Nilai TKA Bisa Makin Menentukan di SNBP 2027, Siswa Jangan Cuma Andalkan Rapor!
Siswa kelas 12 yang berencana masuk perguruan tinggi negeri melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2027 perlu memberikan perhatian lebih besar pada Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Pasalnya, nilai TKA tidak hanya menjadi persyaratan untuk mengikuti SNBP.
Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) membuka kemungkinan bobot TKA dalam SNBP 2027 ditingkatkan setelah dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaannya.
Artinya, strategi menghadapi SNBP tidak lagi cukup hanya berfokus pada nilai rapor dan prestasi.
Hasil TKA juga dapat semakin berpengaruh dalam membantu PTN membaca kemampuan akademik calon mahasiswa.
Namun, ada hal penting yang harus dibedakan: TKA dipastikan menjadi bagian dalam SNBP 2027, tetapi besarnya bobot TKA belum ditetapkan secara final.
TKA Tetap Wajib untuk SNBP 2027
Ketua MRPTNI Eduart Wolok menegaskan bahwa siswa yang ingin mengikuti SNBP 2027 wajib mengikuti TKA.
Kebijakan tersebut melanjutkan penggunaan TKA sebagai salah satu sumber informasi dalam seleksi berbasis prestasi. TKA digunakan terutama untuk membantu memvalidasi nilai rapor siswa.
Mengapa perlu divalidasi?
Karena nilai rapor berasal dari sekolah yang berbeda. Siswa dengan nilai Matematika 90 di sekolah A belum tentu mempunyai tingkat penguasaan materi yang persis sama dengan siswa yang memperoleh nilai 90 di sekolah B.
Standar penilaian, tingkat kesulitan soal, karakteristik siswa, hingga kebijakan masing-masing sekolah dapat berbeda. TKA memberikan satu asesmen terstandar yang dapat digunakan untuk melihat capaian akademik siswa dengan ukuran yang lebih seragam.
Nilai Rapor Tetap Digunakan
Munculnya TKA bukan berarti nilai rapor akan dihapus dari SNBP. SNBP tetap merupakan seleksi berbasis prestasi.
Nilai rapor masih menjadi salah satu sumber utama informasi akademik calon mahasiswa.
Dalam ketentuan SNBP sebelumnya, komponen nilai rata-rata rapor seluruh mata pelajaran mendapatkan bobot sedikitnya 50 persen.
Sementara komponen lainnya dapat berasal dari maksimal dua mata pelajaran pendukung program studi, portofolio, dan/atau prestasi, dengan komposisi yang ditentukan masing-masing PTN.
Untuk SNBP 2027, siswa tetap perlu menunggu ketentuan resmi SNPMB mengenai komposisi seleksi secara lengkap. Jadi, jangan menyimpulkan bahwa TKA akan menggantikan rapor.
Lebih tepat melihat keduanya sebagai informasi akademik yang dapat digunakan secara bersamaan dalam proses seleksi.
TKA Berfungsi sebagai Validator Rapor, Maksudnya Apa?
Ini bagian yang paling penting untuk dipahami.
Misalnya seorang siswa mempunyai nilai rapor Matematika yang sangat tinggi. Hasil TKA dapat memberikan informasi tambahan mengenai kemampuan siswa pada bidang tersebut melalui asesmen yang dilaksanakan dengan standar nasional.
Jika hasil TKA dan rapor relatif konsisten, keduanya dapat memberikan gambaran capaian akademik yang saling mendukung.
Sebaliknya, bagaimana jika perbedaannya sangat besar?
Kemendikdasmen menjelaskan bahwa jika terdapat perbedaan signifikan antara rapor dan hasil TKA, kondisi tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan panitia seleksi dalam melihat konsistensi capaian akademik siswa.
Karena itu, fungsi TKA bukan sekadar menghasilkan satu angka tambahan untuk dimasukkan ke sistem pendaftaran. TKA membantu PTN membaca nilai rapor dengan konteks yang lebih terstandar.
Kenapa TKA Bisa Semakin Penting pada 2027?
MRPTNI tidak menutup kemungkinan bobot TKA dalam SNBP 2027 ditingkatkan.
Menurut Eduart Wolok, kemungkinan tersebut masih akan melalui pembahasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan TKA.
Salah satu pertimbangannya berkaitan dengan fungsi TKA sebagai instrumen terstandar. PTN menerima pendaftar SNBP dari ribuan sekolah dengan karakteristik penilaian yang berbeda-beda.
Jika hanya membandingkan angka rapor secara langsung, PTN menghadapi tantangan karena nilai tersebut tidak seluruhnya berasal dari standar pengukuran yang sama.
TKA memberikan sumber data lain yang dapat digunakan untuk melihat kemampuan akademik calon mahasiswa.
Namun, sampai ketentuan resmi SNBP 2027 diumumkan, siswa jangan langsung menganggap TKA mempunyai persentase tertentu. Belum ada bobot final yang dapat digunakan untuk menghitung peluang lolos SNBP 2027.
Jangan Cuma Mengejar Nilai Rapor Tinggi
Selama ini SNBP sering diasosiasikan dengan “jalur nilai rapor”.
Anggapan tersebut sebenarnya terlalu sederhana.
Selain rapor, proses SNBP dapat mempertimbangkan mata pelajaran pendukung program studi, prestasi, portofolio untuk bidang tertentu, serta sekarang hasil TKA sebagai validator.
Dengan peran TKA yang semakin penting, siswa juga tidak cukup hanya memastikan angka di rapornya tinggi.
Pemahaman terhadap materi perlu benar-benar dikuasai. Sebab TKA menguji kemampuan akademik siswa melalui asesmen yang sama secara nasional.
Kondisi ini juga membuat proses belajar selama SMA menjadi penting.
Nilai rapor yang baik idealnya memang berasal dari penguasaan materi yang baik, sehingga ketika kemampuan tersebut diukur kembali melalui TKA, hasilnya tidak berbeda terlalu jauh.
Dua Mata Pelajaran Pilihan TKA Jangan Asal Pilih
Selain mata pelajaran wajib, peserta TKA jenjang SMA/MA/sederajat memilih dua mata pelajaran pilihan. Pemilihannya menjadi sangat penting bagi siswa yang berencana mengikuti SNBP 2027.
Kemendikdasmen menyarankan siswa memilih mata pelajaran yang sesuai dengan program studi tujuan. Acuannya dapat dilihat melalui ketentuan mengenai mata pelajaran pendukung program studi dalam SNBP.
Misalnya, siswa yang berencana memilih Farmasi perlu memperhatikan mata pelajaran yang berkaitan dengan bidang tersebut, seperti Kimia dan Biologi.
Masalah dapat muncul apabila siswa memilih mata pelajaran TKA yang tidak pernah atau tidak relevan dengan mata pelajaran yang dipelajari dalam rapornya.
Sebab TKA berfungsi sebagai validator. Apa yang ingin divalidasi idealnya memang mempunyai pasangan informasi dalam rekam akademik siswa.
Mau Lintas Jurusan? Harus Lebih Hati-hati
SNBP pada dasarnya tidak sekadar menggunakan pembagian lama IPA dan IPS untuk membatasi pilihan program studi.
Namun, kebebasan memilih program studi bukan berarti hubungan antara mata pelajaran yang dipelajari dan program studi tujuan menjadi tidak penting.
Contohnya, seorang siswa selama beberapa semester banyak mengambil mata pelajaran Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi.
Menjelang TKA, ia kemudian ingin masuk Farmasi dan baru memilih Kimia serta Biologi sebagai mata pelajaran TKA.
Situasi seperti ini perlu dipikirkan matang-matang. Jika TKA digunakan untuk memvalidasi capaian akademik yang tercatat dalam rapor, PTN juga perlu melihat informasi akademik yang relevan untuk dibandingkan.
Karena itu, siswa yang ingin lintas bidang perlu memahami hubungan antara mata pelajaran yang dipelajari di sekolah, mata pelajaran TKA yang dipilih, dan program studi yang dituju.
Pilihan Mapel TKA Bisa Berkaitan dengan Prodi Tujuan
TKA menyediakan berbagai mata pelajaran pilihan untuk jenjang SMA/MA/sederajat.
Di antaranya terdapat Matematika Tingkat Lanjut, Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut, Bahasa Inggris Tingkat Lanjut, Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, Geografi, Sosiologi, Sejarah, Antropologi, PPKn, serta sejumlah bahasa asing.
Siswa memilih dua mata pelajaran sesuai ketentuan..Namun, keputusan tersebut sebaiknya tidak dibuat berdasarkan pertanyaan:
“Mapel mana yang paling gampang dapat nilai tinggi?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Mapel apa yang relevan dengan program studi yang ingin aku pilih dan memang sudah aku pelajari?”
Sebab nilai tinggi pada mata pelajaran yang tidak relevan belum tentu memberikan informasi akademik yang dibutuhkan untuk program studi tujuan.
TKA 2026 Menggunakan Skala Nilai 200–800
Ada perubahan lain pada TKA 2026.
Pelaporan hasil TKA untuk jenjang SMA/MA/sederajat dan SMK/MAK menggunakan skala 200–800.
Jadi, siswa jangan membandingkan angka TKA dengan nilai rapor secara mentah.
Nilai rapor yang menggunakan skala 0–100 dan skor TKA 200–800 merupakan dua bentuk pengukuran yang berbeda. Hasil TKA nantinya tercantum dalam Sertifikat Hasil TKA (SHTKA).
Untuk SNBP, data nilai TKA juga tidak perlu dimasukkan secara manual oleh sekolah satu per satu. Dalam mekanisme sebelumnya, data TKA dapat ditarik melalui integrasi sistem berdasarkan NISN siswa.
Kalau Nilai TKA Rendah, Apakah Otomatis Gagal SNBP?
Tidak bisa disimpulkan seperti itu. SNBP bukan seleksi yang hanya menggunakan satu nilai.
Rapor, mata pelajaran pendukung, prestasi, portofolio untuk program tertentu, serta ketentuan PTN tetap perlu diperhitungkan sesuai aturan SNBP 2027 yang nantinya ditetapkan.
Selain itu, belum ada bobot final TKA untuk SNBP 2027 yang dapat digunakan untuk membuat rumus sederhana seperti:
nilai rapor + nilai TKA = pasti lolos atau gagal.
Seleksi juga terjadi pada program studi yang dipilih.
Dua siswa dengan profil akademik serupa dapat menghadapi tingkat persaingan berbeda ketika memilih program studi yang berbeda. Karena itu, nilai TKA sebaiknya dipahami sebagai salah satu bagian dari profil akademik siswa, bukan satu-satunya penentu kelulusan.
Sebaliknya, TKA Tinggi Juga Tidak Menjamin Lolos
Hal yang sama berlaku bagi siswa dengan skor TKA tinggi.
Skor TKA yang bagus tidak otomatis memberikan tiket masuk PTN melalui SNBP. SNBP tetap mempertimbangkan rekam prestasi selama sekolah dan komponen lain sesuai ketentuan seleksi.
Selain itu, jumlah kursi pada setiap program studi terbatas. Siswa tetap bersaing dengan peserta lain yang memilih program studi yang sama.
Jadi, jangan mengubah anggapan dari sebelumnya “rapor tinggi pasti lolos” menjadi “TKA tinggi pasti lolos”. Keduanya sama-sama terlalu menyederhanakan proses seleksi.
SNBP Bisa Semakin Sulit Diprediksi Hanya dari Rata-rata Rapor
Selama ini banyak siswa mencoba memperkirakan peluang SNBP dengan membandingkan rata-rata rapor dengan peserta yang lolos pada tahun sebelumnya.
Cara tersebut dapat memberikan gambaran, tetapi semakin tidak cukup jika digunakan sendirian. Ada semakin banyak informasi yang dapat ikut dipertimbangkan.
Nilai rapor seluruh mata pelajaran, mata pelajaran pendukung program studi, prestasi, portofolio untuk bidang tertentu, hasil TKA, karakteristik program studi, dan kebijakan seleksi masing-masing PTN dapat memengaruhi proses.
Karena itu, angka seperti “rata-rata rapor 90 pasti aman” tidak mempunyai dasar untuk dijadikan jaminan kelulusan. Dua siswa dengan rata-rata rapor sama belum tentu mempunyai profil akademik yang sama.
Apa yang Harus Dilakukan Siswa Kelas 12 Sekarang?
Siswa yang mengincar SNBP 2027 sebaiknya tidak menunggu pengumuman SNBP baru mulai memikirkan TKA.
Ada tiga hal yang perlu diselaraskan sejak sekarang: rekam nilai rapor, mata pelajaran TKA, dan program studi tujuan. Pertama, tentukan beberapa program studi yang memang serius dipertimbangkan.
Kedua, lihat mata pelajaran pendukung yang relevan dengan program tersebut.
Ketiga, pastikan pilihan mata pelajaran TKA tidak bertabrakan dengan rekam pembelajaran selama SMA.
Setelah itu, persiapan TKA sebaiknya diarahkan pada pemahaman materi dan kemampuan menyelesaikan soal, bukan hanya menghafalkan pola.
Strategi ini lebih masuk akal daripada mengejar satu angka tertentu yang dianggap sebagai “nilai aman”, karena sampai sekarang belum ada nilai TKA yang dapat menjamin seseorang lolos SNBP.
Jangan Salah: TKA Bukan Pengganti UTBK
TKA dan UTBK merupakan dua hal berbeda.
TKA berkaitan dengan SNBP sebagai instrumen yang digunakan untuk membantu memvalidasi capaian akademik. Sementara peserta yang mengikuti jalur SNBT harus menjalani UTBK sesuai ketentuan SNPMB.
Jadi, siswa yang tidak lolos SNBP tidak kemudian menggunakan nilai TKA sebagai pengganti nilai UTBK untuk SNBT.
Bagi siswa yang mempersiapkan seleksi PTN, keduanya perlu ditempatkan sesuai jalurnya. SNBP berkaitan dengan rekam prestasi dan TKA, sedangkan SNBT menggunakan hasil UTBK sesuai ketentuan seleksi yang berlaku.
Aturan Bobot TKA Masih Harus Ditunggu
Ini menjadi catatan paling penting.
MRPTNI memang membuka kemungkinan bobot TKA ditingkatkan pada SNBP 2027. Namun, kemungkinan tersebut belum sama dengan keputusan final.
Pelaksanaan TKA masih perlu dievaluasi dan ketentuan teknis SNBP 2027 perlu diumumkan secara resmi.
Karena itu, siswa sebaiknya berhati-hati terhadap informasi di media sosial yang sudah menyebut angka seperti “TKA bobotnya 30 persen”, “50 persen”, atau persentase lainnya tanpa merujuk aturan resmi.
Sebelum SNPMB menetapkan komposisinya, belum ada persentase yang dapat dianggap pasti.
Kesimpulan
TKA berpotensi mempunyai posisi yang semakin penting dalam SNBP 2027.
Ketua MRPTNI telah menegaskan siswa yang ingin mendaftar SNBP 2027 perlu mengikuti TKA. MRPTNI juga membuka kemungkinan bobot TKA ditingkatkan, meskipun besarannya masih harus menunggu evaluasi dan ketentuan resmi.
Namun, perubahan ini bukan berarti nilai rapor kehilangan fungsi.
Justru TKA digunakan untuk membantu PTN membaca apakah capaian akademik dalam rapor konsisten ketika dibandingkan melalui asesmen yang lebih terstandar. Karena itu, strategi SNBP 2027 tidak sebaiknya hanya berfokus pada pertanyaan “berapa rata-rata raporku?”
Siswa juga perlu memikirkan mata pelajaran apa yang dikuasai, dua mata pelajaran TKA apa yang dipilih, apakah keduanya sesuai dengan rekam belajar di SMA, dan apakah semuanya relevan dengan program studi tujuan.
Jadi, bagi siswa kelas 12 yang mengincar SNBP 2027, pesan terpentingnya jelas: jangan menganggap TKA hanya formalitas.
Rapor tetap penting, tetapi ketika TKA digunakan untuk memvalidasi rapor dan berpotensi mendapat bobot lebih besar, kemampuan akademik yang benar-benar dikuasai siswa akan semakin sulit dipisahkan dari proses seleksi.
Sumber:
https://www.kompas.id/artikel/nilai-tka-akan-semakin-menentukan-dalam-snbp-2027
Penulis:
Ananda Khaerunisa
Editor:
Ramadhan Candra Wijayanti S.Psi