, serta layanan yang diperlukan agar peserta didik disabilitas dapat mengikuti pendidikan.

Kampus juga dapat memiliki Unit Layanan Disabilitas (ULD) yang membantu mengoordinasikan dukungan bagi mahasiswa. Ketersediaan layanan, prosedur pengajuan akomodasi, dan fasilitas yang disediakan dapat berbeda antarperguruan tinggi.

Karena itu, keberadaan teknologi saja belum cukup. Kampus perlu memastikan bahwa mahasiswa dapat menggunakannya, memperoleh dukungan yang dibutuhkan, dan berpartisipasi dalam pembelajaran secara setara.

8. Apa yang Perlu Dicek Calon Mahasiswa Saat Memilih Kampus?

Kalau kamu sedang mencari kampus untuk kuliah, aksesibilitas bisa menjadi salah satu aspek yang layak dipertimbangkan. Terutama jika kamu atau orang yang kamu kenal membutuhkan dukungan tertentu dalam kegiatan belajar.

Kamu bisa mulai dengan mencari informasi mengenai beberapa hal berikut:

  • Unit Layanan Disabilitas: apakah kampus memiliki unit atau layanan yang menangani kebutuhan mahasiswa disabilitas?
  • Aksesibilitas pembelajaran digital: apakah platform akademik dan materi kuliahnya dapat diakses dengan teknologi bantu?
  • Fasilitas dan akomodasi: apakah tersedia fasilitas fisik dan penyesuaian pembelajaran sesuai kebutuhan mahasiswa?
  • Teknologi yang tersedia: apakah kampus menyediakan atau membantu akses ke perangkat dan aplikasi bantu?
  • Prosedur pengajuan bantuan: bagaimana mahasiswa dapat menyampaikan kebutuhan dan memperoleh dukungan?

Kamu dapat mencari informasi melalui situs resmi kampus atau Sistem Informasi Perguruan Tinggi Inklusif Indonesia yang menyediakan informasi terkait perguruan tinggi inklusif, Unit Layanan Disabilitas, kesiapan program studi, dan inovasi teknologi bantu.

Informasi tersebut bisa menjadi titik awal untuk membandingkan kampus. Jika ada kebutuhan khusus, calon mahasiswa juga dapat menghubungi pihak kampus untuk memastikan dukungan yang tersedia sesuai dengan kebutuhannya.

Kesimpulan

AI dan perangkat digital dapat membuka lebih banyak cara bagi mahasiswa disabilitas untuk mengakses materi kuliah, mengikuti penjelasan dosen, menyusun tugas, dan mengelola kegiatan akademik. Mulai dari pembaca layar, transkripsi otomatis, OCR, fitur dikte, hingga AI untuk membantu memahami informasi, semuanya memiliki potensi untuk mendukung pembelajaran yang lebih aksesibel.

Namun, teknologi bukan pengganti peran dosen, layanan kampus, atau akomodasi yang layak. Hasil AI tetap perlu diperiksa, materi pembelajaran harus dirancang agar aksesibel, dan dukungan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing mahasiswa.

Pada akhirnya, kampus inklusif bukan hanya kampus yang menyediakan teknologi canggih. Kampus inklusif adalah kampus yang memastikan setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengakses pembelajaran, berpartisipasi, dan mengembangkan potensinya.

Karena akses pendidikan yang setara bukan soal semua mahasiswa harus belajar dengan cara yang sama, melainkan setiap mahasiswa mendapatkan dukungan yang dibutuhkan untuk belajar secara optimal.

Penulis:
Ananda Khaerunisa
Editor:
Ramadhan Candra Wijayanti S.Psi.