Pekerjaan Apa yang Paling Banyak Diisi Anak Muda Indonesia Setelah Lulus?
Ketika membayangkan kehidupan setelah lulus SMA atau kuliah, mungkin yang langsung muncul adalah pekerjaan seperti pegawai perusahaan, guru, dokter, programmer, desainer, atau pekerjaan profesional lainnya.
Namun, gambaran dunia kerja anak muda Indonesia sebenarnya jauh lebih beragam.
Tidak semua anak muda langsung masuk ke pekerjaan kantoran. Ada yang menjadi karyawan, menjalankan usaha sendiri, bekerja sebagai pekerja lepas, membantu usaha keluarga, atau masuk ke berbagai jenis pekerjaan lainnya.
Data ketenagakerjaan Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada Agustus 2025 terdapat sekitar 18,9 juta penduduk usia 15–24 tahun yang bekerja di Indonesia.
Angka tersebut cukup besar. Namun, yang menarik bukan hanya jumlahnya.
Kalau dibongkar lebih jauh, kita bisa melihat bagaimana anak muda sebenarnya masuk ke dunia kerja dan status pekerjaan apa yang paling banyak mereka jalani.
Hal ini penting diketahui siswa SMA karena dunia kerja yang akan mereka masuki nantinya tidak selalu terlihat seperti gambaran pekerjaan yang sering muncul di media sosial.
Hampir 19 Juta Anak Muda Sudah Bekerja
Menurut data BPS dari Sakernas Agustus 2025, jumlah penduduk usia 15–24 tahun yang bekerja mencapai 18.913.205 orang.
Kelompok usia 15–24 tahun ini mencakup anak muda yang berada pada fase transisi pendidikan menuju dunia kerja.
Sebagian mungkin belum menyelesaikan pendidikan.
Sebagian lainnya sudah lulus SMA atau SMK dan langsung bekerja.
Ada juga yang sedang atau sudah menyelesaikan pendidikan tinggi lalu mulai masuk pasar kerja.
Karena itu, angka tersebut tidak bisa diartikan sebagai “19 juta lulusan SMA bekerja”.
Kelompok usia 15–24 tahun memiliki kondisi pendidikan yang sangat beragam.
Justru, data tersebut memberi gambaran bahwa masa usia muda merupakan periode ketika sebagian orang mulai berhadapan langsung dengan dunia kerja.
Status Pekerjaan Anak Muda Ternyata Beragam
Kalau melihat status pekerjaan utama, terdapat beberapa kategori yang digunakan BPS.
Di antaranya adalah:
- berusaha sendiri;
- berusaha dibantu buruh tidak tetap atau tidak dibayar;
- berusaha dibantu buruh tetap atau dibayar;
- buruh, karyawan, atau pegawai;
- pekerja bebas; serta
- pekerja keluarga atau tidak dibayar.
Dari kategori tersebut, kelompok buruh, karyawan, atau pegawai merupakan yang terbesar di antara pekerja usia 15–24 tahun.
Jumlahnya mencapai sekitar 10,1 juta orang.
Artinya, lebih dari separuh pekerja usia 15–24 tahun berada dalam kategori tersebut. Jika dibandingkan dengan total 18,9 juta pekerja muda, proporsinya sekitar 53 persen.
Ini menunjukkan bahwa menjadi karyawan atau pegawai memang merupakan salah satu jalur utama anak muda ketika mulai memasuki dunia kerja.
Tetapi, bukan satu-satunya.
Ada Juga Anak Muda yang Memilih Berusaha Sendiri
Selain menjadi karyawan, sebagian anak muda juga masuk ke dunia usaha.
BPS mencatat sekitar 1,89 juta pekerja usia 15–24 tahun berstatus berusaha sendiri pada Agustus 2025.
Kategori ini menunjukkan bahwa seseorang menjalankan usaha atau bekerja untuk dirinya sendiri tanpa menjadi karyawan pada pihak lain.
Bentuknya bisa sangat beragam.
Ada yang menjalankan usaha kecil, berdagang, menyediakan jasa, atau menjalankan kegiatan ekonomi lainnya.
Data ini menarik karena menunjukkan bahwa masuk ke dunia kerja tidak selalu berarti harus menunggu perusahaan membuka lowongan.
Ada jalur lain, yaitu menciptakan aktivitas ekonomi sendiri.
Namun, tentu saja menjadi wirausaha juga memiliki tantangan tersendiri.
Seseorang perlu memahami produk atau jasa yang ditawarkan, mengelola keuangan, mencari pelanggan, dan menghadapi risiko usaha.
Jadi, wirausaha bukan sekadar “kerja sendiri”.
Ada kompetensi yang tetap perlu dibangun.
Pekerja Keluarga Juga Masih Ada
Kategori lain yang cukup menarik adalah pekerja keluarga atau tidak dibayar.
Pada kelompok usia 15–24 tahun, BPS mencatat sekitar 4,77 juta orang berada dalam kategori tersebut pada Agustus 2025.
Angka ini menunjukkan bahwa sebagian anak muda bekerja dengan membantu kegiatan ekonomi keluarga tanpa menerima pembayaran dalam bentuk upah seperti pekerja pada umumnya.
Kondisi semacam ini dapat ditemukan pada berbagai jenis usaha keluarga.
Misalnya membantu usaha perdagangan, pertanian, atau kegiatan ekonomi keluarga lainnya.
Hal tersebut penting ketika membaca statistik ketenagakerjaan karena tidak semua pekerjaan menghasilkan pendapatan dalam bentuk gaji bulanan.
Jadi, ketika seseorang mengatakan “sudah bekerja”, belum tentu statusnya adalah karyawan yang menerima gaji dari perusahaan.
Dunia Kerja Tidak Sesederhana “Kerja Kantoran atau Tidak”
Gambaran mengenai pekerjaan anak muda sering kali terlalu sederhana.
Seolah-olah pilihan hanya terdiri dari dua kemungkinan:
kuliah lalu kerja kantoran
atau
tidak kuliah lalu mencari pekerjaan lain.
Data menunjukkan kenyataannya jauh lebih beragam.
Ada pekerja muda yang menjadi karyawan.
Ada yang berusaha sendiri.
Ada yang bekerja dalam usaha keluarga.
Ada pekerja bebas.
Ada juga yang membantu usaha dengan tenaga kerja tidak tetap.
Dengan kata lain, dunia kerja memiliki banyak bentuk.
Bahkan dua orang yang sama-sama mengatakan “aku sudah bekerja” bisa memiliki kondisi pekerjaan yang sangat berbeda.
Karena itu, ketika membicarakan masa depan setelah SMA, penting untuk memahami bahwa pilihan karier tidak hanya terdiri dari nama-nama profesi yang sering muncul di internet.
Kenapa Banyak Anak Muda Menjadi Karyawan?
Salah satu alasan yang cukup masuk akal adalah karena pekerjaan sebagai karyawan memberikan struktur yang lebih jelas.
Ada posisi yang tersedia.
Ada proses rekrutmen.
Ada pembagian tugas.
Dan dalam banyak kasus, terdapat sistem upah yang relatif lebih teratur.
BPS mencatat bahwa secara keseluruhan, pada Agustus 2025 terdapat sekitar 56,8 juta pekerja berstatus buruh, karyawan, atau pegawai dari total 146,5 juta penduduk yang bekerja.
Pada kelompok usia muda, kategori ini juga menjadi yang terbesar.
Namun, menjadi karyawan bukan berarti jalurnya selalu sama.
Pekerjaan karyawan dapat ditemukan di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, manufaktur, jasa, teknologi, pendidikan, kesehatan, transportasi, hingga berbagai bidang lainnya.
Pendidikan Tetap Memengaruhi Jenis Pekerjaan
Menariknya, status pekerjaan juga berkaitan dengan tingkat pendidikan.
Data BPS 2025 menunjukkan bahwa dari sekitar 19,1 juta pekerja berpendidikan perguruan tinggi, sekitar 14,4 juta berstatus buruh, karyawan, atau pegawai.
Sementara itu, jumlah pekerja berpendidikan SMA yang berstatus buruh, karyawan, atau pegawai mencapai sekitar 25,5 juta orang.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan sebagai karyawan tidak hanya dimiliki lulusan perguruan tinggi.
Lulusan SMA dan pendidikan lainnya juga menjadi bagian besar dari tenaga kerja.
Artinya, seseorang tidak harus memiliki gelar sarjana untuk memasuki dunia kerja.
Namun, jenis pekerjaan, persyaratan, tanggung jawab, dan peluang perkembangan karier dapat berbeda tergantung bidang serta kompetensi yang dimiliki.
Lalu, Apa Bedanya Lulusan SMA dan Perguruan Tinggi?
Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan mengatakan bahwa salah satunya “lebih baik”.
Yang lebih tepat adalah melihat bahwa tingkat pendidikan dapat membuka jenis kesempatan yang berbeda.
Beberapa pekerjaan memang mensyaratkan pendidikan tinggi karena membutuhkan kompetensi profesional tertentu.
Sementara pekerjaan lainnya dapat dimasuki dengan pendidikan menengah, sertifikasi, pelatihan, atau pengalaman kerja.
Karena itu, siswa SMA perlu memahami bahwa melanjutkan pendidikan bukan sekadar soal mendapatkan gelar.
Pendidikan dapat menjadi salah satu cara untuk memperoleh kompetensi yang dibutuhkan pada jenis pekerjaan tertentu.
Usia Muda Juga Menjadi Fase Mencoba
Usia 15–24 tahun merupakan fase ketika banyak orang masih mencari arah.
Ada yang baru pertama kali bekerja.
Ada yang mencoba bidang tertentu kemudian berpindah.
Ada yang bekerja sambil melanjutkan pendidikan.
Ada pula yang belum masuk dunia kerja karena masih fokus sekolah atau kuliah.
Dalam publikasi analisis mobilitas tenaga kerja, BPS menunjukkan bahwa kelompok usia muda termasuk kelompok yang cukup dinamis dalam perpindahan pekerjaan.
Artinya, pekerjaan pertama tidak selalu menjadi pekerjaan terakhir.
Seseorang bisa saja mendapatkan pengalaman dari satu pekerjaan kemudian menemukan bidang yang lebih cocok di kemudian hari.
Hal tersebut merupakan bagian dari perjalanan memasuki pasar kerja.
Tidak Semua Anak Muda Harus Langsung Bekerja
Ada satu hal yang juga penting.
Data mengenai jumlah pekerja muda tidak berarti semua anak muda seharusnya segera bekerja.
Sebagian masih berada dalam pendidikan.
Sebagian mengikuti pelatihan.
Sebagian mungkin berada dalam kondisi lain yang membuat mereka belum bekerja.
BPS mencatat bahwa pada 2025, proporsi penduduk usia 15–24 tahun yang tidak sedang sekolah, bekerja, atau mengikuti pelatihan atau dikenal sebagai NEET berada di angka 19,44 persen secara nasional.
Angka tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat kelompok anak muda yang berada di luar tiga aktivitas tersebut.
Karena itu, ketika membahas pekerjaan anak muda, kita juga perlu melihat kondisi pendidikan dan pelatihan mereka.
Tidak bekerja pada usia tertentu tidak otomatis berarti seseorang gagal.
Bisa saja orang tersebut masih berada dalam proses pendidikan.
Yang menjadi perhatian adalah ketika seseorang berada di luar pendidikan, pekerjaan, maupun pelatihan dalam jangka tertentu sehingga kesempatan untuk membangun kompetensi dan pengalaman menjadi lebih terbatas.
Data Ini Bisa Mengubah Cara Kita Melihat “Pekerjaan Ideal”
Media sosial sering membuat pekerjaan tertentu terlihat jauh lebih menarik dibandingkan pekerjaan lainnya.
Ada profesi yang sering muncul karena memiliki citra modern.
Ada pekerjaan yang terlihat fleksibel.
Ada yang dianggap memiliki penghasilan tinggi.
Namun, statistik tenaga kerja menunjukkan bahwa pekerjaan masyarakat jauh lebih beragam.
Pekerjaan sebagai karyawan, pekerja mandiri, pekerja keluarga, maupun pekerja bebas semuanya merupakan bagian dari pasar kerja.
Karena itu, siswa SMA tidak perlu memilih cita-cita hanya berdasarkan pekerjaan yang sedang terlihat keren di media sosial.
Lebih penting untuk memahami:
Apa yang sebenarnya dikerjakan?
Kompetensi apa yang dibutuhkan?
Pendidikan seperti apa yang biasanya diperlukan?
Bagaimana jalur masuknya?
Apakah bidang tersebut masih memiliki kebutuhan tenaga kerja?
Pertanyaan seperti ini dapat membuat gambaran karier menjadi lebih realistis.
Jangan Hanya Bertanya “Mau Jadi Apa?”
Ketika guru atau orang tua bertanya tentang cita-cita, pertanyaan yang muncul biasanya:
“Nanti kamu mau jadi apa?”
Padahal, untuk siswa SMA, pertanyaan tersebut kadang terlalu besar.
Tidak semua orang sudah tahu profesi yang ingin dijalani.
Daripada memaksa diri menentukan satu jabatan, siswa dapat mulai dari bidang.
Misalnya tertarik pada teknologi.
Atau tertarik pada bisnis.
Atau suka bekerja dengan manusia.
Atau tertarik pada kesehatan.
Atau senang menganalisis data.
Dari bidang tersebut, pilihan pendidikan dan pekerjaan bisa dieksplorasi lebih jauh.
Cara ini dapat membuat proses memilih masa depan terasa lebih realistis.
Kuliah Bukan Satu-satunya Jalan, Tapi Pendidikan Tetap Penting
Data pekerja muda juga memperlihatkan bahwa anak muda dapat memasuki dunia kerja melalui berbagai jalur.
Namun, bukan berarti pendidikan tidak penting.
Justru, semakin kompleks suatu pekerjaan, semakin penting memahami kompetensi yang dibutuhkan.
Untuk pekerjaan tertentu, pendidikan tinggi merupakan persyaratan.
Untuk pekerjaan lain, keterampilan praktis, sertifikasi, pelatihan, atau pengalaman mungkin lebih dominan.
Jadi, pertanyaannya bukan sekadar:
“Kuliah atau kerja?”
Tetapi:
“Kompetensi apa yang dibutuhkan untuk jalur yang ingin aku ambil?”
Kalau pekerjaan yang dituju membutuhkan pendidikan tinggi, maka kuliah dapat menjadi jalur yang relevan.
Kalau bidang tertentu lebih menekankan keterampilan teknis, pelatihan dan sertifikasi juga dapat menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Anak Muda Akan Menghadapi Dunia Kerja yang Dinamis
Jumlah hampir 19 juta pekerja usia 15–24 tahun menunjukkan bahwa sebagian besar anak muda yang sudah masuk pasar kerja sedang berada pada tahap awal perjalanan profesional mereka.
Mereka bukan hanya mengisi pekerjaan yang sudah ada.
Mereka juga akan menghadapi perubahan kebutuhan tenaga kerja.
Teknologi berkembang.
Model bisnis berubah.
Jenis pekerjaan baru muncul.
Beberapa pekerjaan mengalami otomatisasi.
Kemampuan yang dibutuhkan perusahaan juga dapat berubah.
Karena itu, kemampuan untuk belajar dan beradaptasi menjadi penting.
Seseorang mungkin memulai karier dengan satu kemampuan, kemudian harus mempelajari kemampuan baru beberapa tahun setelahnya.
Jadi, Anak Muda Indonesia Paling Banyak Bekerja Sebagai Apa?
Kalau menggunakan kategori status pekerjaan, data BPS Agustus 2025 menunjukkan bahwa kelompok terbesar pekerja usia 15–24 tahun adalah buruh, karyawan, atau pegawai, dengan jumlah sekitar 10,1 juta orang.
Namun, angka tersebut belum menjawab seluruh cerita.
Ada jutaan anak muda yang berusaha sendiri, membantu usaha, menjadi pekerja bebas, atau bekerja dalam usaha keluarga.
Inilah yang membuat dunia kerja anak muda tidak bisa dilihat hanya dari satu jenis profesi.
Lebih jauh lagi, status pekerjaan bukanlah profesi.
Seseorang yang berstatus karyawan bisa bekerja sebagai staf administrasi, teknisi, tenaga penjualan, operator, desainer, tenaga kesehatan, programmer, dan banyak pekerjaan lainnya.
Karena itu, ketika membaca data ketenagakerjaan, kita perlu memahami kategori yang digunakan agar tidak salah menarik kesimpulan.
Apa Artinya untuk Siswa SMA?
Data ini memberikan satu pelajaran sederhana.
Ketika memikirkan masa depan, jangan hanya melihat nama pekerjaan.
Lihat juga bagaimana seseorang bisa sampai ke pekerjaan tersebut.
Kalau ingin menjadi profesional di bidang tertentu, cari tahu pendidikan dan kompetensi yang diperlukan.
Kalau tertarik membuka usaha, pahami keterampilan bisnis dan pengelolaannya.
Kalau ingin bekerja sebagai karyawan, cari tahu kemampuan yang biasanya dicari perusahaan.
Kalau belum tahu ingin menjadi apa, tidak masalah.
Mulailah dengan mengenali bidang yang menarik dan mencari tahu lebih banyak tentang pilihan yang tersedia.
Karena semakin banyak informasi yang dimiliki, semakin kecil kemungkinan seseorang memilih masa depan hanya karena mengikuti tren.
Dunia Kerja Itu Lebih Luas dari yang Terlihat
Pada akhirnya, data pekerja muda Indonesia memperlihatkan bahwa dunia kerja tidak memiliki satu jalur tunggal.
Ada yang langsung bekerja setelah SMA.
Ada yang kuliah dulu.
Ada yang kuliah sambil bekerja.
Ada yang membangun usaha.
Ada yang membantu bisnis keluarga.
Ada yang berpindah pekerjaan setelah mendapatkan pengalaman.
Tidak ada satu jalur yang otomatis cocok untuk semua orang.
Yang penting adalah memahami konsekuensi dan kebutuhan dari setiap pilihan.
Bagi siswa SMA, hal tersebut bisa dimulai dari langkah sederhana: jangan hanya mencari tahu pekerjaan apa yang terlihat menarik, tetapi pahami juga keterampilan, pendidikan, dan jalur yang dibutuhkan untuk mencapainya.
Sebab, memilih masa depan bukan tentang menebak pekerjaan yang paling keren.
Lebih penting untuk mengetahui kemampuan apa yang ingin dibangun dan bagaimana kemampuan tersebut bisa digunakan di dunia nyata.
Penulis: Yumna Salwa Aqilah
Editor: Ramadhan Candra Wijayanti S.Psi