Penggunaan AI di Dunia Pendidikan: Membantu Belajar atau Bikin Ketergantungan?

Penggunaan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan semakin sering ditemukan dalam dunia pendidikan. Mulai dari mencari ide tugas, merangkum materi, menjawab pertanyaan, sampai membantu menyusun tulisan, semuanya bisa dilakukan dengan bantuan AI. Teknologi ini memang menawarkan kemudahan, terutama bagi siswa dan mahasiswa yang memiliki banyak tugas.

Namun, di balik kemudahannya, muncul pertanyaan penting: apakah penggunaan AI benar-benar membantu proses belajar atau justru membuat pelajar semakin bergantung pada teknologi? Isu ini dibahas dalam laporan detikEdu yang menelusuri berbagai faktor di balik meningkatnya penggunaan AI di lingkungan pendidikan Indonesia.

Kenapa Penggunaan AI di Dunia Pendidikan Semakin Marak?

Ada beberapa faktor yang ikut mendorong penggunaan AI dalam kegiatan belajar. Fenomena ini bukan hanya berkaitan dengan kecanggihan teknologi, tetapi juga perubahan kebiasaan dan cara masyarakat memandang kemajuan digital.

1. Perkembangan Digitalisasi Pendidikan

Perkembangan teknologi digital membuat kegiatan belajar semakin terhubung dengan perangkat dan layanan berbasis internet. Komputer, laptop, platform pembelajaran, dan berbagai aplikasi digital kini menjadi bagian dari aktivitas pendidikan.

Kehadiran AI menjadi salah satu tahap perkembangan berikutnya. Teknologi ini memungkinkan pengguna mencari informasi, mengolah teks, dan mendapatkan bantuan untuk memahami materi dengan lebih cepat.

Meski begitu, kemudahan mengakses teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan memeriksa informasi dan memahami materi secara mandiri. Jawaban yang dihasilkan AI belum tentu selalu benar atau sesuai dengan kebutuhan tugas.

2. Pengaruh Bisnis Industri AI

Dalam laporan detikEdu, pengamat pendidikan Ki Darmaningtyas menyoroti peran industri AI dalam mendorong masyarakat menggunakan teknologi tersebut.

Perusahaan teknologi memiliki kepentingan bisnis untuk memperluas penggunaan produk mereka. Promosi dan perkembangan layanan AI pun dapat membentuk pandangan bahwa penggunaan AI merupakan bagian dari kemajuan zaman.

Akibatnya, muncul anggapan bahwa seseorang harus menggunakan AI agar terlihat modern dan mengikuti perkembangan teknologi. Padahal, manfaat suatu teknologi seharusnya dinilai berdasarkan kebutuhan dan penggunaannya, bukan sekadar popularitasnya.

3. Mengikuti Tren dan Takut Ketinggalan

Selain faktor bisnis, tren sosial juga berpengaruh terhadap kebiasaan menggunakan AI. Ketika banyak teman menggunakan AI untuk mengerjakan tugas, seseorang bisa merasa perlu melakukan hal yang sama agar tidak dianggap tertinggal.

Fenomena ini mirip dengan fear of missing out (FOMO), yaitu perasaan takut ketinggalan tren atau pengalaman yang sedang ramai dilakukan orang lain.

Dalam konteks pendidikan, penggunaan AI akhirnya bisa dilakukan bukan karena benar-benar dibutuhkan, melainkan karena sudah menjadi kebiasaan di lingkungan sekitar.

Padahal, setiap pelajar memiliki kebutuhan belajar yang berbeda. Menggunakan AI hanya karena mengikuti tren belum tentu membuat proses belajar menjadi lebih efektif.

Apa Risiko Ketergantungan AI bagi Pelajar?

AI bisa membantu menyederhanakan sejumlah pekerjaan, tetapi penggunaannya tanpa kontrol juga dapat menimbulkan masalah.

1. Mengurangi Kebiasaan Berpikir Mandiri

Ketika setiap pertanyaan langsung diserahkan kepada AI, pelajar bisa kehilangan kesempatan untuk mencoba memahami persoalan dan menemukan jawabannya sendiri.

Padahal, proses mencari informasi, menyusun argumen, dan memperbaiki kesalahan merupakan bagian penting dari pembelajaran.

AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu untuk memahami materi, bukan sebagai pengganti seluruh proses berpikir.

2. Membuat Pelajar Terlalu Berfokus pada Hasil Instan

Salah satu kemudahan AI adalah menghasilkan jawaban dalam waktu singkat. Namun, jika pelajar hanya mengejar tugas selesai tanpa memahami isinya, tujuan pembelajaran bisa tidak tercapai.

Misalnya, kamu menggunakan AI untuk menyusun esai. Jika kamu hanya menyalin hasilnya tanpa membaca dan memahami argumennya, kamu mungkin kesulitan menjelaskan isi esai ketika ditanya oleh guru atau dosen.

Karena itu, hasil tugas bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Pemahaman terhadap materi juga penting.

3. Mengaburkan Batasan Etika Akademik

Penggunaan AI juga memunculkan pertanyaan mengenai kejujuran akademik. Apakah menggunakan AI untuk membantu tugas diperbolehkan? Bagaimana jika seluruh jawaban dibuat oleh AI dan langsung dikumpulkan sebagai pekerjaan sendiri?

Jawabannya bergantung pada aturan yang berlaku di sekolah, kampus, atau mata pelajaran yang bersangkutan. Penggunaan AI untuk mencari ide tentu berbeda dengan menyerahkan hasil buatan AI tanpa memahami isinya atau melanggar ketentuan tugas.

Supaya gak salah langkah, periksa aturan dari guru atau dosen, cantumkan penggunaan AI jika diwajibkan, dan pastikan pekerjaan yang dikumpulkan tetap mencerminkan pemahamanmu sendiri.

Bagaimana Cara Menggunakan AI secara Bijak untuk Belajar?

Bukan berarti AI harus dihindari sepenuhnya. Teknologi ini tetap bisa bermanfaat jika digunakan dengan tujuan yang jelas.

Berikut beberapa cara yang bisa kamu terapkan:

  • Gunakan AI untuk memahami materi. Jika ada konsep yang sulit dipahami, minta penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana.
  • Coba kerjakan soal terlebih dahulu. Setelah mencoba sendiri, gunakan AI untuk membandingkan langkah pengerjaan dan mencari tahu letak kesalahan.
  • Periksa kembali informasi yang diberikan. Cocokkan jawaban AI dengan buku pelajaran, sumber resmi, atau referensi tepercaya.
  • Jangan langsung menyalin jawaban. Baca, pahami, lalu susun kembali penjelasan berdasarkan pemahamanmu sendiri sesuai aturan tugas.
  • Tetap latih kemampuan berpikir kritis. Biasakan bertanya mengapa suatu jawaban benar, apa buktinya, dan apakah ada penjelasan lain yang lebih tepat.

Dengan cara tersebut, AI bisa menjadi teman belajar yang membantu, bukan alat yang membuatmu berhenti berusaha memahami materi.

Apakah Penggunaan AI dalam Pendidikan Perlu Diatur?

Meningkatnya penggunaan AI membuat aturan dan etika pemanfaatannya menjadi semakin penting. Sekolah dan perguruan tinggi perlu memberikan pedoman yang jelas agar siswa dan mahasiswa memahami penggunaan AI yang diperbolehkan serta batasan yang harus dipatuhi.

Dalam laporan detikEdu, dibahas pula Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial. Surat edaran tersebut menjadi salah satu pedoman etika AI di Indonesia, tetapi bukan aturan khusus yang secara otomatis mengatur seluruh bentuk pelanggaran akademik di sekolah dan perguruan tinggi.

Karena itu, ketentuan penggunaan AI dalam tugas tetap perlu memperhatikan kebijakan institusi pendidikan masing-masing. Kejelasan aturan dapat membantu pelajar memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab tanpa mengabaikan kejujuran akademik.

Kesimpulan

Meningkatnya penggunaan AI di dunia pendidikan dipengaruhi oleh perkembangan digitalisasi, kepentingan industri teknologi, dan tren sosial yang membuat masyarakat ingin terlihat mengikuti zaman. Di satu sisi, AI dapat membantu pelajar memahami materi dan menyelesaikan pekerjaan dengan lebih efisien. Namun, penggunaan yang tidak terkontrol juga berisiko mengurangi kebiasaan berpikir mandiri dan menimbulkan persoalan etika akademik.

Jadi, yang terpenting bukan sekadar menggunakan atau menghindari AI, melainkan memahami kapan teknologi ini diperlukan dan bagaimana menggunakannya secara tepat. Manfaatkan AI untuk mendukung proses belajar, tetapi jangan sampai kemudahan teknologi membuatmu melewatkan proses memahami, mencoba, dan berpikir kritis.

Sumber :
Menelisik Akar Masalah Penggunaan AI di Pendidikan: Digitalisasi hingga Tren

Penulis:
Ananda Khaerunisa

Editor:
Ramadhan Candra Wijayanti S.Psi.