Kenapa Jurusan yang Peminatnya Sedikit Belum Tentu Lebih Mudah Dimasuki?
Saat mencari jurusan untuk PTN, salah satu data yang sering muncul adalah jumlah peminat.
Tidak sedikit calon mahasiswa yang kemudian menggunakan angka tersebut sebagai patokan sederhana. Misalnya, kalau sebuah jurusan memiliki peminat lebih sedikit dibanding jurusan lain, muncul anggapan bahwa jurusan tersebut pasti lebih mudah dimasuki.
Padahal, tidak sesederhana itu.
Jumlah peminat memang penting untuk dibaca, tetapi angka tersebut harus dilihat bersama daya tampung, jalur seleksi, tahun data, dan mekanisme penerimaan.
Jadi, jurusan dengan 1.000 peminat belum tentu lebih mudah dimasuki daripada jurusan dengan 3.000 peminat.
Sedikit Peminat Tidak Otomatis Berarti Persaingan Rendah
Bayangkan ada dua program studi.
Program Studi A
Peminat: 1.000
Daya tampung: 20
Program Studi B
Peminat: 3.000
Daya tampung: 150
Kalau hanya melihat peminat, A terlihat lebih sepi.
Namun, A hanya menyediakan 20 kursi, sedangkan B menyediakan 150 kursi.
Karena itu, jumlah peminat perlu dibaca bersama jumlah kursi yang tersedia.
Dalam bentuk perbandingan sederhana:
Prodi A: 1.000 ÷ 20 = 50 pendaftar per kursi
Prodi B: 3.000 ÷ 150 = 20 pendaftar per kursi
Dari contoh sederhana tersebut, terlihat bahwa jumlah peminat yang lebih kecil tidak otomatis menghasilkan persaingan yang lebih rendah.
Namun, perlu digarisbawahi bahwa jumlah pendaftar dibagi daya tampung bukan merupakan peluang lolos seseorang. Itu hanya rasio sederhana untuk membantu memahami hubungan antara jumlah pendaftar dan jumlah kursi.
Proses penerimaan tetap ditentukan oleh mekanisme seleksi yang berlaku.
Data 2026 Menunjukkan Angkanya Bisa Sangat Besar
Pada SNBT 2026, data resmi SNPMB mencatat 286.864 kursi daya tampung dan 871.496 pendaftar pilihan pertama. Secara keseluruhan, terdapat 256.369 peserta yang diterima.
Angka nasional tersebut memperlihatkan bahwa jumlah pendaftar dan daya tampung memang merupakan dua informasi yang berbeda.
Tetapi angka nasional juga tidak bisa digunakan untuk menyimpulkan kondisi satu jurusan tertentu.
Misalnya, kalau sebuah jurusan memiliki peminat jauh lebih sedikit dibanding jurusan lain, kita tetap perlu melihat berapa daya tampung yang tersedia di jurusan tersebut.
SNPMB sendiri menyediakan data daya tampung program studi berdasarkan PTN. Untuk SNBT 2026, data tersebut dapat dilihat berdasarkan masing-masing PTN dan program studi.
Yang Perlu Dilihat Bukan Cuma "Berapa Peminatnya?"
Kalau kamu menemukan jurusan dengan jumlah peminat yang terlihat kecil, jangan langsung memasukkannya ke kategori "aman".
Setidaknya ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab.
1. Berapa daya tampungnya?
Ini adalah pasangan dari angka peminat.
Peminat 1.000 orang akan memberikan gambaran yang berbeda jika daya tampungnya 10 kursi dibandingkan dengan 100 kursi.
Karena itu, membaca peminat tanpa melihat daya tampung ibarat melihat jumlah penonton tanpa mengetahui ukuran tempat duduk yang tersedia.
2. Data itu berasal dari jalur apa?
SNBP dan SNBT memiliki mekanisme seleksi yang berbeda.
Pada SNBP, seleksi menggunakan nilai rapor seluruh mata pelajaran dengan bobot minimal 50 persen, kemudian komponen lain dapat berupa nilai rapor maksimal dua mata pelajaran pendukung, portofolio, dan/atau prestasi. Komposisi komponen tersebut ditetapkan masing-masing PTN.
Sementara itu, SNBT 2026 menggunakan hasil UTBK, dengan portofolio tambahan bagi peserta yang memilih program studi seni dan/atau olahraga.
Artinya, angka peminat pada SNBP tidak bisa langsung dibandingkan dengan angka peminat SNBT lalu dianggap menunjukkan kondisi persaingan yang sama.
3. Tahun berapa datanya?
Jumlah peminat suatu program studi dapat berubah setiap tahun.
Jurusan yang memiliki 500 peminat pada satu tahun belum tentu memiliki jumlah yang sama pada tahun berikutnya.
Begitu juga dengan daya tampung.
Karena itu, ketika menemukan informasi seperti "jurusan ini cuma diminati 300 orang", cek terlebih dahulu tahun datanya.
Data lama tetap bisa berguna sebagai bahan melihat tren, tetapi jangan dianggap sebagai angka terbaru.
Jurusan Sepi Peminat Bisa Tetap Memiliki Kursi yang Sedikit
Salah satu alasan mengapa jurusan dengan peminat sedikit belum tentu mudah dimasuki adalah karena daya tampungnya juga bisa sangat terbatas.
Misalnya:
Jurusan A
800 peminat
20 kursi
Jurusan B
2.000 peminat
100 kursi
Jurusan A memiliki peminat lebih sedikit.
Namun, jumlah kursinya juga jauh lebih kecil.
Kalau hanya menggunakan jumlah peminat sebagai patokan, informasi penting tentang kapasitas penerimaan menjadi hilang.
Hal ini juga berlaku pada program studi yang memang memiliki kapasitas pendidikan terbatas karena kebutuhan fasilitas, tenaga pengajar, laboratorium, atau karakter pembelajarannya.
Jadi, jangan mengartikan "sepi peminat" sebagai "kampus sedang mencari mahasiswa sebanyak-banyaknya".
Ada Juga Faktor Minat yang Bisa Berubah
Jumlah peminat suatu jurusan tidak selalu stabil.
Perubahan tren pekerjaan, perkembangan teknologi, kebutuhan industri, informasi dari media sosial, sampai meningkatnya popularitas suatu bidang dapat memengaruhi minat calon mahasiswa.
Contohnya, bidang yang sebelumnya jarang dibicarakan bisa menjadi semakin dikenal karena munculnya profesi baru atau perkembangan industri tertentu.
Sebaliknya, jurusan yang dulu sangat populer juga bisa mengalami perubahan jumlah peminat.
Karena itu, melihat data beberapa tahun dapat memberikan gambaran yang lebih baik daripada hanya melihat satu angka.
Laman daya tampung SNPMB bahkan menyediakan data historis untuk program studi sehingga calon mahasiswa dapat melihat informasi penerimaan dari beberapa tahun terakhir.
Jangan Menggunakan Data Peminat untuk Menebak Nilai yang Harus Kamu Dapatkan
Ini juga penting.
Kadang muncul pertanyaan seperti:
"Peminatnya cuma 500, berarti nilai UTBK segini pasti aman, kan?"
Tidak bisa langsung disimpulkan seperti itu.
Jumlah peminat tidak menunjukkan nilai setiap peserta.
Pada SNBT, peserta diseleksi berdasarkan hasil UTBK dan ketentuan program studi yang dituju.
Jadi, mengetahui jumlah peminat tidak berarti kamu bisa mengetahui nilai minimal yang pasti diterima.
Kalaupun ada data nilai atau skor dari tahun sebelumnya yang beredar di internet, kamu tetap perlu melihat sumber dan konteksnya. Jangan menganggap satu angka sebagai batas resmi jika PTN atau SNPMB tidak menetapkannya sebagai nilai minimum.
"Jurusan Sepi" Juga Perlu Dilihat dari Jurusannya
Ada alasan lain mengapa angka peminat tidak bisa berdiri sendiri.
Kamu mungkin menemukan sebuah program studi yang tidak terlalu populer. Tetapi sebelum memilihnya, kamu tetap perlu memahami apa yang dipelajari dan kompetensi apa yang dibangun.
Jangan sampai memilih hanya karena melihat angka peminatnya rendah.
Misalnya, kamu sebenarnya tidak tertarik dengan bidang tersebut, tetapi memilihnya karena menganggap persaingannya lebih ringan.
Pada akhirnya, kamu tetap akan menjalani pendidikan di program studi tersebut setelah diterima.
Jadi, data persaingan seharusnya digunakan untuk memahami kondisi pilihan, bukan menggantikan pertimbangan tentang kecocokan bidang yang ingin dipelajari.
Bagaimana Cara Membaca Data dengan Lebih Masuk Akal?
Daripada hanya mencari:
"Jurusan yang paling sedikit peminatnya"
lebih baik ubah cara pencariannya menjadi:
"Berapa peminat dan daya tampung jurusan ini?"
Kemudian lanjutkan dengan:
"Bagaimana data tersebut dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya?"
Setelah itu, cek:
"Jalur seleksinya apa?"
Dan terakhir:
"Apakah jurusan ini memang sesuai dengan bidang yang ingin aku pelajari?"
Dengan urutan seperti ini, angka peminat menjadi bagian dari analisis, bukan satu-satunya alasan memilih jurusan.
Jangan Terjebak dengan Label "Jurusan Aman"
Istilah "jurusan aman" sering muncul ketika membahas pilihan PTN.
Padahal, sebuah program studi tidak bisa disebut aman hanya karena jumlah peminatnya sedikit.
Kondisi penerimaan bergantung pada banyak hal, termasuk jumlah kursi, jumlah pendaftar, jalur seleksi, serta mekanisme seleksi yang digunakan.
Bahkan pada jalur yang sama, kondisi tiap program studi dapat berbeda.
Karena itu, lebih baik menghindari cara berpikir:
Peminat sedikit = aman
dan menggantinya dengan:
Peminat + daya tampung + jalur + data tahun sebelumnya = gambaran yang lebih lengkap.
Jadi, Apa yang Bisa Dipelajari Pejuang PTN?
Jumlah peminat tetap merupakan data yang berguna.
Kalau sebuah jurusan memiliki peminat yang sangat banyak, informasi tersebut menunjukkan bahwa banyak calon mahasiswa memasukkan program studi itu ke pilihan mereka.
Sebaliknya, jumlah peminat yang lebih sedikit juga merupakan informasi yang patut diperhatikan.
Tetapi angka tersebut tidak bisa berdiri sendiri.
Data SNBT 2026 menunjukkan bahwa secara nasional terdapat 871.496 pendaftar pada pilihan pertama dengan daya tampung 286.864 kursi. Pada akhirnya, 256.369 peserta dinyatakan diterima.
Namun, angka nasional tersebut tidak bisa digunakan untuk menentukan kondisi setiap jurusan.
Karena itu, saat mencari pilihan PTN, jangan hanya bertanya:
"Jurusan mana yang peminatnya sedikit?"
Pertanyaan yang lebih berguna adalah:
"Bagaimana jumlah peminat dibandingkan dengan daya tampungnya, pada jalur dan tahun yang sama?"
Setelah itu, baru lihat data lain seperti mekanisme seleksi, kurikulum, akreditasi, biaya, dan kesesuaian bidang.
Dengan begitu, kamu tidak memilih jurusan hanya karena mengejar angka peminat yang kecil. Kamu sedang membaca data secara lebih lengkap sebelum menentukan pilihan.
Penulis:
Yumna Salwa Aqilah
Editor:
Ramadhan Candra Wijayanti S.Psi