Gara-Gara AI, Kampus di AS Mulai Ubah Sistem Penilaian Mahasiswa Jadi Ujian Lisan!

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara mahasiswa belajar dan menyelesaikan tugas. Kini, mahasiswa dapat memanfaatkan AI untuk mencari ide, merangkum materi, menyusun tulisan, hingga membantu menyelesaikan soal matematika dan membuat kode program. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam bisa diselesaikan jauh lebih cepat dengan bantuan teknologi tersebut.

Di satu sisi, kehadiran AI memberikan kemudahan dalam proses belajar. Mahasiswa dapat menggunakannya untuk memahami konsep yang sulit, mencari sudut pandang baru, dan mendapatkan penjelasan tambahan di luar kelas. Namun, ada tantangan yang mulai menjadi perhatian dosen dan perguruan tinggi: bagaimana memastikan tugas yang dikumpulkan benar-benar mencerminkan pemahaman mahasiswa?

Pertanyaan tersebut mendorong sejumlah dosen di Amerika Serikat untuk mengevaluasi kembali sistem penilaian yang selama ini digunakan. Tugas tertulis yang dikerjakan di rumah mulai dipadukan dengan ujian lisan, sesi tanya jawab langsung, presentasi, hingga diskusi tatap muka.

Salah satu contoh yang disorot adalah penggunaan ujian lisan di sejumlah perguruan tinggi, termasuk Cornell University, University of Pennsylvania, dan Massachusetts Institute of Technology (MIT). Pendekatan ini bukan berarti seluruh kampus tersebut menghapus tugas tertulis. Sebaliknya, sejumlah pengajar mulai mengombinasikan beberapa metode penilaian untuk mengetahui sejauh mana mahasiswa memahami materi yang dipelajari.

Lalu, kenapa ujian lisan kembali dilirik di tengah perkembangan AI? Apakah metode ini bisa menjadi solusi untuk menjaga kualitas pembelajaran di perguruan tinggi?

AI Bikin Dosen Meninjau Ulang Sistem Penilaian

Selama ini, tugas tertulis menjadi salah satu cara yang umum digunakan dosen untuk mengevaluasi pemahaman mahasiswa. Bentuknya beragam, mulai dari esai, laporan penelitian, makalah, latihan soal, hingga proyek kelompok.

Melalui tugas tersebut, mahasiswa diharapkan dapat menerapkan teori yang sudah dipelajari, menyusun argumen, menganalisis masalah, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Dosen kemudian menilai hasil pekerjaan berdasarkan ketepatan isi, kualitas analisis, struktur penulisan, dan kriteria lain yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Namun, perkembangan AI generatif membuat proses tersebut menjadi lebih kompleks. Berbagai alat AI kini mampu menghasilkan tulisan yang terstruktur, menjawab pertanyaan akademik, dan menyelesaikan sejumlah soal dalam waktu singkat. Hasilnya bahkan dapat terlihat rapi meskipun mahasiswa belum tentu memahami seluruh isi jawaban tersebut.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi dosen. Ketika mahasiswa mengumpulkan tugas yang terlihat sempurna, dosen bisa kesulitan mengetahui apakah hasil tersebut berasal dari pemahaman mahasiswa sendiri, bantuan AI yang digunakan secara tepat, atau penggunaan AI yang menggantikan hampir seluruh proses pengerjaan.

Dalam pemberitaan detikEdu pada 1 November 2026, profesor matematika University of California, Berkeley, Richards Borcherds, menyoroti bahwa AI kini mampu menyelesaikan banyak persoalan matematika tingkat sarjana. Hal ini membuat tugas tertulis semakin sulit dijadikan satu-satunya bukti bahwa mahasiswa benar-benar memahami materi.

Persoalannya bukan sekadar apakah mahasiswa menggunakan AI. Hal yang lebih penting adalah apakah mereka tetap memahami proses, konsep, dan alasan di balik jawaban yang dikumpulkan.

Misalnya, seorang mahasiswa berhasil menyelesaikan soal statistika dengan bantuan AI. Jawaban akhirnya mungkin benar, tetapi apakah mahasiswa tersebut memahami rumus yang digunakan? Bisakah ia menjelaskan alasan memilih metode tertentu? Apakah ia mampu mengenali kesalahan jika hasil perhitungannya tidak sesuai dengan kondisi soal?

Pertanyaan seperti inilah yang mendorong dosen untuk mencari cara penilaian yang dapat memperlihatkan proses berpikir mahasiswa, bukan hanya hasil akhirnya.

Mengapa Ujian Lisan Mulai Dilirik?

Salah satu metode yang mulai digunakan adalah ujian lisan atau oral assessment. Dalam metode ini, mahasiswa diminta menjelaskan pemahamannya secara langsung melalui percakapan, presentasi, atau sesi tanya jawab bersama dosen.

Berbeda dengan tugas tertulis yang bisa dikerjakan dalam waktu panjang, ujian lisan memungkinkan dosen mengajukan pertanyaan lanjutan berdasarkan jawaban mahasiswa. Dosen dapat meminta mahasiswa menjelaskan suatu konsep dengan bahasanya sendiri, memberikan contoh, atau menerangkan alasan di balik keputusan yang diambil.

Sebagai contoh, mahasiswa yang mengumpulkan makalah tentang kebijakan ekonomi bisa diminta menjelaskan mengapa kebijakan tersebut dipilih, data apa yang mendukung argumennya, serta bagaimana kesimpulannya dapat berubah jika kondisi ekonomi berbeda.

Dari jawaban tersebut, dosen bisa mendapatkan gambaran tambahan mengenai pemahaman mahasiswa. Jika ada bagian yang belum jelas, dosen dapat langsung mengajukan pertanyaan lanjutan untuk mengetahui sejauh mana mahasiswa memahami topik yang dibahas.

Metode ini juga dapat diterapkan pada bidang sains, teknik, matematika, dan teknologi. Mahasiswa tidak hanya diminta menunjukkan jawaban akhir, tetapi juga menerangkan tahapan penyelesaian, asumsi yang digunakan, dan alasan memilih metode tertentu.

Meski demikian, ujian lisan bukan berarti mahasiswa harus menghafal seluruh materi dan menjawab setiap pertanyaan tanpa kesalahan. Tujuannya adalah memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menunjukkan pemahaman, cara berpikir, serta kemampuannya menerapkan konsep yang telah dipelajari.

Contoh Penerapan Ujian Lisan di Kampus Amerika Serikat

Sejumlah perguruan tinggi di Amerika Serikat mulai menggabungkan ujian lisan dengan metode penilaian lain. Penerapannya tidak selalu sama karena setiap dosen memiliki kebutuhan dan tujuan pembelajaran yang berbeda.

1. Cornell University: Mahasiswa Diminta Menjelaskan Proses Pengerjaan

Di Cornell University, profesor teknik biomedis Chris Schaffer menerapkan metode yang disebut oral defense untuk melengkapi tugas tertulis mahasiswa.

Dalam metode tersebut, mahasiswa mengerjakan soal atau tugas terlebih dahulu, kemudian mengikuti sesi tanya jawab bersama pengajar. Mereka diminta menjelaskan proses penyelesaian dan menunjukkan pemahaman terhadap materi yang sudah dikerjakan.

Sesi ini memberi kesempatan kepada dosen untuk menggali pemahaman mahasiswa secara lebih mendalam. Mahasiswa tidak cukup hanya menunjukkan jawaban akhir, tetapi juga perlu memahami alasan dan langkah yang digunakan untuk memperoleh jawaban tersebut.

Pendekatan serupa juga dapat diterapkan pada bidang lain. Mahasiswa yang menyusun laporan penelitian, misalnya, bisa diminta menjelaskan alasan memilih metode penelitian, sumber data yang digunakan, dan bagaimana kesimpulan diperoleh.

Melalui cara ini, penilaian dapat mencakup lebih dari sekadar kualitas dokumen yang dikumpulkan.

2. University of Pennsylvania: Menggabungkan Makalah dan Ujian Lisan

Di University of Pennsylvania, profesor madya Emily Hammer menggabungkan ujian lisan dengan makalah tertulis dalam kelas seminarnya.

Kombinasi tersebut memungkinkan dosen menilai dua hal sekaligus. Makalah menunjukkan kemampuan mahasiswa menyusun tulisan dan mengembangkan argumen, sedangkan ujian lisan membantu dosen mengetahui bagaimana mahasiswa memahami serta mempertahankan argumen tersebut.

Pendekatan ini juga berkaitan dengan kekhawatiran bahwa penggunaan AI yang berlebihan dapat mengurangi kesempatan mahasiswa melatih kemampuan berpikir, kreativitas, dan penyelesaian masalah secara mandiri.

Ketika mahasiswa menulis makalah, proses menyusun argumen, memeriksa bukti, dan mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda merupakan bagian penting dari pembelajaran. Jika seluruh proses tersebut diserahkan kepada AI tanpa keterlibatan intelektual mahasiswa, hasil akhirnya mungkin terlihat baik, tetapi kesempatan untuk mengembangkan keterampilan tersebut menjadi berkurang.

Karena itu, ujian lisan dapat menjadi salah satu cara untuk melengkapi penilaian tertulis, bukan sekadar menggantikannya.

3. MIT: Penilaian Perlu Menyesuaikan Perkembangan AI

Massachusetts Institute of Technology (MIT) juga menyoroti perlunya penyesuaian metode pengajaran dan penilaian di tengah perkembangan AI.

Dalam laporan tahunan 2026 mengenai penggunaan AI dalam pengajaran, pembelajaran, dan pelatihan penelitian, komite terkait mendorong pengajar untuk meninjau kembali pendekatan pembelajaran yang digunakan. Tujuannya adalah memastikan proses penilaian tetap dapat mengukur kompetensi mahasiswa meskipun AI semakin mampu menghasilkan berbagai bentuk pekerjaan akademik.

Penyesuaian tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk diskusi langsung, penilaian lisan, portofolio, atau tugas yang memperlihatkan proses pengerjaan mahasiswa.

MIT juga tidak serta-merta menetapkan satu metode penilaian yang wajib digunakan oleh semua kelas. Kebijakan penggunaan AI dan bentuk penilaian dapat disesuaikan dengan karakteristik mata kuliah serta tujuan pembelajarannya.

Hal ini menunjukkan bahwa tantangan AI dalam pendidikan tinggi tidak cukup diatasi hanya dengan melarang teknologi. Perguruan tinggi juga perlu merancang pengalaman belajar dan metode penilaian yang tetap relevan dengan kompetensi yang ingin dikembangkan.

Ujian Lisan Bukan Berarti Semua Tugas Tertulis Dihapus

Munculnya ujian lisan mungkin membuat sebagian mahasiswa berpikir bahwa tugas makalah, esai, atau laporan akan segera ditinggalkan. Padahal, perubahan yang terjadi lebih tepat dipahami sebagai upaya mengombinasikan metode penilaian, bukan menghapus seluruh tugas tertulis.

Tugas tertulis tetap memiliki fungsi penting. Melalui tulisan, mahasiswa belajar menyusun gagasan secara sistematis, mengolah informasi, menggunakan bukti, mengembangkan argumen, dan menyampaikan hasil analisis dengan jelas.

Sementara itu, ujian lisan memberikan kesempatan untuk melihat pemahaman mahasiswa melalui penjelasan langsung dan pertanyaan lanjutan. Kedua metode tersebut memiliki kelebihan yang berbeda sehingga dapat saling melengkapi.

Misalnya, mahasiswa yang mengerjakan penelitian dapat dinilai melalui laporan tertulis sekaligus presentasi atau sesi tanya jawab. Laporan menunjukkan kualitas penelitian yang dihasilkan, sedangkan diskusi membantu dosen memahami alasan pemilihan metode, keterbatasan penelitian, dan kemampuan mahasiswa menjelaskan hasilnya.

Dengan menggabungkan beberapa metode, dosen dapat memperoleh gambaran pembelajaran yang lebih menyeluruh. Namun, desain penilaian tetap harus disesuaikan dengan tujuan mata kuliah, jumlah mahasiswa, dan sumber daya pengajar.

Apa Kelebihan Ujian Lisan bagi Mahasiswa?

Ujian lisan bukan hanya bermanfaat untuk membantu dosen menilai pemahaman mahasiswa. Jika dirancang dengan baik, metode ini juga dapat membantu mahasiswa mengembangkan sejumlah keterampilan yang berguna selama kuliah maupun ketika memasuki dunia kerja.

1. Melatih Pemahaman Materi Secara Mendalam

Saat menghadapi ujian lisan, mahasiswa perlu menjelaskan materi dengan kata-kata sendiri. Mereka gak cukup hanya menyalin definisi atau menghafal jawaban yang sudah disiapkan.

Proses menjelaskan tersebut dapat membantu mahasiswa mengenali bagian materi yang benar-benar dipahami dan bagian yang masih membingungkan.

Contohnya, mahasiswa yang mempelajari teori ekonomi perlu mampu menjelaskan bagaimana teori tersebut bekerja dalam suatu situasi. Jika hanya menghafal definisi, mahasiswa mungkin akan kesulitan ketika dosen mengubah contoh kasus atau mengajukan pertanyaan yang berbeda dari latihan sebelumnya.

2. Mengembangkan Kemampuan Berkomunikasi

Kemampuan memahami materi perlu diimbangi dengan kemampuan menyampaikannya. Dalam ujian lisan, mahasiswa belajar mengatur penjelasan, memilih kata yang tepat, dan menyampaikan jawaban secara terstruktur.

Keterampilan tersebut dapat berguna ketika mahasiswa mengikuti presentasi kelompok, wawancara magang, diskusi akademik, atau rapat organisasi.

Di dunia kerja, seseorang sering kali perlu menjelaskan hasil analisis kepada orang yang memiliki latar belakang berbeda. Karena itu, kemampuan menyampaikan gagasan dengan jelas merupakan keterampilan yang layak dilatih sejak kuliah.

3. Mendorong Mahasiswa Berpikir Kritis

Pertanyaan lanjutan dari dosen dapat mendorong mahasiswa mempertimbangkan alasan di balik jawaban yang diberikan.

Mahasiswa mungkin diminta menjelaskan mengapa memilih metode tertentu, mempertimbangkan alternatif, atau menilai kelemahan suatu argumen. Proses tersebut dapat membantu melatih kemampuan berpikir kritis dan mengevaluasi informasi.

Namun, manfaat ini gak muncul secara otomatis hanya karena penilaian dilakukan secara lisan. Kualitas pertanyaan, suasana ujian, dan cara dosen memberikan umpan balik juga memengaruhi pengalaman belajar mahasiswa.

4. Memberikan Umpan Balik Secara Langsung

Dalam sesi tanya jawab, dosen dapat mengetahui bagian yang sudah dipahami mahasiswa dan bagian yang masih perlu diperbaiki.

Mahasiswa pun memiliki kesempatan untuk meminta penjelasan tambahan atau memperjelas jawaban yang belum lengkap. Jika dilakukan dengan pendekatan yang mendukung pembelajaran, interaksi ini dapat membantu mahasiswa memahami kesalahan dan memperbaiki cara berpikirnya.

Dengan demikian, ujian lisan tidak harus dipandang semata-mata sebagai momen untuk mendapatkan nilai. Metode ini juga bisa menjadi kesempatan untuk berdiskusi dan memperdalam pemahaman.

Apa Tantangan Ujian Lisan?

Walaupun memiliki sejumlah kelebihan, ujian lisan juga bukan metode yang sempurna. Penerapannya perlu dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan mahasiswa dan keterbatasan pengajar.

Pertama, ujian lisan dapat menimbulkan kecemasan. Sebagian mahasiswa mungkin merasa gugup ketika harus menjawab pertanyaan secara langsung. Rasa gugup dapat membuat mereka kesulitan menyampaikan jawaban, meskipun sebenarnya memahami materi.

Karena itu, dosen perlu menjelaskan format ujian, kriteria penilaian, dan jenis pertanyaan yang mungkin diberikan sejak awal. Suasana yang mendukung juga dapat membantu mahasiswa menunjukkan pemahaman dengan lebih baik.

Kedua, pelaksanaan ujian membutuhkan waktu. Jika satu kelas terdiri atas puluhan atau ratusan mahasiswa, dosen perlu menyediakan waktu untuk menilai setiap orang. Hal ini dapat menjadi tantangan, terutama pada mata kuliah dengan jumlah peserta yang besar.

Pengajar dapat mempertimbangkan sesi singkat, ujian kelompok dengan komponen individual, atau kombinasi ujian lisan dan penilaian tertulis sesuai kebutuhan.

Ketiga, penilaian harus memiliki kriteria yang jelas. Tanpa rubrik yang terstruktur, penilaian lisan berisiko terlalu bergantung pada persepsi penguji. Karena itu, aspek yang dinilai sebaiknya ditentukan sejak awal, misalnya ketepatan konsep, kualitas penalaran, penggunaan bukti, dan kemampuan menjelaskan jawaban.

Keempat, kemampuan berbicara bukan satu-satunya ukuran pemahaman. Mahasiswa yang lancar berbicara belum tentu memiliki pemahaman paling mendalam. Sebaliknya, mahasiswa yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyusun jawaban belum tentu gak menguasai materi.

Oleh karena itu, ujian lisan sebaiknya digunakan sesuai tujuan pembelajaran dan, bila perlu, dikombinasikan dengan metode lain. Penilaian yang adil perlu memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menunjukkan kompetensinya melalui cara yang relevan dengan materi.

Apakah AI Masih Boleh Digunakan untuk Belajar?

Perubahan metode penilaian bukan berarti AI harus selalu dihindari. Teknologi ini tetap dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar, selama penggunaannya mengikuti aturan dosen dan kebijakan akademik yang berlaku.

Mahasiswa bisa menggunakan AI untuk meminta penjelasan tambahan mengenai konsep yang belum dipahami, membuat contoh soal latihan, atau membandingkan beberapa pendekatan penyelesaian masalah. AI juga dapat membantu menyusun pertanyaan untuk menguji pemahaman sebelum ujian.

Namun, jawaban yang dihasilkan AI tetap perlu diperiksa. Informasi yang terlihat meyakinkan belum tentu benar, dan penjelasan yang tepat secara umum belum tentu sesuai dengan konteks soal atau materi kuliah tertentu.

Mahasiswa juga perlu membedakan penggunaan AI sebagai alat bantu belajar dengan penggunaan AI untuk menggantikan seluruh proses berpikir. Jika AI menyelesaikan tugas, mahasiswa tetap perlu memahami hasilnya, memeriksa ketepatannya, dan mengikuti aturan tentang pengungkapan penggunaan AI.

Kebijakan setiap dosen dapat berbeda. Ada tugas yang memperbolehkan AI untuk membantu mencari ide atau memperbaiki bahasa, sementara tugas lain mungkin mewajibkan pengerjaan secara mandiri. Karena itu, mahasiswa perlu membaca instruksi tugas dan bertanya kepada dosen jika aturan penggunaannya belum jelas.

Di Indonesia, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi juga menyoroti pentingnya pemanfaatan AI generatif secara bertanggung jawab di perguruan tinggi. Pemanfaatannya perlu diimbangi dengan integritas akademik, verifikasi informasi, perlindungan data, dan pengembangan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.

Artinya, tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan tugas yang terlihat bagus, tetapi juga memastikan mahasiswa memperoleh kompetensi yang dibutuhkan untuk memahami dan menerapkan pengetahuan.

Apa yang Bisa Dipelajari Mahasiswa Indonesia dari Perubahan Ini?

Perubahan metode penilaian di sejumlah kampus Amerika Serikat bisa menjadi pengingat bahwa kebiasaan belajar perlu menyesuaikan perkembangan teknologi.

Pertama, jangan hanya berfokus pada hasil akhir tugas. Saat mengerjakan makalah atau laporan, pastikan kamu memahami alasan memilih topik, sumber yang digunakan, metode analisis, dan kesimpulan yang ditarik.

Kedua, biasakan menjelaskan materi dengan kata-kata sendiri. Setelah membaca satu bab atau menyelesaikan latihan soal, coba jelaskan kembali konsepnya tanpa melihat catatan. Jika belum bisa menjelaskan alasan di balik suatu jawaban, tandai bagian tersebut untuk dipelajari lagi.

Ketiga, gunakan AI untuk menguji pemahaman, bukan hanya menghasilkan jawaban. Kamu bisa meminta AI membuat pertanyaan latihan, memberikan contoh kasus, atau mengajukan pertanyaan lanjutan mengenai materi. Setelah itu, periksa kembali jawaban dan penjelasannya menggunakan buku kuliah atau sumber tepercaya.

Keempat, simpan proses pengerjaan tugas. Catatan, kerangka tulisan, sumber referensi, dan tahapan revisi dapat membantu kamu memahami perkembangan pekerjaan sendiri. Dokumentasi proses juga memudahkan ketika dosen meminta penjelasan mengenai cara tugas disusun.

Terakhir, tetap latih kemampuan komunikasi. Cobalah berdiskusi dengan teman, mengikuti presentasi kelompok, atau menjelaskan materi yang dipelajari. Kemampuan menyampaikan gagasan secara jelas akan bermanfaat, baik dalam penilaian akademik maupun kehidupan profesional.

Kesimpulan

Perkembangan AI generatif membuat sejumlah dosen di Amerika Serikat meninjau ulang cara menilai tugas mahasiswa. Ujian lisan, sesi tanya jawab, presentasi, dan diskusi langsung mulai digunakan untuk melengkapi tugas tertulis agar pengajar dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai pemahaman mahasiswa.

Cornell University, University of Pennsylvania, dan MIT menjadi contoh perguruan tinggi yang menyoroti atau menerapkan penyesuaian metode penilaian sesuai kebutuhan pembelajaran. Meski begitu, perubahan tersebut bukan berarti semua tugas tertulis dihapus atau seluruh mahasiswa dilarang menggunakan AI.

Ujian lisan memiliki potensi untuk melatih pemahaman, komunikasi, dan penalaran. Namun, metode ini juga memiliki tantangan, seperti kecemasan mahasiswa, kebutuhan waktu, dan pentingnya kriteria penilaian yang adil. Karena itu, penerapannya perlu dirancang secara matang dan disesuaikan dengan tujuan mata kuliah.

Bagi mahasiswa, hal terpenting bukan sekadar menghasilkan tugas yang terlihat sempurna, melainkan memahami isi pekerjaan dan mampu menjelaskan proses berpikir di baliknya. AI bisa menjadi alat bantu belajar yang berguna, tetapi pemahaman, sikap kritis, dan tanggung jawab akademik tetap perlu dikembangkan oleh mahasiswa sendiri.

Sumber:
https://www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d-8732809/gara-gara-ai-kampus-di-as-ubah-sistem-penilaian-tugas-mahasiswa-jadi-lewat-lisan

Penulis:
Ananda Khaerunisa

Editor:
Ramadhan Candra Wijayanti S.Psi.