AI Ternyata Berawal dari Pertanyaan Filsafat, Apa Hubungannya?
Kalau mendengar artificial intelligence (AI), jurusan yang langsung terbayang mungkin Ilmu Komputer, Informatika, atau bidang teknologi lainnya. Tapi jauh sebelum AI berkembang seperti sekarang, ada pertanyaan yang terdengar sangat sederhana: bisakah mesin berpikir?
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menyebut perkembangan AI tidak bisa dilepaskan dari filsafat. Salah satu titik pentingnya datang dari matematikawan Alan Turing yang mempertanyakan kemampuan mesin untuk berpikir.
Pertanyaan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar penting dalam pembicaraan tentang kecerdasan mesin.
Menariknya, hubungan antara filsafat dan AI tidak berhenti di masa lalu. Ketika AI semakin canggih, justru muncul pertanyaan baru yang kembali bersifat filosofis: apa sebenarnya yang disebut berpikir, mengetahui, atau bahkan menjadi cerdas?
Dari Pertanyaan “Bisakah Mesin Berpikir?” ke AI
Pada 1950, Alan Turing menerbitkan makalah berjudul Computing Machinery and Intelligence di jurnal Mind. Ia membuka pembahasannya dengan pertanyaan mengenai apakah mesin dapat berpikir.
Stella menggunakan contoh tersebut untuk menjelaskan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan sering kali dimulai dari pertanyaan mendasar.
Pertanyaannya mungkin terdengar sederhana, tetapi menjawabnya membutuhkan matematika, logika, ilmu komputer, psikologi, dan berbagai disiplin lainnya.
Hubungan seperti ini masih terlihat dalam pendidikan tinggi sekarang. Dartmouth College, misalnya, memiliki mata kuliah Philosophy and Computers yang membahas pertanyaan seperti apakah komputer bisa berpikir atau merasa, apa batas AI, apakah Turing Test merupakan pengujian yang tepat, sampai apakah ada keputusan yang seharusnya tidak diserahkan kepada komputer.
Jadi, filsafat dalam perkembangan AI bukan sekadar membahas pemikiran abstrak. Pertanyaan filosofis bisa menjadi titik awal untuk menentukan masalah apa yang kemudian ingin dijawab melalui sains dan teknologi.
Kenapa Gelar Doktor Disebut PhD?
Stella juga menyinggung istilah PhD atau Doctor of Philosophy.
Seseorang yang mendapat PhD tidak harus belajar di jurusan Filsafat. Ilmuwan dari berbagai bidang juga bisa memperoleh gelar tersebut.
Menurut Stella, hal ini berkaitan dengan sejarah perkembangan sains yang berakar dari filsafat. Sebelum ilmu pengetahuan terbagi menjadi berbagai disiplin seperti fisika, biologi, psikologi, dan ilmu komputer, manusia lebih dulu menggunakan filsafat untuk mempertanyakan alam, manusia, pengetahuan, hingga kebenaran.
Seiring berkembangnya metode penelitian dan pengetahuan manusia, bidang-bidang tersebut kemudian tumbuh menjadi disiplin ilmu tersendiri.
Itulah mengapa membicarakan filsafat sebenarnya tidak selalu jauh dari sains.
Astronomi Disebut Sains, Kenapa Astrologi Bukan?
Stella kemudian memberikan contoh lain untuk menjelaskan hubungan filsafat dan sains: perbedaan astronomi dengan astrologi.
Ia merujuk pada pemikiran filsuf Karl Popper mengenai falsifikasi.
Sederhananya, sebuah teori ilmiah harus memungkinkan untuk diuji dan memiliki kemungkinan terbukti salah.
Contoh yang diberikan Stella adalah teori relativitas Einstein. Teori tersebut menghasilkan prediksi yang dapat diuji, salah satunya mengenai pembelokan cahaya oleh gravitasi Matahari. Jika hasil pengamatan bertentangan dengan prediksi, teorinya bisa dipertanyakan.
Ini berbeda dengan pernyataan yang dibuat terlalu umum sehingga hampir semua kondisi bisa dianggap sebagai pembenaran.
Dari sini terlihat bahwa filsafat tidak hanya bertanya “apa yang kita ketahui?”, tetapi juga “bagaimana kita bisa yakin bahwa sesuatu layak disebut pengetahuan?”
Pertanyaan seperti itu menjadi penting dalam metode ilmiah.
AI Justru Membawa Pertanyaan Filsafat Baru
Menariknya, perkembangan AI sekarang membuat pertanyaan mengenai pengetahuan semakin rumit.
Stella menyinggung kemampuan AI menghasilkan pembuktian matematika dengan sangat cepat. Kondisi tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan: kalau AI menghasilkan suatu pembuktian tetapi manusia tidak mampu membaca atau memahaminya dengan cukup cepat, apakah manusia bisa mengatakan bahwa kita benar-benar “mengetahui” hasil tersebut?
Pertanyaan ini menunjukkan satu hal menarik.
Semakin maju teknologinya, pertanyaan yang harus dijawab manusia tidak selalu menjadi semakin teknis. Beberapa justru kembali menjadi pertanyaan mendasar.
Misalnya, apakah mesin benar-benar memahami sesuatu atau hanya memproses informasi? Siapa yang bertanggung jawab kalau AI mengambil keputusan yang salah? Keputusan seperti apa yang tidak seharusnya diserahkan kepada mesin?
Pertanyaan semacam itu sekarang bahkan menjadi bagian dari pembelajaran mengenai komputer dan AI di perguruan tinggi.
Belajar AI Ternyata Tidak Cuma Soal Coding
Buat calon mahasiswa, pembahasan ini juga menunjukkan bahwa dunia AI jauh lebih luas daripada sekadar belajar membuat program.
Cognitive science atau ilmu kognitif, misalnya, mempelajari pikiran dan kecerdasan dengan menggabungkan berbagai disiplin seperti psikologi, linguistik, filsafat, ilmu komputer, AI, neuroscience, hingga antropologi. Stella sendiri merupakan akademisi di bidang cognitive science.
Artinya, perkembangan AI membutuhkan banyak cara pandang.
Ilmu Komputer bisa membantu membangun sistemnya. Matematika memberikan dasar untuk model dan perhitungannya. Psikologi serta cognitive science membantu memahami bagaimana manusia berpikir dan belajar. Sementara filsafat bisa membantu mempertanyakan apa yang dimaksud dengan kecerdasan, pengetahuan, etika, dan batas penggunaan teknologi.
Karena itu, mahasiswa yang tertarik pada masa depan AI tidak selalu harus melihatnya sebagai persoalan satu jurusan saja.
Di Era AI, Kemampuan Bertanya Justru Makin Penting
Selama ini teknologi sering membuat kita fokus pada kemampuan mencari jawaban.
Padahal perkembangan AI menunjukkan bahwa kemampuan menentukan pertanyaan yang tepat juga sangat penting.
Alan Turing tidak memulai dari chatbot, aplikasi, atau algoritma seperti yang kita kenal sekarang. Ia memulai dari persoalan yang jauh lebih mendasar tentang mesin dan kemampuan berpikir.
Puluhan tahun kemudian, pertanyaan itu berkembang menjadi bidang teknologi yang sekarang digunakan jutaan orang.
Hal tersebut juga relevan dengan cara belajar di perguruan tinggi. Mahasiswa tidak hanya dituntut mengetahui jawaban yang sudah tersedia, tetapi belajar mempertanyakan asumsi, menguji suatu gagasan, melihat kelemahannya, dan menemukan persoalan baru yang belum memiliki jawaban.
Kemampuan seperti ini justru semakin penting ketika AI bisa memberikan jawaban dalam hitungan detik.
Kesimpulan
Pernyataan Stella Christie bahwa AI lahir dari filsafat menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu bermula dari alat yang canggih. Kadang, semuanya dimulai dari satu pertanyaan mendasar yang belum bisa dijawab manusia.
Pertanyaan Alan Turing mengenai apakah mesin dapat berpikir menjadi salah satu contoh bagaimana persoalan filosofis kemudian berkembang menjadi penelitian ilmiah dan teknologi.
Sekarang, ketika AI sudah jauh lebih canggih, manusia kembali berhadapan dengan pertanyaan baru tentang pengetahuan, kecerdasan, keputusan, dan batas antara kemampuan manusia dengan mesin.
Karena itu, di era ketika AI semakin mudah memberikan jawaban, pendidikan tinggi mungkin justru punya tugas yang semakin penting: mengajarkan mahasiswa bukan hanya bagaimana menemukan jawaban, tetapi bagaimana mengetahui pertanyaan apa yang layak ditanyakan.
Penulis:
Ananda Khaerunisa
Editor:
Ramadhan Candra Wijayanti S.Psi