Lulus Kuliah Belum Tentu Kerjanya Sesuai Pendidikan, Ini yang Terjadi di Dunia Kerja

Selama ini, pendidikan sering dianggap sebagai jalan menuju pekerjaan. Seseorang sekolah, kemudian kuliah, mendapatkan gelar, lalu mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang pendidikannya.

Secara teori, alurnya memang terlihat sederhana. Namun, dunia kerja ternyata tidak sesederhana itu.

Ada lulusan perguruan tinggi yang bekerja sesuai dengan bidang pendidikannya. Ada yang bekerja di bidang yang masih berhubungan. Tetapi, ada juga yang justru bekerja di bidang yang cukup jauh dari pendidikan yang ditempuh.

Fenomena ini bukan sekadar cerita dari satu atau dua orang. Badan Pusat Statistik (BPS) melalui publikasi Cerita Data Statistik untuk Indonesia: Mismatch Pendidikan–Pekerjaan Pemuda Indonesia membahas fenomena ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan atau mismatch. Salah satu temuannya menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga pemuda bekerja tidak sesuai dengan tingkat pendidikannya.

Angka tersebut menarik karena menunjukkan bahwa hubungan antara pendidikan dan pekerjaan ternyata tidak selalu berjalan lurus.

Lalu, kenapa hal ini bisa terjadi?

Apa Itu Mismatch Pendidikan dan Pekerjaan?

Sebelum membahas lebih jauh, kita perlu memahami istilahnya.

Mismatch pendidikan dan pekerjaan terjadi ketika tingkat atau bidang pendidikan seseorang tidak sepenuhnya sesuai dengan pekerjaan yang dijalankannya.

Dalam pembahasan BPS, salah satu bentuk yang diperhatikan adalah vertical mismatch. Secara sederhana, vertical mismatch berkaitan dengan ketidaksesuaian antara tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang dengan tingkat pendidikan yang dibutuhkan oleh pekerjaannya.

Ada kondisi ketika seseorang memiliki pendidikan lebih tinggi daripada yang dibutuhkan pekerjaannya. Kondisi tersebut sering disebut overeducated.

Sebaliknya, ada pula orang yang bekerja pada pekerjaan yang tingkat pendidikannya berada di atas pendidikan yang dimilikinya. Kondisi ini disebut undereducated.

Jadi, mismatch tidak hanya berarti “jurusannya beda dengan pekerjaannya”. Persoalannya bisa lebih luas karena berkaitan dengan tingkat pendidikan dan tuntutan pekerjaan.

BPS menyebut kondisi overeducated dan undereducated sebagai salah satu bentuk mismatch yang dapat menimbulkan wage penalty serta inefisiensi ekonomi.

Kenapa Lulusan Pendidikan Tinggi Bisa Mengalami Mismatch?

Ada banyak alasan. Salah satunya adalah perubahan kebutuhan dunia kerja.

Ketika seseorang mulai kuliah, kondisi industri bisa berbeda dengan ketika ia lulus beberapa tahun kemudian.

Teknologi berkembang. Jenis pekerjaan baru muncul. Beberapa pekerjaan berubah. Sementara itu, perusahaan juga bisa mencari keterampilan yang lebih spesifik daripada sekadar latar belakang pendidikan.

Akibatnya, seseorang mungkin memiliki ijazah dari bidang tertentu, tetapi peluang pekerjaan yang tersedia justru lebih banyak berada di bidang lain.

Akhirnya, ia memilih pekerjaan yang tersedia daripada menunggu pekerjaan yang benar-benar sesuai.

Pilihan tersebut cukup masuk akal. Ketika seseorang membutuhkan pekerjaan, kesesuaian sempurna antara pendidikan dan pekerjaan tidak selalu menjadi prioritas utama.

Dunia Kerja Tidak Selalu Menilai Ijazah Saja

Hal lain yang perlu dipahami siswa SMA adalah bahwa ijazah bukan satu-satunya hal yang dilihat ketika seseorang masuk dunia kerja.

Perusahaan juga dapat mempertimbangkan kemampuan teknis, pengalaman, komunikasi, kemampuan bekerja dalam tim, pemecahan masalah, penggunaan teknologi, hingga pengalaman organisasi atau proyek.

Karena itu, dua orang yang memiliki tingkat pendidikan sama belum tentu memiliki peluang yang sama.

Seseorang mungkin memiliki pengalaman magang. Orang lain mungkin memiliki pengalaman organisasi. Ada yang sudah terbiasa mengerjakan proyek. Ada yang memiliki sertifikasi tertentu. Ada pula yang memiliki kemampuan komunikasi atau teknologi yang dibutuhkan perusahaan.

Inilah salah satu alasan mengapa pendidikan formal dan keterampilan perlu berjalan bersama.

Kuliah Tetap Penting, tetapi Bukan Satu-Satunya Bekal

Temuan tentang mismatch bukan berarti kuliah tidak penting.

Justru, pendidikan tinggi tetap menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kompetensi.

Masalahnya adalah ketika pendidikan dianggap sebagai garis finis. Seseorang masuk kuliah dengan tujuan mendapatkan ijazah, kemudian merasa seluruh persoalan karier akan otomatis selesai setelah wisuda.

Padahal, dunia kerja bergerak terus. Kemampuan yang dibutuhkan perusahaan juga dapat berubah.

Karena itu, mahasiswa perlu membangun kemampuan yang bisa digunakan di luar ruang kelas. Misalnya kemampuan menggunakan perangkat digital, komunikasi, analisis data, membuat presentasi, bekerja dalam tim, mengelola proyek, atau kemampuan teknis yang sesuai dengan bidang yang diminati.

Ada Lulusan yang Bekerja di Bidang Berbeda

Bayangkan seseorang mengambil pendidikan di bidang tertentu. Setelah lulus, ia sudah mengirim banyak lamaran ke pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Namun, belum mendapatkan kesempatan.

Di sisi lain, ada perusahaan yang membuka posisi di bidang lain dan justru memberikan kesempatan.

Akhirnya, ia mencoba. Setelah beberapa waktu, ia mendapatkan pengalaman. Kemudian, ia menemukan bahwa pekerjaan tersebut ternyata cocok dengan kemampuan yang dimilikinya.

Apakah keputusan itu salah?

Belum tentu.

Justru, perjalanan karier seseorang memang bisa berubah. Pendidikan yang ditempuh tetap dapat memberikan dasar kemampuan, sementara pengalaman kerja memberikan keterampilan baru.

Karier seseorang tidak selalu harus mengikuti satu garis lurus dari jurusan menuju profesi.

Mismatch Tidak Selalu Berarti Gagal

Ini bagian yang penting.

Ketika seseorang bekerja tidak sesuai dengan pendidikan, kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa ia gagal memilih pendidikan.

Bisa saja pekerjaan tersebut memang menjadi pilihan yang lebih baik berdasarkan kondisi yang tersedia. Bisa juga seseorang menemukan minat baru setelah memasuki dunia kerja. Ada pula yang sengaja berpindah bidang karena melihat peluang yang lebih besar.

Karier pada akhirnya merupakan proses yang dapat berubah.

Yang menjadi masalah adalah ketika ketidaksesuaian tersebut membuat kemampuan seseorang tidak digunakan secara optimal atau membuat pekerjaan yang dijalankan jauh di bawah tingkat kompetensi yang dimilikinya.

BPS mengaitkan kondisi mismatch tertentu dengan wage penalty dan inefisiensi ekonomi.

Apa Hubungannya dengan Gaji?

Pendidikan memang sering dikaitkan dengan harapan mendapatkan pekerjaan dan pendapatan yang lebih baik.

Namun, tingkat pendidikan yang lebih tinggi tidak otomatis membuat seseorang mendapatkan pekerjaan dengan posisi atau pendapatan yang sesuai harapan.

Jika seseorang memiliki pendidikan yang lebih tinggi daripada tuntutan pekerjaannya, kemampuan yang dimiliki bisa saja tidak digunakan secara maksimal.

Inilah salah satu konteks ketika BPS membahas wage penalty dalam fenomena mismatch.

Dengan kata lain, pendidikan tinggi tetap memiliki nilai, tetapi manfaatnya juga dipengaruhi oleh bagaimana kemampuan tersebut digunakan dalam pekerjaan.

Karena itu, mendapatkan gelar bukan satu-satunya tujuan. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana pengetahuan dan kemampuan tersebut diterapkan.

Pemuda Menghadapi Tantangan yang Lebih Besar

Masalah mismatch menjadi semakin penting ketika dibicarakan dalam konteks pemuda.

BPS mencatat bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pemuda lebih dari dua kali tingkat nasional dalam pembahasan mengenai mismatch pendidikan dan pekerjaan.

Artinya, masuk ke dunia kerja tidak selalu mudah bagi kelompok usia muda.

Mereka harus bersaing dengan pencari kerja lain. Di saat yang sama, mereka juga sering belum memiliki pengalaman kerja yang panjang.

Hal tersebut menciptakan situasi yang cukup unik. Seseorang mungkin sudah memiliki pendidikan, tetapi belum memiliki pengalaman.

Perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang siap berkontribusi, sementara pencari kerja membutuhkan kesempatan pertama untuk mendapatkan pengalaman.

Di sinilah proses transisi dari pendidikan menuju dunia kerja menjadi penting.

Kenapa Pengalaman Kerja Sering Dicari?

Salah satu alasan perusahaan mencari pengalaman adalah karena pengalaman dapat menunjukkan bahwa seseorang pernah menghadapi situasi kerja nyata.

Namun, pengalaman tidak selalu berarti harus bekerja bertahun-tahun.

Bagi mahasiswa, pengalaman dapat diperoleh melalui berbagai kegiatan yang relevan.

Misalnya proyek, organisasi, kegiatan kepanitiaan, magang, freelance, kompetisi, atau kegiatan lain yang benar-benar membuat seseorang mengerjakan sesuatu dan menyelesaikan masalah.

Pengalaman tersebut dapat membantu seseorang memahami cara kerja di luar lingkungan sekolah atau kampus.

Keterampilan Digital Semakin Penting

BPS juga menyebut peningkatan keterampilan digital sebagai salah satu hal yang dibutuhkan untuk menekan risiko mismatch.

Hal ini cukup masuk akal jika melihat perubahan dunia kerja.

Banyak pekerjaan sekarang menggunakan teknologi sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.

Bahkan, pekerjaan yang sebelumnya tidak terlalu bergantung pada teknologi kini mulai menggunakan perangkat digital.

Artinya, kemampuan digital tidak hanya relevan untuk siswa yang mengambil bidang teknologi.

Kemampuan seperti mengolah informasi, menggunakan perangkat lunak produktivitas, memahami data, membuat presentasi digital, atau menggunakan teknologi secara efektif dapat berguna di berbagai bidang.

Sertifikasi Juga Bisa Menjadi Nilai Tambahan

Selain keterampilan digital, BPS juga menyoroti sertifikasi kompetensi dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri.

Sertifikasi tidak otomatis menjamin seseorang mendapatkan pekerjaan. Namun, sertifikasi dapat menjadi salah satu bukti bahwa seseorang telah mempelajari kompetensi tertentu.

Misalnya, seseorang memiliki pendidikan formal di satu bidang, tetapi juga memiliki sertifikasi atau pelatihan tambahan yang berkaitan dengan kebutuhan pekerjaan.

Kombinasi tersebut dapat memperluas kemampuan yang dimiliki.

Karena itu, belajar tidak harus berhenti ketika seseorang sudah mendapatkan ijazah.

Dunia Kerja Bisa Berubah Lebih Cepat daripada Kurikulum

Perubahan teknologi membuat kebutuhan industri ikut bergerak.

Kemampuan yang dianggap penting beberapa tahun lalu bisa saja mengalami perubahan. Pekerjaan baru juga dapat muncul.

Bahkan, nama sebuah pekerjaan mungkin baru terdengar ketika seseorang sudah masuk kuliah.

Hal ini membuat hubungan antara pendidikan dan dunia kerja menjadi semakin dinamis.

Sekolah dan perguruan tinggi memang berperan dalam membangun dasar pengetahuan. Namun, individu juga perlu memiliki kemampuan untuk terus belajar.

Bukan berarti setiap orang harus menguasai semua teknologi baru. Yang lebih penting adalah memiliki kemampuan untuk beradaptasi ketika kebutuhan berubah.

Lalu, Apa Artinya bagi Siswa SMA?

Kalau kamu masih SMA, mungkin pembahasan mismatch terasa seperti sesuatu yang masih jauh.

Padahal, justru sekarang adalah waktu yang cukup baik untuk memahami konsep tersebut.

Bukan berarti kamu harus menentukan pekerjaan masa depan sekarang. Justru sebaliknya.

Kamu perlu memahami bahwa pilihan pendidikan adalah salah satu bagian dari perjalanan, bukan kontrak seumur hidup.

Karena itu, ketika mencari informasi tentang jurusan atau perguruan tinggi, jangan hanya bertanya:

“Jurusan ini nanti kerja jadi apa?”

Pertanyaan tersebut boleh ditanyakan. Namun, tambahkan pertanyaan lain.

“Kemampuan apa yang akan aku dapat?”

“Kemampuan itu bisa digunakan di bidang apa saja?”

“Bagaimana perkembangan bidang tersebut?”

“Apa keterampilan tambahan yang perlu aku bangun?”

Pertanyaan tersebut membuat cara berpikir menjadi lebih luas.

Jangan Memilih Pendidikan Hanya Berdasarkan Satu Profesi

Salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika memilih pendidikan adalah menganggap satu program studi hanya memiliki satu jalur pekerjaan.

Padahal, seseorang dapat mengembangkan berbagai kemampuan selama pendidikan.

Misalnya kemampuan analisis, komunikasi, riset, pengelolaan proyek, pemecahan masalah, kemampuan menggunakan teknologi, kemampuan menulis, atau kemampuan bekerja dengan orang lain.

Kemampuan tersebut dapat digunakan di berbagai jenis pekerjaan.

Karena itu, penting untuk melihat pendidikan bukan hanya dari nama profesi yang tercantum di daftar prospek kerja, tetapi juga dari kompetensi yang benar-benar akan dibangun.

Jangan Juga Berpikir Semua Orang Harus Bekerja Sesuai Jurusan

Ada anggapan bahwa seseorang yang kuliah di bidang tertentu harus bekerja persis sesuai bidang tersebut.

Padahal, kenyataannya lebih fleksibel.

Seseorang bisa mempelajari satu bidang di kampus, kemudian menggunakan sebagian kemampuan tersebut di bidang lain.

Seorang lulusan bidang tertentu dapat bekerja di perusahaan teknologi. Lulusan bidang lain bisa masuk ke industri keuangan.

Ada pula yang memilih menjadi pengusaha. Ada yang bekerja di pemerintahan. Ada yang masuk organisasi sosial. Ada yang melanjutkan pendidikan.

Pilihan tersebut tidak otomatis membuat pendidikan sebelumnya menjadi sia-sia.

Yang penting adalah bagaimana kompetensi yang dimiliki dapat digunakan.

Ada yang Overeducated, Ada Juga yang Undereducated

Fenomena mismatch juga memiliki dua sisi.

Pertama, overeducated. Ini terjadi ketika tingkat pendidikan seseorang lebih tinggi daripada tingkat pendidikan yang dibutuhkan dalam pekerjaannya.

Misalnya, seseorang memiliki pendidikan tinggi tetapi bekerja dalam pekerjaan yang secara formal tidak membutuhkan tingkat pendidikan tersebut.

Kedua, undereducated. Kondisinya berkebalikan.

Seseorang bekerja pada pekerjaan yang membutuhkan tingkat pendidikan lebih tinggi daripada yang dimilikinya.

Kedua kondisi tersebut menunjukkan adanya jarak antara pendidikan dan kebutuhan pekerjaan.

Namun, kondisi tersebut tidak selalu bisa dilihat sebagai masalah individu. Struktur pasar kerja juga berperan.

Kenapa Struktur Pasar Kerja Ikut Berpengaruh?

Bayangkan ada banyak lulusan dengan pendidikan tinggi, tetapi jumlah pekerjaan yang benar-benar membutuhkan kualifikasi tersebut lebih sedikit.

Persaingan menjadi lebih ketat.

Sebagian lulusan mungkin menerima pekerjaan yang kualifikasinya lebih rendah karena membutuhkan pekerjaan.

Di sisi lain, perusahaan mungkin kesulitan menemukan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu.

Inilah salah satu alasan mengapa hubungan pendidikan dan pasar kerja harus dilihat sebagai satu ekosistem.

Tidak cukup hanya meminta individu meningkatkan pendidikan. Ketersediaan pekerjaan, kebutuhan industri, kualitas pelatihan, dan perubahan ekonomi juga ikut menentukan.

Pemuda di Perkotaan Juga Menghadapi Tantangan Tertentu

BPS menemukan bahwa pemuda yang tinggal di Jawa atau wilayah perkotaan serta pemuda berpendidikan tinggi cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk memperoleh pekerjaan.

Sekilas, kondisi ini mungkin terdengar bertentangan.

Bukankah kota besar memiliki lebih banyak lapangan kerja?

Memang ada lebih banyak peluang. Namun, kota besar juga memiliki lebih banyak pencari kerja.

Persaingan menjadi lebih tinggi.

Seseorang tidak hanya bersaing dengan orang dari daerah sekitarnya, tetapi juga dengan pencari kerja dari berbagai wilayah.

Selain itu, lulusan dengan pendidikan tinggi cenderung memiliki ekspektasi tertentu terhadap pekerjaan pertama mereka.

Akibatnya, proses menemukan pekerjaan yang sesuai bisa membutuhkan waktu.

Pekerjaan Pertama Tidak Harus Menjadi Pekerjaan Selamanya

Bagi siswa SMA, penting untuk mengetahui bahwa pekerjaan pertama bukan berarti pekerjaan terakhir.

Seseorang dapat memulai dari satu posisi. Kemudian mendapatkan pengalaman. Setelah itu berpindah perusahaan. Mempelajari kemampuan baru. Lalu bergeser ke bidang yang berbeda.

Karier dapat berkembang secara bertahap.

Karena itu, tidak mendapatkan pekerjaan yang benar-benar ideal pada awal perjalanan bukan berarti seluruh rencana gagal.

Yang penting adalah seseorang terus membangun kemampuan dan memahami arah yang ingin dituju.

Jadi, Haruskah Takut Mengalami Mismatch?

Tidak perlu melihat mismatch sebagai sesuatu yang harus ditakuti.

Yang lebih penting adalah memahami risikonya.

Kalau seseorang memilih pendidikan hanya karena tren, tanpa mengetahui kemampuan yang akan dibangun, risiko merasa tidak cocok bisa lebih besar.

Kalau seseorang hanya mengandalkan ijazah tanpa membangun keterampilan tambahan, persaingan di dunia kerja juga bisa menjadi lebih berat.

Sebaliknya, jika seseorang memahami kemampuan yang dimiliki, terus belajar, dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan pekerjaan, perpindahan bidang tidak selalu menjadi masalah.

Bahkan, perubahan jalur karier bisa menjadi bagian dari proses menemukan bidang yang paling sesuai.

Pendidikan dan Dunia Kerja Harus Terus Dihubungkan

Fenomena mismatch menunjukkan bahwa pendidikan dan dunia kerja tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.

Perguruan tinggi perlu memahami perubahan kebutuhan industri. Industri juga perlu memahami proses pendidikan.

Sementara siswa dan mahasiswa perlu aktif mencari tahu kemampuan apa yang dibutuhkan.

BPS menyebut keterampilan digital, sertifikasi kompetensi, dan pelatihan yang relevan sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko mismatch.

Artinya, membangun kesiapan kerja bukan hanya tugas satu pihak.

Ada peran sekolah. Ada perguruan tinggi. Ada industri. Ada pemerintah. Dan tentu saja ada individu itu sendiri.

Untuk Siswa SMA, Persiapannya Bisa Dimulai dari Sekarang

Persiapan menuju dunia kerja tidak berarti siswa SMA harus buru-buru mencari pekerjaan.

Persiapannya justru dapat dimulai dengan hal yang lebih sederhana.

Cari tahu bidang yang ingin dipelajari. Pahami kemampuan yang dibutuhkan. Coba berbagai kegiatan. Ikuti proyek yang relevan. Belajar menggunakan teknologi. Latih kemampuan komunikasi. Biasakan menyelesaikan masalah.

Dan jangan hanya mengejar nilai tanpa memahami apa yang sebenarnya dipelajari.

Tujuannya bukan membuat semua siswa memiliki CV yang sempurna sejak SMA. Tujuannya adalah membangun kebiasaan belajar dan mencoba.

Karena ketika memasuki pendidikan tinggi nanti, kebiasaan tersebut akan sangat berguna.

Yang Dicari Dunia Kerja Bukan Sekadar “Lulusan Apa?”

Pada akhirnya, pertanyaan tentang pendidikan dan pekerjaan tidak cukup berhenti pada:

“Kamu lulusan apa?”

Pertanyaan lain juga penting:

“Kamu bisa melakukan apa?”

Dua orang bisa memiliki tingkat pendidikan yang sama, tetapi kemampuan dan pengalamannya berbeda.

Begitu pula dua orang dengan jurusan yang sama bisa memiliki perjalanan karier yang sangat berbeda.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan memberikan fondasi, tetapi perjalanan setelahnya tetap dipengaruhi oleh keterampilan, pengalaman, kondisi pasar kerja, dan keputusan individu.

Mismatch Justru Menunjukkan Pentingnya Terus Belajar

Data BPS mengenai pemuda dan mismatch pendidikan-pekerjaan memberikan satu pelajaran penting.

Hubungan antara pendidikan dan pekerjaan tidak selalu lurus.

Lebih dari sepertiga pemuda dalam kajian tersebut bekerja tidak sesuai dengan tingkat pendidikannya, sementara TPT pemuda tercatat lebih dari dua kali tingkat nasional.

Angka tersebut bukan alasan untuk menganggap pendidikan tidak berguna.

Sebaliknya, angka tersebut menunjukkan bahwa pendidikan perlu diikuti dengan kemampuan untuk beradaptasi.

Dunia kerja terus berubah. Pekerjaan berubah. Teknologi berkembang. Kebutuhan industri bergerak.

Karena itu, kemampuan untuk terus belajar menjadi salah satu bekal penting.

Bagi siswa SMA, mungkin masa kerja masih beberapa tahun lagi. Tetapi, kebiasaan untuk mencari informasi, mencoba hal baru, membangun keterampilan, dan memahami kemampuan diri sendiri bisa dimulai sekarang.

Pada akhirnya, pendidikan bukan tiket otomatis menuju satu pekerjaan tertentu. Pendidikan adalah salah satu fondasi yang membantu seseorang membangun kemampuan.

Setelah itu, bagaimana fondasi tersebut digunakan akan sangat dipengaruhi oleh pengalaman, kesempatan, dan kemampuan seseorang untuk terus berkembang.

Penulis: Yumna Salwa Aqilah
Editor: Ramadhan Candra Wijayanti S.Psi