Mau Kerja di Industri Film? Ini Jurusan Kuliah yang Relevan Selain Perfilman

Bekerja di industri film sering dikaitkan dengan profesi sutradara, aktor, atau penulis skenario. Padahal, produksi sebuah film melibatkan banyak bidang keahlian, mulai dari desain visual, musik, teknologi, komunikasi, hingga pengelolaan keuangan. Karena itu, tidak semua orang yang bekerja di industri film harus berasal dari jurusan Film dan Televisi.

Dalam sebuah produksi, ada tim yang merancang lokasi pengambilan gambar, membuat kostum, mengolah suara, menyusun anggaran, hingga menciptakan efek visual. Pekerjaan tersebut membutuhkan keterampilan yang juga dipelajari dalam berbagai program studi di perguruan tinggi.

Bagi siswa SMA yang tertarik bekerja di industri film tetapi tidak ingin mengambil jurusan perfilman, terdapat sejumlah pilihan jurusan lain yang relevan. Namun, setiap jurusan memiliki hubungan yang berbeda dengan proses produksi film, sehingga penting untuk memahami bidang pekerjaan yang ingin dituju.

Apakah Harus Kuliah Perfilman untuk Bekerja di Industri Film?

Jurusan Film dan Televisi memang menjadi salah satu jalur pendidikan yang paling langsung berkaitan dengan industri film. Mahasiswa mempelajari proses produksi audiovisual, mulai dari penulisan skenario, penyutradaraan, sinematografi, tata suara, tata artistik, hingga penyuntingan gambar.

Sebagai contoh, Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) memiliki peminatan produksi, penulisan skenario, penyutradaraan, tata kamera, tata artistik, tata suara, penyuntingan, dokumenter, dan kajian sinema. Pembagian tersebut menunjukkan bahwa produksi film membutuhkan banyak bidang keahlian dengan tanggung jawab yang berbeda.

Namun, keterampilan untuk mengisi pekerjaan tersebut tidak hanya dapat diperoleh melalui satu program studi. Industri film juga membutuhkan tenaga profesional dari bidang desain, seni pertunjukan, teknologi, bisnis, dan komunikasi.

Pedoman Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) SMK 2024 yang diterbitkan Pusat Prestasi Nasional menyebutkan bahwa industri film, televisi, dan multimedia memiliki lebih dari 150 bidang kerja. Keahlian tersebut mencakup penulisan skenario, sinematografi, tata suara, tata artistik, penyuntingan, hingga manajemen produksi.

Artinya, jurusan perfilman bukan satu-satunya pintu masuk ke industri ini. Meski demikian, lulusan jurusan lain tetap perlu mempelajari proses kerja produksi film dan mengembangkan keterampilan teknis yang sesuai dengan posisi yang dituju.

Jurusan Kuliah yang Relevan untuk Bekerja di Industri Film

Berikut beberapa jurusan selain perfilman yang memiliki keterkaitan dengan pekerjaan di industri film.

  1. Desain Komunikasi Visual (DKV)

Desain Komunikasi Visual atau DKV merupakan salah satu jurusan yang relevan dengan kebutuhan visual industri film. Mahasiswa DKV umumnya mempelajari prinsip desain, ilustrasi, tipografi, komunikasi visual, dan penggunaan perangkat digital untuk menghasilkan karya visual.

Dalam produksi film, keterampilan tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan konsep visual, membuat storyboard, merancang poster, hingga menghasilkan elemen grafis yang muncul dalam adegan. Storyboard sendiri merupakan rangkaian gambar yang membantu tim produksi memahami gambaran adegan sebelum proses pengambilan gambar dilakukan.

Lulusan DKV juga dapat mengembangkan karier sebagai motion graphic designer atau desainer grafis untuk kebutuhan promosi film. Pekerjaan tersebut berkaitan dengan pembuatan judul pembuka, materi promosi digital, dan animasi grafis.

Namun, kemampuan desain grafis tidak otomatis sama dengan keterampilan produksi film. Mahasiswa yang ingin bekerja di bidang ini perlu mempelajari bahasa visual sinema, alur produksi audiovisual, serta perangkat lunak yang digunakan sesuai spesialisasinya.

  1. Desain Interior

Jurusan Desain Interior memiliki hubungan dengan pekerjaan penataan ruang dan desain set dalam produksi film. Mahasiswa mempelajari perencanaan ruang, pencahayaan, material, warna, serta hubungan antara bentuk ruang dan aktivitas manusia.

Dalam industri film, keterampilan tersebut dapat digunakan pada bidang production design atau desain produksi. Tim artistik bertugas menciptakan lingkungan visual yang mendukung cerita, termasuk ruang tempat tokoh beraktivitas dan berbagai elemen yang terlihat dalam adegan.

Sebagai contoh, film yang berlatar tahun 1980-an membutuhkan desain ruang, furnitur, dan properti yang sesuai dengan periode cerita. Penataan tersebut tidak hanya bertujuan membuat lokasi terlihat menarik, tetapi juga membantu membangun suasana dan karakter tokoh.

Kajian yang diterbitkan dalam jurnal IMAJI Institut Kesenian Jakarta menjelaskan bahwa tata artistik mencakup unsur set, properti, kostum, tata rias, dan efek khusus. Karena itu, lulusan Desain Interior yang tertarik pada industri film dapat mengembangkan keterampilan tambahan dalam desain set, riset visual, dan penataan artistik.

  1. Desain Produk

Desain Produk juga dapat menjadi pilihan bagi calon mahasiswa yang tertarik pada proses pembuatan benda dan properti untuk film. Jurusan ini mempelajari proses perancangan produk, pemilihan material, pembuatan model, serta hubungan antara fungsi dan bentuk.

Dalam produksi film, properti memiliki peran penting untuk membangun dunia cerita. Benda yang digunakan tokoh, perlengkapan ruangan, hingga objek khusus yang dirancang untuk adegan tertentu dapat membutuhkan keterampilan perancangan dan pembuatan produk.

Sebagai contoh, film fiksi ilmiah mungkin membutuhkan perangkat futuristis yang tidak tersedia di pasaran. Tim properti dapat membuat rancangan, menentukan material, dan menghasilkan benda yang sesuai dengan kebutuhan adegan.

Lulusan Desain Produk dapat mengembangkan karier dalam bidang prop design, pembuatan model, atau pengembangan elemen artistik. Namun, pekerjaan tersebut membutuhkan pemahaman tambahan mengenai kebutuhan kamera, keselamatan produksi, dan kesesuaian properti dengan konsep cerita.

  1. Seni Musik

Musik merupakan salah satu unsur penting dalam membangun suasana film. Adegan yang sama dapat memberikan kesan berbeda ketika menggunakan komposisi musik yang berbeda. Karena itu, industri film membutuhkan tenaga profesional yang memahami komposisi dan pengolahan musik.

Mahasiswa jurusan Seni Musik dapat mempelajari teori musik, harmoni, komposisi, instrumen, serta praktik pertunjukan. Keterampilan tersebut dapat dikembangkan untuk pekerjaan seperti komposer musik film atau film score composer.

Komposer film bertugas menciptakan musik yang mendukung perkembangan cerita dan emosi penonton. Pekerjaan ini membutuhkan kemampuan memahami adegan, menentukan karakter musik, serta berkoordinasi dengan sutradara dan tim suara.

Di IKJ, film scoring bahkan tercantum sebagai salah satu peminatan yang berkaitan dengan pendidikan film. Hal tersebut memperlihatkan bahwa musik bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian dari proses kreatif produksi audiovisual.

Meski demikian, mahasiswa Seni Musik yang ingin memasuki industri film perlu mempelajari sinkronisasi musik dengan gambar, perangkat produksi audio digital, dan proses kerja pascaproduksi.

  1. Teknik Elektro

Teknik Elektro mungkin tidak langsung terpikir ketika membahas industri film. Padahal, produksi audiovisual menggunakan berbagai perangkat elektronik yang membutuhkan pemahaman mengenai sinyal, sistem audio, kelistrikan, dan teknologi digital.

Mahasiswa Teknik Elektro mempelajari dasar kelistrikan, elektronika, sistem sinyal, serta bidang lain sesuai peminatan program studi. Pengetahuan tersebut dapat menjadi dasar untuk mengembangkan keterampilan teknis dalam sistem perekaman dan pengolahan suara.

Salah satu pekerjaan yang berkaitan adalah teknisi audio atau tenaga pendukung sistem suara. Dalam produksi film, tim suara harus memastikan dialog dan suara lingkungan dapat direkam dengan kualitas yang sesuai kebutuhan.

Pedoman capaian pembelajaran Produksi Film untuk SMK yang diterbitkan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan juga menjelaskan pentingnya pengoperasian perangkat perekam suara, penempatan mikrofon, serta penanganan gangguan audio.

Namun, lulusan Teknik Elektro tidak otomatis menjadi sound designer. Pekerjaan desain suara membutuhkan kemampuan kreatif dan penguasaan perangkat produksi audio, sedangkan bidang teknik lebih berkaitan dengan pemahaman sistem dan perangkat. Keduanya dapat saling mendukung dalam produksi film.

  1. Informatika dan Ilmu Komputer

Perkembangan teknologi digital membuat produksi film semakin berkaitan dengan komputasi. Berbagai pekerjaan pascaproduksi menggunakan perangkat lunak untuk menghasilkan animasi, efek visual, pengolahan gambar, dan simulasi digital.

Mahasiswa Informatika atau Ilmu Komputer mempelajari pemrograman, algoritma, struktur data, serta teknologi komputasi. Pengetahuan tersebut dapat dikembangkan untuk pekerjaan teknis dalam bidang visual effects (VFX), pengembangan perangkat produksi, atau pengolahan gambar berbasis komputer.

Sebagai contoh, film yang menampilkan lingkungan digital kompleks dapat membutuhkan simulasi gerakan, pengolahan data visual, dan sistem komputasi untuk menghasilkan efek tertentu. Pada proyek berskala besar, pekerjaan tersebut dapat melibatkan tenaga dengan keahlian pemrograman dan grafika komputer.

Namun, perlu dibedakan antara seniman VFX dan pengembang teknologi VFX. Seniman VFX lebih berfokus pada hasil visual, sedangkan tenaga teknis dapat mengembangkan perangkat, sistem, atau alur kerja yang mendukung pembuatannya.

Karena itu, mahasiswa Informatika yang tertarik pada industri film sebaiknya mempelajari grafika komputer, pemrograman visual, dan perangkat lunak produksi digital. Penguasaan bahasa pemrograman saja belum cukup tanpa memahami kebutuhan pekerjaan audiovisual.

  1. Ilmu Komunikasi

Ilmu Komunikasi memiliki keterkaitan dengan berbagai kegiatan di industri film, terutama pada bidang produksi media, publikasi, hubungan masyarakat, dan pemasaran.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi umumnya mempelajari teori komunikasi, media, perilaku audiens, strategi pesan, serta komunikasi organisasi. Pada sejumlah perguruan tinggi, program studi ini juga memiliki peminatan yang berkaitan dengan penyiaran dan produksi media.

Dalam industri film, lulusan Ilmu Komunikasi dapat mengembangkan karier pada bidang public relations, publikasi, promosi, atau koordinasi komunikasi produksi. Tim pemasaran film, misalnya, perlu merancang strategi untuk memperkenalkan karya kepada calon penonton.

Pekerjaan tersebut dapat mencakup penyusunan materi promosi, pengelolaan media sosial, hubungan dengan media, dan pelaksanaan kegiatan peluncuran film. Keberhasilan sebuah produksi tidak hanya ditentukan oleh kualitas film, tetapi juga bagaimana informasi mengenai film disampaikan kepada publik.

Meski demikian, mahasiswa Ilmu Komunikasi yang ingin bekerja di bidang ini perlu mengembangkan kemampuan pemasaran digital, analisis audiens, dan pengelolaan kampanye. Kompetensi tersebut tidak selalu diperoleh secara mendalam dari seluruh kurikulum Ilmu Komunikasi.

  1. Sastra Indonesia

Film membutuhkan cerita yang dikembangkan melalui karakter, konflik, dialog, dan struktur naratif. Karena itu, kemampuan memahami bahasa dan membangun cerita menjadi bagian penting dalam proses penulisan skenario.

Mahasiswa Sastra Indonesia mempelajari bahasa, sastra, analisis teks, serta berbagai bentuk karya naratif. Kompetensi tersebut dapat menjadi dasar bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan kemampuan menulis cerita untuk film.

Namun, menulis cerpen atau novel berbeda dari menulis skenario. Skenario film harus mempertimbangkan tindakan tokoh, dialog, struktur adegan, serta bagaimana cerita dapat diwujudkan melalui gambar dan suara.

Lulusan Sastra Indonesia yang tertarik pada industri film dapat mengembangkan karier sebagai penulis skenario, pengembang cerita, atau script editor. Pekerjaan tersebut membutuhkan latihan khusus dalam penulisan skenario dan pemahaman struktur dramatik audiovisual.

Portofolio berupa skenario film pendek atau proyek penulisan bersama dapat menjadi salah satu cara menunjukkan kemampuan. Dalam proses rekrutmen kreatif, hasil karya sering menjadi bukti keterampilan yang lebih konkret daripada sekadar menyebutkan minat menulis.

  1. Seni Teater

Jurusan Seni Teater memiliki hubungan erat dengan seni pertunjukan dan pengembangan karakter. Mahasiswa dapat mempelajari pemeranan, penyutradaraan panggung, dramaturgi, gerak tubuh, dan proses produksi pertunjukan.

Kompetensi tersebut relevan untuk pekerjaan di industri film yang berkaitan dengan akting dan pengarahan pemain. Seorang aktor tidak hanya dituntut menghafal dialog, tetapi juga memahami karakter, motivasi tokoh, serta hubungan antartokoh dalam cerita.

Selain menjadi aktor, lulusan Seni Teater dapat mengembangkan keterampilan sebagai pelatih akting atau pendukung proses pengarahan pemain. Namun, teknik akting panggung dan akting di depan kamera memiliki perbedaan, terutama dalam penggunaan ekspresi, gerakan, dan penyesuaian terhadap pengambilan gambar.

Karena itu, mahasiswa Seni Teater yang ingin bekerja di industri film perlu membiasakan diri dengan proses audisi, pengambilan gambar, dan kerja sama dengan tim produksi audiovisual. Pengalaman produksi film pendek dapat menjadi sarana untuk memahami perbedaan tersebut.

  1. Manajemen dan Akuntansi

Industri film tidak hanya membutuhkan tenaga kreatif. Setiap produksi juga memerlukan perencanaan anggaran, pengelolaan sumber daya, penjadwalan, administrasi, dan pengawasan biaya.

Mahasiswa Manajemen mempelajari perencanaan organisasi, pengelolaan operasional, pemasaran, dan pengambilan keputusan bisnis. Kompetensi tersebut dapat digunakan dalam bidang manajemen produksi, distribusi, atau pengelolaan perusahaan yang bergerak di industri audiovisual.

Sementara itu, mahasiswa Akuntansi memiliki dasar dalam pencatatan transaksi, penyusunan laporan keuangan, pengendalian biaya, dan pengelolaan anggaran. Dalam produksi film, keterampilan tersebut relevan untuk membantu memastikan pengeluaran dapat dipantau dan dipertanggungjawabkan.

Sebagai contoh, sebuah produksi harus memperhitungkan biaya sewa peralatan, lokasi, transportasi, konsumsi, honor tenaga kerja, dan kebutuhan pascaproduksi. Kesalahan pengelolaan anggaran dapat memengaruhi kelancaran produksi meskipun konsep kreatif telah disiapkan dengan baik.

Lulusan kedua jurusan ini dapat mengembangkan karier dalam administrasi produksi, koordinasi proyek, keuangan produksi, atau manajemen perusahaan film. Namun, mereka tetap perlu memahami karakteristik proyek audiovisual, termasuk jadwal syuting dan struktur kerja tim produksi.

Apakah Semua Jurusan Tersebut Bisa Langsung Bekerja di Industri Film?

Memiliki latar belakang pendidikan yang relevan tidak otomatis membuat seseorang memenuhi persyaratan seluruh pekerjaan di industri film. Setiap posisi membutuhkan kompetensi teknis dan pengalaman yang berbeda.

Sebagai contoh, lulusan DKV yang ingin bekerja sebagai storyboard artist perlu menunjukkan kemampuan menggambar adegan dan memahami bahasa visual film. Lulusan Seni Musik yang ingin menjadi komposer film perlu memiliki contoh karya musik yang disesuaikan dengan gambar. Sementara itu, lulusan Manajemen yang tertarik pada produksi film perlu memahami penyusunan anggaran dan jadwal proyek.

Hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara jurusan kuliah dan pekerjaan tidak selalu bersifat langsung. Program studi memberikan dasar keilmuan, sedangkan keterampilan khusus untuk industri film dapat dikembangkan melalui proyek, pelatihan, magang, dan pengalaman produksi.

Selain itu, beberapa pekerjaan memiliki jalur karier yang bertahap. Seseorang mungkin memulai sebagai asisten produksi, anggota tim artistik, atau tenaga pendukung pascaproduksi sebelum memperoleh tanggung jawab yang lebih besar.

Karena itu, calon mahasiswa sebaiknya tidak hanya memilih jurusan berdasarkan nama pekerjaan yang diinginkan. Mereka juga perlu memahami keterampilan yang dibutuhkan dan bagaimana keterampilan tersebut dapat dibangun selama masa kuliah.

Bagaimana Cara Mempersiapkan Karier di Industri Film Sejak Kuliah?

Salah satu cara mempersiapkan diri adalah membangun portofolio sesuai bidang pekerjaan yang diminati. Portofolio merupakan kumpulan hasil karya atau proyek yang menunjukkan kemampuan seseorang secara nyata.

Mahasiswa DKV dapat mengembangkan portofolio storyboard, ilustrasi, dan desain promosi film. Mahasiswa Seni Musik dapat membuat komposisi untuk film pendek, sedangkan mahasiswa Sastra Indonesia dapat menyusun skenario atau mengembangkan cerita audiovisual.

Bagi mahasiswa yang tertarik pada bidang teknis, proyek pengolahan audio, animasi digital, atau pengembangan perangkat lunak visual dapat menjadi pengalaman yang relevan. Sementara itu, mahasiswa Manajemen dan Akuntansi dapat mempelajari perencanaan anggaran serta pengelolaan produksi melalui kegiatan organisasi atau proyek kreatif.

Pengalaman bekerja dalam tim juga penting karena film merupakan hasil kolaborasi banyak bidang keahlian. Seorang desainer set harus berkoordinasi dengan sutradara dan penata kamera, sementara komposer perlu memahami kebutuhan cerita dan keputusan kreatif tim produksi.

Mahasiswa dapat memanfaatkan komunitas film kampus, produksi film pendek, festival mahasiswa, atau kegiatan magang untuk mengenal proses kerja industri. Pengalaman tersebut membantu mahasiswa memahami pembagian tugas sekaligus mengembangkan jaringan profesional.

Namun, keterlibatan dalam proyek tidak selalu harus dimulai dari produksi besar. Proyek sederhana yang diselesaikan dengan baik dan memiliki pembagian tanggung jawab jelas juga dapat menjadi sarana pembelajaran yang berguna.

Kesimpulan

Bekerja di industri film tidak selalu mengharuskan seseorang mengambil jurusan Film dan Televisi. Berbagai program studi seperti DKV, Desain Interior, Desain Produk, Seni Musik, Teknik Elektro, Informatika, Ilmu Komunikasi, Sastra Indonesia, Seni Teater, Manajemen, dan Akuntansi memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan produksi audiovisual.

Setiap jurusan membuka kemungkinan pekerjaan yang berbeda. Ada yang berkaitan dengan penciptaan visual, pengembangan cerita, pengolahan suara, teknologi digital, pemasaran, hingga pengelolaan anggaran. Namun, peluang tersebut tetap bergantung pada keterampilan khusus, pengalaman, dan kebutuhan proyek atau perusahaan.

Bagi siswa SMA yang tertarik bekerja di industri film, pertanyaan terpenting bukan hanya jurusan apa yang harus dipilih, tetapi bagian mana dari proses pembuatan film yang ingin ditekuni. Dengan memahami bidang pekerjaan sejak awal, calon mahasiswa dapat memilih program studi yang sesuai sekaligus membangun keterampilan dan portofolio yang dibutuhkan untuk memasuki industri.

Penulis:
Nayla Fadhlillah
Editor:
Ramadhan Candra Wijayanti S.Psi