Seberapa Ketat Persaingan Masuk PTN Setiap Tahun? Coba Lihat Perubahan Datanya

Buat siswa kelas 12, masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sering terasa seperti perlombaan dengan garis finis yang sama: semua ingin mendapatkan kursi di kampus yang diincar, tetapi jumlah kursinya terbatas. Setiap tahun, ribuan bahkan ratusan ribu siswa ikut dalam proses seleksi nasional dengan harapan bisa menjadi salah satu mahasiswa baru di PTN pilihannya.

Tidak heran kalau banyak siswa akhirnya bertanya, “Sebenarnya masuk PTN sekarang sesulit apa, sih?”

Pertanyaan tersebut tidak cukup dijawab dengan kalimat seperti “saingannya banyak” atau “tahun ini pasti lebih susah”. Tingkat persaingan masuk PTN bisa dilihat lebih jelas melalui data. Dengan membandingkan jumlah peserta, daya tampung, dan jumlah peserta yang diterima, calon mahasiswa bisa mendapatkan gambaran yang lebih realistis mengenai kondisi persaingan dari tahun ke tahun.

Ratusan Ribu Peserta Berebut Kursi PTN

Salah satu jalur yang dapat digunakan untuk melihat besarnya persaingan masuk PTN adalah Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Pada SNBT, peserta mengikuti UTBK sebagai bagian utama dari proses seleksi.

Pada SNBT 2025, terdapat 860.976 peserta yang mengikuti seleksi. Dari jumlah tersebut, daya tampung yang tersedia mencapai 284.380 kursi, sementara peserta yang akhirnya diterima berjumlah 253.421 orang. Dengan angka tersebut, sekitar 29,43% peserta dinyatakan diterima.

Artinya, secara keseluruhan, sekitar tiga dari sepuluh peserta berhasil mendapatkan kursi melalui SNBT 2025. Sementara itu, sebagian besar peserta lainnya belum berhasil lolos melalui jalur tersebut.

Angka ini menunjukkan satu hal penting: persaingan masuk PTN memang cukup ketat, tetapi tingkat persaingannya tidak bisa disamaratakan untuk semua kampus dan semua program studi.

Angka 29,43% merupakan gambaran secara keseluruhan. Pada program studi tertentu, terutama yang memiliki peminat sangat tinggi, persaingannya bisa jauh lebih ketat. Sebaliknya, ada pula program studi yang jumlah peminatnya relatif lebih rendah sehingga peluang berdasarkan rasio peminat dan daya tampung dapat berbeda.

Karena itu, melihat angka penerimaan nasional saja belum cukup untuk menentukan apakah sebuah pilihan aman atau berisiko.

Kenapa Jumlah Peserta dan Daya Tampung Harus Dilihat Bersamaan?

Ketika mencari informasi mengenai suatu PTN, siswa biasanya lebih mudah memperhatikan jumlah peminat.

Misalnya, ketika sebuah program studi memiliki ribuan peminat, kesannya program studi tersebut pasti sangat sulit ditembus. Padahal, angka peminat baru memberikan sebagian informasi. Yang juga harus dilihat adalah daya tampung.

Daya tampung menunjukkan jumlah kursi yang tersedia untuk mahasiswa baru pada suatu jalur atau program studi. Sementara jumlah peminat menunjukkan berapa banyak orang yang bersaing untuk mendapatkan kursi tersebut.

Bayangkan ada dua program studi.
Program Studi A memiliki 2.000 peminat dan daya tampung 100 orang.
Program Studi B memiliki 1.000 peminat dan daya tampung 30 orang.

Sekilas, Program Studi A terlihat lebih sulit karena peminatnya dua kali lebih banyak. Namun jika dihitung dari perbandingan peminat dan kursinya, gambaran persaingannya menjadi berbeda.

Program Studi A memiliki sekitar 20 peserta untuk setiap satu kursi.
Program Studi B memiliki sekitar 33 peserta untuk setiap satu kursi.

Artinya, jumlah peminat yang lebih sedikit tidak otomatis berarti persaingannya lebih ringan. Inilah alasan mengapa calon mahasiswa sebaiknya tidak hanya melihat angka “peminat”. Membandingkan peminat dengan daya tampung dapat memberikan gambaran yang jauh lebih masuk akal mengenai tingkat persaingan.

Persaingan PTN Tidak Hanya Terjadi di Kampus yang Terkenal

Ada anggapan bahwa persaingan paling berat hanya terjadi di PTN yang namanya sudah sangat populer.

Padahal, persaingan tidak hanya ditentukan oleh nama kampus. Program studi, lokasi, jalur seleksi, jumlah kursi, hingga tren pilihan siswa juga dapat memengaruhi tingkat persaingan.

Dalam SNBT 2025, misalnya, dari total peserta yang mendaftar ke program sarjana, terdapat 799.230 peminat yang bersaing untuk 225.538 kursi. Untuk program diploma empat atau sarjana terapan, tercatat 43.582 peminat dengan daya tampung 32.352 kursi. Sementara pada program diploma tiga, terdapat 18.164 peminat dengan daya tampung 26.490 kursi.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tingkat persaingan juga dapat berubah tergantung jenjang pendidikan dan pilihan program yang tersedia.

Jadi, ketika seseorang mengatakan, “PTN X pasti susah karena terkenal,” pernyataan tersebut sebenarnya masih terlalu sederhana.

Yang lebih penting adalah melihat data pada pilihan yang benar-benar ingin dituju.

Apakah Persaingan Masuk PTN Makin Sulit Setiap Tahun?

Ini merupakan pertanyaan yang sering muncul menjelang masa pendaftaran.

Jawabannya tidak sesederhana “iya” atau “tidak”.

Jumlah peserta yang mengikuti seleksi dapat berubah setiap tahun. Begitu juga dengan daya tampung, jumlah PTN yang berpartisipasi, jumlah program studi, mekanisme seleksi, dan pola pilihan peserta.

Jika jumlah peserta meningkat sementara daya tampung tidak bertambah dengan proporsi yang sama, persaingan secara matematis dapat menjadi lebih ketat.

Sebaliknya, jika daya tampung bertambah cukup besar atau jumlah peserta yang memilih suatu program studi menurun, tingkat persaingan pada pilihan tersebut bisa saja lebih longgar.

Karena itu, siswa kelas 12 sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa “tahun ini pasti lebih susah daripada tahun lalu” hanya berdasarkan pengalaman kakak kelas atau unggahan media sosial.

Perbandingan data jauh lebih berguna daripada asumsi.

Angka Persaingan Nasional Tidak Sama dengan Peluangmu

Hal lain yang sering disalahpahami adalah menganggap tingkat penerimaan nasional sebagai peluang pribadi.

Misalnya, jika tingkat penerimaan SNBT secara keseluruhan sekitar 29,43%, bukan berarti setiap peserta memiliki peluang tepat 29,43% untuk lolos.

Angka tersebut merupakan hasil perhitungan keseluruhan peserta dan peserta yang diterima. Di dalamnya terdapat berbagai macam program studi, PTN, nilai UTBK, serta karakteristik peserta.

Seseorang yang memilih program studi dengan peminat sangat tinggi tentu menghadapi kondisi yang berbeda dengan peserta yang memilih program studi dengan jumlah peminat lebih sedikit.

Begitu juga dengan peserta yang memiliki hasil UTBK tinggi dan peserta dengan hasil yang lebih rendah.

Dengan kata lain, angka nasional berguna untuk membaca gambaran besar, tetapi tidak dapat digunakan sebagai prediksi pasti terhadap hasil individu.

Untuk calon mahasiswa, data tersebut lebih tepat digunakan sebagai dasar untuk membuat pilihan yang realistis.

Jangan Terjebak dengan Istilah “Jurusan Favorit”

Di media sosial, kita sering menemukan istilah seperti “jurusan favorit”, “jurusan paling ketat”, atau “jurusan yang paling banyak diburu”.

Informasi seperti ini memang menarik untuk dilihat. Namun, siswa perlu berhati-hati agar tidak menjadikannya satu-satunya dasar dalam menentukan pilihan.

Popularitas suatu program studi bisa berubah.

Program studi yang sangat ramai peminat pada satu tahun belum tentu memiliki jumlah peminat yang sama pada tahun berikutnya. Tren dunia kerja, perkembangan teknologi, informasi dari media sosial, hingga perubahan minat siswa dapat memengaruhi pilihan.

Selain itu, “favorit” tidak selalu berarti “paling cocok” untuk setiap orang.

Jika seseorang memilih program studi hanya karena program tersebut sedang ramai dibicarakan, ia berisiko mengabaikan faktor yang jauh lebih penting, seperti kemampuan akademik, ketertarikan terhadap bidang yang dipelajari, dan gambaran kehidupan kuliah yang akan dijalani.

Data persaingan seharusnya membantu siswa membuat keputusan, bukan membuat siswa mengikuti tren.

Jadi, Apa yang Harus Dilihat Calon Peserta?

Bukan berarti siswa harus menghitung semua data sampai menjadi ahli statistik.

Setidaknya, ada beberapa angka yang layak diperhatikan ketika mengevaluasi pilihan PTN.

Pertama, jumlah peminat. Angka ini menunjukkan seberapa banyak peserta yang tertarik atau mendaftar pada pilihan tertentu.

Kedua, daya tampung. Angka ini menunjukkan jumlah kursi yang tersedia.

Ketiga, jumlah peserta yang diterima pada periode sebelumnya. Data ini dapat membantu memberikan gambaran mengenai hasil seleksi sebelumnya.

Keempat, tren data beberapa tahun, bukan hanya satu tahun. Melihat satu tahun saja bisa memberikan gambaran yang terlalu sempit.

Kelima, jalur seleksi yang digunakan. Data SNBP dan SNBT tidak bisa begitu saja dicampur karena karakteristik seleksinya berbeda.

Dengan melihat beberapa indikator tersebut secara bersamaan, siswa bisa mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.

Jangan Menjadikan Data sebagai Alat untuk Menakut-nakuti Diri Sendiri

Melihat angka persaingan yang besar memang bisa membuat siswa merasa minder. Ketika melihat ratusan ribu peserta bersaing mendapatkan kursi PTN, muncul pikiran seperti, “Kalau pesertanya sebanyak itu, emang aku bisa lolos?”

Padahal, fungsi data bukan untuk membuat siswa menyerah sebelum mencoba. Justru sebaliknya, data bisa digunakan untuk membuat strategi pilihan yang lebih realistis.

Jika sebuah pilihan memiliki persaingan yang sangat tinggi, siswa bisa mengetahui bahwa pilihan tersebut membutuhkan persiapan yang serius. Jika pilihan lain memiliki rasio persaingan yang berbeda, informasi tersebut juga dapat dipertimbangkan dalam menyusun alternatif. Yang perlu dihindari adalah memilih hanya berdasarkan rasa takut.

Misalnya, jangan sampai seseorang langsung menghapus semua pilihan yang diinginkan hanya karena melihat jumlah peminatnya tinggi. Sebaliknya, jangan pula memilih program studi secara asal hanya karena terlihat memiliki peminat lebih sedikit. Keduanya sama-sama kurang tepat.

Persaingan PTN Bukan Sekadar Soal “Banyak-Banyakan Peminat”

Dari data SNBT 2025, terlihat bahwa ratusan ribu siswa memang bersaing mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri. Namun, data tersebut juga menunjukkan bahwa tingkat persaingan tidak bisa dibaca hanya dari satu angka.

Jumlah peserta, daya tampung, jumlah peserta yang diterima, program studi, dan jalur seleksi semuanya saling berkaitan. Karena itu, ketika mulai mempersiapkan diri untuk masuk PTN, siswa tidak cukup hanya mencari informasi tentang “kampus mana yang bagus” atau “jurusan mana yang paling ramai”. Yang tidak kalah penting adalah belajar membaca data.

Cek berapa peminatnya. Lihat berapa daya tampungnya. Bandingkan dengan tahun sebelumnya. Perhatikan jalur seleksinya. Setelah itu, baru hubungkan data tersebut dengan kondisi dan kemampuan diri sendiri.

Pada akhirnya, masuk PTN memang merupakan persaingan. Namun, memahami persaingan bukan berarti harus terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Data justru bisa membuat proses memilih menjadi lebih rasional. Daripada hanya bertanya, “Aku bisa lolos nggak?”, pertanyaan yang lebih berguna adalah, “Kalau aku memilih ini, sebenarnya aku sedang menghadapi persaingan seperti apa?” Dari situlah pilihan yang lebih matang bisa mulai dibuat.

Penulis: Yumna Salwa Aqilah
Editor: Ramadhan Candra Wijayanti S.Psi