Kuliah atau Langsung Kerja Setelah SMA? Data Bisa Menunjukkan Pilihan Anak Muda Indonesia
Buat siswa SMA, pertanyaan “setelah lulus mau kuliah atau kerja?” mungkin terdengar sederhana. Padahal, keputusan tersebut bisa menjadi salah satu pilihan yang cukup besar dalam menentukan langkah setelah sekolah.
Ada siswa yang sudah punya target masuk perguruan tinggi sejak awal SMA. Ada yang ingin langsung mencari pengalaman kerja. Ada juga yang sebenarnya ingin kuliah, tetapi harus mempertimbangkan kondisi keluarga, biaya, atau akses ke perguruan tinggi.
Di sisi lain, ada siswa yang belum tahu harus memilih yang mana.
Kalau melihat lingkungan sekitar, pilihan antara kuliah dan kerja sering terasa seperti dua jalur yang saling berlawanan. Padahal, data pendidikan dan ketenagakerjaan Indonesia menunjukkan bahwa transisi anak muda dari sekolah menuju pendidikan tinggi atau dunia kerja jauh lebih beragam.
Jadi, apakah anak muda Indonesia lebih banyak memilih kuliah atau langsung bekerja?
Jawabannya tidak bisa dilihat hanya dari jumlah mahasiswa atau jumlah pekerja. Kita perlu melihat beberapa indikator sekaligus.
Setelah SMA, Pilihannya Tidak Hanya Dua
Pertama, penting untuk mengubah cara melihat pilihan setelah SMA.
Kuliah dan kerja memang menjadi dua pilihan yang paling sering dibicarakan. Namun, ada juga siswa yang mengambil pendidikan vokasi, mengikuti pelatihan, mencari pengalaman, membantu usaha keluarga, atau membutuhkan waktu sebelum menentukan langkah berikutnya.
Bahkan, ada kelompok anak muda yang pada suatu periode tidak sedang bersekolah, bekerja, maupun mengikuti pelatihan.
BPS menggunakan istilah NEET, atau Not in Employment, Education, or Training, untuk menggambarkan kondisi tersebut.
Pada 2025, persentase penduduk usia muda 15 sampai 24 tahun yang tidak sedang sekolah, bekerja, atau mengikuti pelatihan di Indonesia tercatat 19,44 persen.
Angka ini penting karena menunjukkan bahwa proses transisi dari sekolah ke tahap berikutnya tidak selalu berlangsung langsung.
Artinya, ketika seorang siswa lulus SMA, tidak otomatis berarti bulan berikutnya ia sudah menjadi mahasiswa atau pekerja. Ada proses transisi yang bisa berlangsung lebih panjang.
Banyak Anak Muda yang Sudah Bekerja Sejak Usia Muda
Di sisi lain, data ketenagakerjaan menunjukkan bahwa sebagian anak muda memang sudah masuk ke dunia kerja.
Berdasarkan data Sakernas Agustus 2025, terdapat sekitar 18,9 juta penduduk usia 15 sampai 24 tahun yang bekerja. Dari jumlah tersebut, sekitar 6,27 juta merupakan lulusan SMA dan sekitar 5,80 juta merupakan lulusan SMK.
Data tersebut menunjukkan bahwa pendidikan menengah memang menjadi salah satu latar belakang pendidikan yang banyak dimiliki oleh pekerja muda.
Namun, angka tersebut juga perlu dibaca dengan hati-hati.
Penduduk usia 15 sampai 24 tahun tidak semuanya merupakan lulusan SMA yang baru saja masuk dunia kerja. Kelompok usia tersebut juga mencakup orang yang masih berada dalam pendidikan, sudah menyelesaikan pendidikan pada tingkat berbeda, atau memiliki kondisi lainnya.
Jadi, data tersebut tidak bisa langsung diterjemahkan menjadi “sekian juta lulusan SMA memilih kerja daripada kuliah”.
Yang bisa kita lihat adalah bahwa dunia kerja memang sudah menjadi bagian dari perjalanan sebagian anak muda Indonesia.
Kenapa Ada yang Memilih Kerja Setelah SMA?
Keputusan untuk langsung bekerja bisa muncul karena berbagai alasan.
Bagi sebagian siswa, bekerja dapat menjadi cara untuk mendapatkan pengalaman lebih awal. Mereka bisa belajar mengenai lingkungan kerja, komunikasi dengan orang lain, tanggung jawab, disiplin, dan cara menyelesaikan pekerjaan.
Ada pula siswa yang memilih bekerja karena ingin membantu kondisi ekonomi keluarga.
Sementara bagi sebagian lainnya, bekerja menjadi cara untuk mengumpulkan pengalaman atau pendapatan sebelum menentukan langkah pendidikan berikutnya.
Karena itu, keputusan bekerja setelah SMA tidak selalu berarti seseorang tidak tertarik dengan pendidikan tinggi. Bisa saja seseorang memilih bekerja terlebih dahulu dan baru mempertimbangkan kuliah pada tahap berikutnya.
Tapi Kuliah Juga Tetap Menjadi Pilihan Penting
Di sisi lain, pendidikan tinggi tetap menjadi salah satu jalur utama bagi anak muda yang ingin melanjutkan pendidikan setelah SMA.
Data BPS menunjukkan bahwa Angka Partisipasi Kasar perguruan tinggi Indonesia pada 2025 mencapai 32,89 persen.
Indikator tersebut memang tidak sama dengan persentase lulusan SMA yang langsung kuliah. Namun, angka tersebut memberikan gambaran bahwa partisipasi masyarakat dalam pendidikan tinggi masih berada di sekitar sepertiga populasi yang menjadi dasar perhitungan indikator tersebut.
Dengan kata lain, pendidikan tinggi sudah menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan masyarakat Indonesia, tetapi belum semua anak muda berada di perguruan tinggi.
Ada berbagai faktor yang memengaruhinya, mulai dari kondisi ekonomi hingga akses pendidikan.
Biaya Bisa Menjadi Pertimbangan Besar
Keputusan kuliah juga tidak bisa dipisahkan dari persoalan biaya.
Ketika membicarakan biaya kuliah, orang sering kali hanya melihat uang kuliah atau biaya pendidikan. Padahal, ada biaya lain yang mungkin muncul.
Siswa yang kuliah di luar kota, misalnya, perlu mempertimbangkan tempat tinggal, transportasi, makanan, perangkat belajar, serta kebutuhan sehari-hari.
Bagi siswa yang tinggal bersama keluarga dan kuliah di kota yang sama, situasinya bisa berbeda.
Karena itu, dua siswa dengan keinginan kuliah yang sama belum tentu memiliki kondisi yang sama untuk mewujudkannya.
Hal inilah yang membuat data pendidikan perlu dibaca bersama dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
Ketika ada anak muda yang tidak langsung kuliah, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa mereka tidak memiliki minat terhadap pendidikan tinggi. Ada kemungkinan terdapat faktor lain yang ikut memengaruhi keputusan tersebut.
Bagaimana dengan Dunia Kerja?
Memilih bekerja setelah SMA juga bukan berarti perjalanan seseorang otomatis menjadi lebih mudah.
Dunia kerja memiliki tuntutan yang berbeda dengan sekolah. Ketika masih menjadi siswa, keberhasilan sering kali diukur melalui nilai dan hasil ujian.
Ketika masuk dunia kerja, seseorang perlu berhadapan dengan tanggung jawab, target pekerjaan, komunikasi, kemampuan teknis, hingga tuntutan dari lingkungan kerja.
Karena itu, siswa yang ingin langsung bekerja juga perlu memikirkan keterampilan yang dimiliki.
Tidak cukup hanya berpikir:
“Yang penting sudah lulus, nanti cari kerja.”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Kemampuan apa yang bisa aku tawarkan?”
Misalnya, kemampuan menggunakan perangkat lunak tertentu, komunikasi, administrasi, pengolahan data, desain, bahasa asing, atau keterampilan teknis sesuai bidang yang dituju.
Semakin jelas kemampuan yang dimiliki, semakin mudah bagi seseorang untuk memahami jenis pekerjaan yang relevan dengan dirinya.
Pendidikan dan Dunia Kerja Tidak Harus Dipandang Terpisah
Salah satu cara berpikir yang kurang tepat adalah menganggap kuliah dan kerja sebagai dua pilihan yang benar-benar terpisah.
Dalam kenyataannya, keduanya bisa saling berhubungan.
Seseorang dapat kuliah kemudian bekerja. Seseorang juga dapat bekerja kemudian melanjutkan kuliah. Ada pula yang menjalani pendidikan sambil memperoleh pengalaman melalui kegiatan tertentu.
Bahkan, setelah lulus kuliah pun seseorang masih perlu terus belajar karena kebutuhan dunia kerja dapat berubah.
Jadi, pilihan setelah SMA sebaiknya tidak dipandang sebagai keputusan yang menentukan seluruh hidup dalam satu kali langkah.
Yang lebih penting adalah memahami konsekuensi dari pilihan tersebut dan mengetahui bagaimana pilihan itu bisa mendukung tujuan jangka panjang.
Data NEET Menunjukkan Ada Kelompok yang Masih Mencari Arah
Angka NEET sebesar 19,44 persen pada 2025 juga memberikan gambaran penting.
Hampir seperlima penduduk usia 15 sampai 24 tahun berada dalam kondisi tidak sedang sekolah, bekerja, maupun mengikuti pelatihan.
Namun, angka tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa semua anak muda dalam kelompok tersebut “tidak punya tujuan”.
Kondisi setiap orang berbeda.
Ada yang sedang mencari pekerjaan. Ada yang sedang menghadapi hambatan untuk melanjutkan pendidikan. Ada yang memiliki tanggung jawab keluarga. Ada pula yang sedang berada dalam masa transisi.
Karena itu, data tersebut lebih tepat digunakan untuk menunjukkan bahwa peralihan dari pendidikan menuju pendidikan lanjutan atau dunia kerja masih menjadi tantangan bagi sebagian anak muda Indonesia.
Kondisi Setiap Daerah Juga Berbeda
Fenomena tersebut tidak terjadi dengan angka yang sama di setiap daerah.
Data BPS 2025 menunjukkan persentase NEET usia 15 sampai 24 tahun cukup berbeda antarprovinsi.
Misalnya, DKI Jakarta tercatat 12,83 persen, sedangkan Jawa Barat 24,84 persen. Bali berada pada angka 5,33 persen, sementara Sulawesi Utara mencapai 29,52 persen.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa kondisi anak muda sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat mereka tinggal.
Kesempatan pendidikan, kondisi pasar kerja, karakteristik ekonomi daerah, serta berbagai faktor sosial dapat membuat pengalaman setelah SMA berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Karena itu, pengalaman seorang siswa di satu kota tidak selalu bisa dijadikan gambaran untuk seluruh Indonesia.
Jadi, Mana yang Lebih Baik: Kuliah atau Kerja?
Pertanyaan ini sebenarnya tidak memiliki satu jawaban yang berlaku untuk semua siswa.
Kuliah dapat menjadi pilihan yang tepat jika seseorang memang membutuhkan pendidikan tinggi untuk mencapai bidang yang dituju.
Sebaliknya, bekerja setelah SMA dapat menjadi pilihan yang masuk akal bagi seseorang yang ingin mendapatkan pengalaman, memiliki kebutuhan tertentu, atau memang memilih jalur kerja yang dapat dimasuki setelah pendidikan menengah.
Yang menjadi masalah bukan pilihan kuliah atau kerja itu sendiri.
Masalahnya adalah ketika keputusan dibuat tanpa memahami konsekuensinya.
Misalnya, seseorang memilih kuliah hanya karena semua temannya kuliah, padahal belum memahami bidang yang ingin dipelajari.
Atau seseorang memilih kerja hanya karena ingin cepat mendapatkan uang, tetapi belum memiliki keterampilan yang cukup untuk memasuki pekerjaan yang diinginkan.
Keduanya sama-sama membutuhkan pertimbangan.
Jangan Menjadikan Pilihan Orang Lain sebagai Patokan
Masa setelah SMA sering kali dipenuhi perbandingan.
Ada teman yang sudah diterima PTN. Ada yang mendapatkan beasiswa. Ada yang sudah bekerja. Ada yang mengambil gap year. Ada juga yang masih mencari tahu apa yang ingin dilakukan.
Melihat perjalanan orang lain memang bisa menjadi referensi.
Namun, menjadikannya sebagai standar untuk menentukan apakah diri sendiri “tertinggal” atau tidak bisa menjadi masalah.
Pilihan pendidikan dan pekerjaan sangat dipengaruhi oleh kondisi masing-masing.
Siswa yang langsung kuliah belum tentu lebih siap dibandingkan siswa yang bekerja. Begitu pula siswa yang langsung bekerja belum tentu lebih cepat sukses dibandingkan siswa yang melanjutkan pendidikan.
Yang menentukan bukan hanya seberapa cepat seseorang mengambil langkah, tetapi bagaimana langkah tersebut dijalankan dan dikembangkan.
Yang Perlu Disiapkan Bukan Hanya Rencana, tapi Kemampuan
Apa pun pilihan setelah SMA, ada satu hal yang tetap penting: kemampuan.
Kalau ingin kuliah, kemampuan akademik dan kesiapan belajar perlu dibangun.
Kalau ingin bekerja, keterampilan yang relevan dengan bidang kerja perlu dipersiapkan.
Kalau ingin mengambil gap year, waktu tersebut perlu dimanfaatkan untuk membangun pengalaman atau kemampuan tertentu.
Jadi, daripada hanya sibuk menentukan label “kuliah” atau “kerja”, siswa juga perlu bertanya:
“Apa yang harus aku punya supaya pilihan ini bisa berjalan?”
Pertanyaan tersebut jauh lebih konkret.
Misalnya, siswa yang ingin kuliah di bidang tertentu dapat mulai memahami materi yang akan dipelajari dan tuntutan studinya.
Siswa yang ingin bekerja dapat mulai mencari tahu keterampilan yang dibutuhkan dalam bidang tersebut.
Dengan begitu, keputusan tidak berhenti pada rencana. Ada persiapan nyata di belakangnya.
Pilihan Setelah SMA Bisa Berubah
Hal lain yang perlu dipahami adalah bahwa keputusan setelah SMA tidak selalu bersifat permanen.
Seseorang yang awalnya bekerja bisa melanjutkan pendidikan. Seseorang yang awalnya kuliah bisa mengubah arah bidangnya. Seseorang yang mengambil gap year bisa menemukan pilihan pendidikan yang sebelumnya belum terpikirkan.
Perubahan seperti ini tidak selalu berarti gagal merencanakan masa depan.
Justru, kehidupan setelah SMA bisa menjadi proses untuk memahami kemampuan, minat, kondisi, dan tujuan secara lebih matang.
Yang penting adalah setiap perubahan keputusan tetap disertai alasan dan pertimbangan.
Melihat Data Membantu Kita Menghindari Kesimpulan Sederhana
Data pendidikan dan ketenagakerjaan menunjukkan bahwa kehidupan anak muda setelah SMA tidak bisa diringkas menjadi “kuliah atau kerja”.
Ada jutaan anak muda yang bekerja. Ada yang melanjutkan pendidikan. Ada yang mengikuti pelatihan. Ada yang berada dalam masa transisi.
Dan ada pula yang sementara waktu tidak berada dalam pendidikan, pekerjaan, maupun pelatihan.
Karena itu, siswa SMA tidak perlu melihat masa depan seolah hanya tersedia satu jalur yang dianggap paling benar.
Kuliah memang penting bagi banyak orang. Bekerja juga merupakan pilihan nyata bagi sebagian lainnya.
Yang lebih penting adalah memahami kondisi diri, mengetahui konsekuensi setiap pilihan, dan mempersiapkan kemampuan yang dibutuhkan.
Pada akhirnya, pertanyaan setelah lulus SMA bukan sekadar “kuliah atau kerja?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Setelah SMA, langkah apa yang paling masuk akal untuk aku ambil, dan apa yang perlu aku siapkan supaya langkah itu benar-benar punya arah?”
Karena masa depan tidak ditentukan hanya oleh pilihan pertama setelah lulus. Yang jauh lebih menentukan adalah bagaimana seseorang menggunakan pilihan tersebut untuk terus belajar, berkembang, dan membangun langkah berikutnya.
Penulis: Yumna Salwa Aqilah
Editor: Ramadhan Candra Wijayanti S.Psi