PTKIN Borong Penghargaan UI GreenMetric 2026, UIN Raden Intan Lampung Masuk 10 Besar Nasional
Sejumlah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) mencatatkan prestasi dalam UI GreenMetric Sustainable University Rankings Indonesia 2026.
Salah satu capaian tertinggi diraih Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung yang berhasil menempati peringkat ke-8 nasional.
Posisi tersebut membuat UIN Raden Intan Lampung masuk jajaran 10 perguruan tinggi paling berkelanjutan di Indonesia bersama sejumlah kampus seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Semarang (Unnes), hingga Universitas Airlangga (Unair).
Tidak hanya UIN Raden Intan Lampung. Sejumlah PTKIN lain juga masuk pemeringkatan dan mendapatkan penghargaan dalam ajang yang diselenggarakan di Grha Sabha Pramana UGM, Yogyakarta, pada 15 September 2026.
Lalu, apa sebenarnya yang membuat sebuah kampus dinilai “hijau” dan berkelanjutan?
UIN Raden Intan Lampung Jadi PTKIN Peringkat Tertinggi
Dalam UI GreenMetric Sustainable University Rankings Indonesia 2026, UIN Raden Intan Lampung menjadi PTKIN dengan posisi tertinggi.
Kampus tersebut berada di peringkat ke-8 nasional.
Di kelompok perguruan tinggi Islam di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, posisi berikutnya ditempati UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berada di peringkat ke-15 nasional.
UIN Raden Fatah Palembang menyusul di peringkat ke-21 nasional.
Sementara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menempati posisi ke-31 nasional.
UIN Raden Intan Lampung juga menjadi satu-satunya perguruan tinggi dari Pulau Sumatera yang berhasil masuk jajaran 10 besar nasional pada pemeringkatan tersebut.
10 Kampus Paling Berkelanjutan di Indonesia 2026
Berdasarkan UI GreenMetric Sustainable University Rankings Indonesia 2026, berikut perguruan tinggi yang menempati 10 posisi teratas secara nasional:
| Peringkat | Perguruan Tinggi |
|---|---|
| 1 | Universitas Indonesia |
| 2 | Universitas Diponegoro |
| 3 | Universitas Gadjah Mada |
| 4 | Universitas Negeri Semarang |
| 5 | Universitas Sebelas Maret |
| 6 | Universitas Padjadjaran |
| 7 | Universitas Airlangga |
| 8 | UIN Raden Intan Lampung |
| 9 | Telkom University |
| 10 | Institut Teknologi Sepuluh Nopember |
Masuknya UIN Raden Intan Lampung di posisi kedelapan menunjukkan bahwa persaingan dalam aspek keberlanjutan kampus tidak hanya didominasi universitas umum.
PTKIN juga mulai menempatkan isu lingkungan dan keberlanjutan sebagai bagian dari pengelolaan institusi.
UIN Sunan Kalijaga Dapat Penghargaan Khusus
Walaupun tidak berada di 10 besar nasional, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mendapatkan pengakuan tersendiri.
Kampus tersebut berada di peringkat ke-31 nasional dan menerima penghargaan sebagai perguruan tinggi dengan Peningkatan Kinerja Keberlanjutan Substantif Terbaik di Indonesia.
Penghargaan ini berbeda dengan peringkat keseluruhan.
Artinya, sebuah kampus tidak harus berada di posisi teratas untuk menunjukkan perkembangan besar dalam pengelolaan keberlanjutan.
Perubahan kebijakan, pengelolaan sumber daya, transportasi, energi, sampah, hingga pendidikan dan penelitian dapat menjadi bagian dari transformasi tersebut.
Sejumlah PTKIN Lain Juga Mendapat Pengakuan
Selain empat UIN tersebut, sejumlah PTKIN lainnya memperoleh sertifikat kepatuhan dan rating dalam UI GreenMetric 2026.
Di antaranya terdapat UIN Salatiga, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, UIN Syekh M. Djamil Djambek Bukittinggi, UIN Sumatera Utara Medan, dan UIN Imam Bonjol Padang.
Capaian tersebut menunjukkan keterlibatan PTKIN dalam isu keberlanjutan mulai meluas ke berbagai daerah.
Kementerian Agama juga mendorong lebih banyak perguruan tinggi keagamaan untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam pengelolaan kampus.
Sebenarnya Apa Itu UI GreenMetric?
UI GreenMetric World University Rankings merupakan pemeringkatan yang dikembangkan Universitas Indonesia sejak 2010.
Berbeda dengan pemeringkatan universitas yang banyak menilai reputasi akademik, publikasi, atau sitasi, UI GreenMetric secara khusus melihat kinerja keberlanjutan sebuah perguruan tinggi.
Artinya, pertanyaannya bukan hanya seberapa terkenal universitas tersebut atau seberapa banyak penelitian yang dihasilkan.
UI GreenMetric melihat bagaimana sebuah perguruan tinggi mengelola lingkungan dan memasukkan prinsip keberlanjutan ke dalam kegiatan institusinya.
Pada 2026, pemeringkatan ini diikuti 2.016 institusi dari 110 negara. Sementara di Indonesia terdapat 217 perguruan tinggi dari 27 provinsi yang mengikuti pemeringkatan.
Jumlah tersebut meningkat jauh dibandingkan 2010 ketika peserta dari Indonesia baru berjumlah 22 perguruan tinggi.
Kampus Hijau Bukan Berarti Kampus yang Banyak Pohon
Istilah “kampus hijau” mudah membuat orang membayangkan universitas yang mempunyai banyak taman dan pepohonan.
Ruang terbuka hijau memang dapat menjadi bagian dari penilaian, tetapi konsep keberlanjutan jauh lebih luas.
UI GreenMetric menilai berbagai aspek yang berkaitan dengan bagaimana universitas menggunakan sumber daya dan mengurangi dampaknya terhadap lingkungan.
Pada metodologi UI GreenMetric, aspek penilaian mencakup bidang seperti setting dan infrastruktur, energi dan perubahan iklim, pengelolaan sampah, air, transportasi, pendidikan dan penelitian, serta perkembangan aspek tata kelola keberlanjutan.
Karena itu, sebuah kampus bisa saja terlihat sangat hijau secara fisik tetapi belum tentu mempunyai pengelolaan energi, sampah, air, dan transportasi yang baik. Sebaliknya, keberlanjutan membutuhkan perubahan pada sistem kampus secara keseluruhan.
Energi Kampus Ikut Dinilai
Perguruan tinggi dapat mempunyai puluhan bahkan ratusan gedung.
Di dalamnya terdapat ruang kelas, laboratorium, kantor, perpustakaan, pusat kegiatan mahasiswa, hingga berbagai fasilitas yang menggunakan listrik setiap hari. Karena itu, penggunaan energi menjadi bagian penting dalam keberlanjutan.
Kampus dapat melakukan berbagai langkah seperti meningkatkan efisiensi penggunaan listrik, menggunakan bangunan yang lebih hemat energi, mengembangkan energi terbarukan, serta menjalankan program pengurangan emisi.
Hal ini juga berkaitan dengan perubahan iklim. Universitas bukan hanya tempat yang meneliti persoalan iklim, tetapi juga institusi besar yang mempunyai jejak lingkungan dari aktivitas sehari-harinya.
Sampah Mahasiswa Juga Menjadi Persoalan Kampus
Bayangkan sebuah universitas dengan puluhan ribu mahasiswa. Setiap hari terdapat makanan, minuman, kemasan, kertas, sampah laboratorium, dan berbagai jenis limbah lainnya.
Jika tidak mempunyai sistem pengelolaan yang baik, jumlahnya dapat menjadi sangat besar.
Karena itu, pemilahan, daur ulang, pengurangan penggunaan barang sekali pakai, pengolahan limbah organik, hingga penanganan limbah tertentu menjadi bagian penting dari pengelolaan kampus berkelanjutan.
Program keberlanjutan tidak cukup berhenti pada kegiatan mahasiswa memungut sampah satu kali dalam setahun..Yang lebih penting adalah apakah kampus mempunyai sistem yang berjalan secara konsisten.
Transportasi di Dalam Kampus Juga Berpengaruh
Beberapa universitas mempunyai kawasan yang sangat luas dan aktivitas kendaraan yang tinggi. Ribuan mahasiswa, dosen, pegawai, dan pengunjung datang setiap hari.
Akibatnya, transportasi menjadi salah satu sumber emisi yang perlu dikelola.
Kampus dapat mendorong penggunaan transportasi publik, menyediakan kendaraan kampus, memperbaiki jalur pejalan kaki dan sepeda, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, hingga mengembangkan kendaraan rendah emisi.
Bagi mahasiswa, kebijakan seperti ini bahkan dapat terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Kampus yang nyaman untuk berjalan kaki dan mempunyai transportasi internal yang baik akan memberikan pengalaman berbeda dibandingkan kampus yang hampir seluruh mobilitasnya bergantung pada kendaraan pribadi.
Pendidikan dan Penelitian Juga Masuk Penilaian
Keberlanjutan tidak hanya dilihat dari fasilitas.
Universitas mempunyai fungsi utama sebagai tempat pendidikan dan penelitian. Karena itu, persoalan lingkungan juga perlu masuk ke dalam kegiatan akademik.
Hal tersebut dapat terlihat melalui mata kuliah yang berkaitan dengan keberlanjutan, penelitian mengenai lingkungan, pendanaan riset, publikasi, kegiatan mahasiswa, hingga program pengabdian kepada masyarakat.
Di sinilah perguruan tinggi mempunyai posisi yang cukup unik.
Kampus dapat mengurangi dampak lingkungannya sendiri sekaligus menghasilkan penelitian dan lulusan yang nantinya membantu menyelesaikan persoalan lingkungan di masyarakat.
PTKIN Membawa Konsep Ekoteologi
Di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam, Kementerian Agama mendorong pendekatan yang disebut ekoteologi. Konsep tersebut menghubungkan tanggung jawab terhadap lingkungan dengan nilai keagamaan.
Pelestarian lingkungan tidak hanya ditempatkan sebagai persoalan teknis mengenai sampah, energi, atau penghijauan, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab manusia terhadap alam.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amin Suyitno menyebut capaian PTKIN dalam UI GreenMetric sebagai salah satu bentuk transformasi tata kelola kampus yang berkaitan dengan paradigma tersebut.
Pendekatan ini juga menunjukkan bahwa isu lingkungan dapat masuk ke berbagai disiplin ilmu dan institusi, tidak terbatas pada kampus yang mempunyai jurusan lingkungan atau teknik.
Apakah Peringkat UI GreenMetric Berarti Kampusnya Paling Bagus?
Tidak sesederhana itu.
UI GreenMetric mempunyai fokus yang spesifik, yaitu keberlanjutan. Karena itu, posisi tinggi dalam UI GreenMetric menunjukkan kinerja yang kuat berdasarkan indikator keberlanjutan yang digunakan dalam pemeringkatan tersebut.
Namun, calon mahasiswa tidak sebaiknya menggunakan hasil ini sebagai satu-satunya indikator kualitas universitas. Jika ingin menentukan kampus untuk kuliah, masih ada banyak hal lain yang perlu diperiksa.
Misalnya akreditasi program studi, kurikulum, kualitas dosen, fasilitas sesuai jurusan, kesempatan magang, biaya pendidikan, lokasi, penelitian, serta rekam jejak lulusan.
Pemeringkatan kampus selalu perlu dibaca berdasarkan apa yang sebenarnya diukur.
Tapi Kenapa Kampus Berkelanjutan Penting bagi Mahasiswa?
Walaupun bukan ukuran tunggal kualitas universitas, pengelolaan kampus yang berkelanjutan dapat memengaruhi kehidupan mahasiswa.
Pengelolaan sampah menentukan kebersihan lingkungan. Transportasi memengaruhi kemudahan mobilitas. Ruang terbuka memengaruhi kenyamanan.
Efisiensi air dan energi berhubungan dengan bagaimana kampus menggunakan sumber daya.
Sementara pendidikan dan penelitian keberlanjutan dapat membuka kesempatan mahasiswa terlibat dalam proyek yang membahas persoalan nyata.
Karena itu, kampus berkelanjutan bukan sekadar mengejar posisi dalam pemeringkatan. Idealnya, kebijakan tersebut benar-benar terasa dalam aktivitas mahasiswa sehari-hari.
Kesimpulan
UI GreenMetric Sustainable University Rankings Indonesia 2026 menunjukkan semakin banyak PTKIN yang terlibat dalam pengembangan kampus berkelanjutan.
Capaian paling tinggi diraih UIN Raden Intan Lampung yang menempati peringkat ke-8 nasional, sekaligus menjadi PTKIN dengan posisi tertinggi dan satu-satunya perguruan tinggi dari Sumatera yang masuk 10 besar nasional.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berada di posisi ke-15, UIN Raden Fatah Palembang di posisi ke-21, sementara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menempati peringkat ke-31 sekaligus memperoleh penghargaan atas peningkatan kinerja keberlanjutannya.
Namun, hal yang menarik dari UI GreenMetric bukan sekadar siapa yang berada di peringkat tertinggi. Pemeringkatan ini memperlihatkan bahwa konsep “kampus hijau” jauh lebih luas daripada menanam pohon atau mempunyai taman yang luas.
Energi, perubahan iklim, sampah, air, transportasi, infrastruktur, pendidikan, penelitian, hingga tata kelola ikut menentukan apakah sebuah universitas benar-benar menjalankan prinsip keberlanjutan.
Bagi calon mahasiswa, peringkat tersebut dapat menjadi informasi tambahan ketika mengenal sebuah kampus. Tetapi tetap ingat: UI GreenMetric mengukur keberlanjutan, bukan menentukan kampus mana yang secara keseluruhan paling baik untuk semua jurusan dan semua mahasiswa.
Penulis:
Ananda Khaerunisa
Editor:
Ramadhan Candra Wijayanti S.Psi