Kalau Belum Tahu Mau Jadi Apa, Haruskah Tetap Memilih Jurusan Sekarang?
“Setelah lulus mau jadi apa?”
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi buat sebagian anak SMA, jawabannya justru bikin bingung. Ada yang sudah punya profesi impian sejak lama. Ada yang tahu bidang yang disukai, tapi belum tahu pekerjaan akhirnya. Ada juga yang benar-benar belum punya gambaran dan masih mencoba berbagai kemungkinan. Masalahnya, proses memilih jurusan sering seolah-olah mengharuskan seseorang sudah punya rencana karier yang sangat jelas sejak SMA. Padahal, belum tahu ingin menjadi apa bukan berarti kamu tidak punya arah.
Tidak Tahu Profesi ≠ Tidak Punya Minat
Dua kondisi ini sering dianggap sama. Padahal, seseorang bisa saja belum tahu pekerjaan spesifik yang ingin dilakukan, tetapi sudah tahu bidang yang menarik baginya.
Misalnya:
“Aku belum tahu mau jadi apa, tapi aku suka mempelajari bagaimana manusia berpikir.”
atau:
“Aku belum tahu pekerjaan akhirnya apa, tapi aku suka mengolah angka dan mencari pola.”
Ini berbeda dengan:
“Aku nggak tahu mau apa dan belum pernah mencoba mencari tahu.”
Yang pertama masih memiliki arah eksplorasi, sementara yang kedua membutuhkan proses pencarian yang lebih panjang. Karena itu, kalau kamu belum punya profesi impian, tidak berarti kamu harus langsung panik.
Jurusan Tidak Sama dengan Satu Profesi
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menganggap hubungan antara jurusan dan pekerjaan selalu satu arah.
Misalnya:
Jurusan A → Profesi A
Padahal kenyataannya jauh lebih beragam. Satu bidang pendidikan dapat membekali seseorang dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan yang kemudian digunakan di beberapa bidang pekerjaan. Lulusan juga dapat membangun pengalaman melalui organisasi, proyek, magang, sertifikasi, atau pengalaman lainnya.
Artinya, memilih jurusan bukan berarti kamu sedang menandatangani kontrak bahwa “selamanya harus bekerja di satu profesi.” Tentu ada profesi tertentu yang memiliki jalur pendidikan atau sertifikasi khusus. Tetapi di banyak bidang lainnya, perjalanan dari pendidikan menuju pekerjaan bisa jauh lebih fleksibel.
Jangan Memilih Jurusan Hanya untuk Menghilangkan Kebingungan
Kadang seseorang memilih jurusan karena ingin segera menyelesaikan rasa bingung.
“Yang penting masuk dulu.”
“Teman-teman ambil ini.”
“Orang tua bilang jurusan ini aman.”
Masalahnya, keputusan yang diambil hanya untuk menghilangkan kebingungan belum tentu menyelesaikan masalah sebenarnya. Kalau kamu belum tahu ingin menjadi apa, justru gunakan waktu untuk mencari tahu apa yang ingin kamu pelajari dan jenis masalah apa yang menarik perhatianmu.
Pertanyaan seperti ini bisa lebih membantu:
- Topik apa yang membuatku penasaran?
- Pelajaran apa yang ingin kupahami lebih dalam?
- Aku lebih nyaman bekerja dengan angka, manusia, informasi, benda, atau ide?
- Aku lebih tertarik menganalisis, menciptakan, menjelaskan, membantu, atau mengorganisasi sesuatu?
- Aktivitas apa yang tetap menarik meskipun membutuhkan usaha?
Jawabannya tidak harus langsung menghasilkan satu nama profesi.
Eksplorasi Lebih Penting daripada Menebak
Menurut OECD Skills Outlook 2025, perubahan teknologi dan dunia kerja membuat kemampuan individu untuk terus mengembangkan keterampilan menjadi semakin penting. OECD juga menekankan pentingnya keterampilan untuk membantu seseorang menghadapi perubahan dalam pendidikan dan pekerjaan.
Artinya, menentukan masa depan bukan hanya soal membuat satu keputusan yang sempurna sejak awal. Ada bagian dari proses tersebut yang memang berupa eksplorasi. Kamu bisa membaca informasi tentang bidang tertentu, mengikuti kegiatan yang relevan, berbicara dengan orang yang sudah mempelajarinya, atau mencari tahu seperti apa aktivitas nyata dalam bidang tersebut. Semakin banyak informasi yang kamu dapatkan, semakin kecil kemungkinan kamu memilih hanya berdasarkan asumsi.
Tapi Jangan Juga Terlalu Lama Menunggu “Panggilan”
Di sisi lain, eksplorasi bukan berarti menunggu sampai suatu hari tiba-tiba muncul perasaan:
“INILAH JALAN HIDUPKU.”
Nggak harus seperti itu. Banyak keputusan pendidikan justru dibuat berdasarkan informasi yang tersedia pada saat itu, kemudian berkembang seiring pengalaman. Kamu mungkin masuk dengan satu ketertarikan, lalu menemukan bidang baru setelah belajar lebih jauh.
Bisa juga ternyata apa yang kamu bayangkan sebelum masuk tidak sesuai dengan kenyataan, lalu kamu mulai menyesuaikan arah. Hal seperti ini merupakan bagian dari proses.
Cari Tahu Bidangnya Sebelum Terlalu Fokus pada Profesinya
Kalau kamu belum tahu mau menjadi apa, jangan mulai dengan mencari:
“10 pekerjaan paling cocok untukku.”
Coba mulai dari bidang. Misalnya kamu tertarik pada teknologi. Jangan langsung menyimpulkan harus menjadi programmer. Cari tahu dulu ada bidang apa saja yang berhubungan dengan teknologi: pengembangan perangkat lunak, data, keamanan siber, desain produk digital, sistem informasi, riset, dan bidang lainnya.
Begitu juga kalau tertarik pada kesehatan, bisnis, pendidikan, lingkungan, atau komunikasi. Dengan memperluas gambaran, kamu punya lebih banyak ruang untuk menemukan bagian yang benar-benar cocok.
Pilihan Jurusan Tetap Perlu Realistis
Mencari kecocokan bukan berarti mengabaikan faktor lain. Pilihan pendidikan tetap perlu mempertimbangkan kemampuan akademik, kondisi finansial, lokasi, persyaratan program studi, dan berbagai kondisi pribadi. Jangan sampai karena terlalu fokus mencari “passion”, kamu justru mengabaikan faktor yang secara nyata memengaruhi kemampuanmu menjalani pendidikan tersebut. Pilihan yang baik biasanya bukan hanya:
“Aku suka bidang ini.”
Tetapi kombinasi antara:
ketertarikan + kemampuan + kondisi + informasi yang cukup.
Kalau Sekarang Belum Tahu, Apa yang Harus Dilakukan?
Kamu tidak harus langsung punya jawaban tentang pekerjaan seumur hidup. Yang perlu dilakukan adalah mempersempit ketidakpastian sedikit demi sedikit. Mulai dengan mencari tahu:
Aku tertarik pada bidang apa?
Aku tidak tertarik pada bidang apa?
Aku ingin mengembangkan kemampuan apa?
Seperti apa proses belajar di bidang tersebut?
Pilihan pendidikan apa yang bisa mengarah ke sana?
Dari sana, pilihanmu bisa berubah dari:
“Aku nggak tahu mau jadi apa.”
menjadi:
“Aku belum tahu profesi akhirnya, tapi sekarang aku punya beberapa bidang yang ingin aku eksplorasi.”
Itu sudah merupakan kemajuan.
Tidak Semua Orang Harus Punya Jawaban yang Sama di Usia yang Sama
Ada orang yang sudah tahu cita-citanya sejak kecil. Ada yang baru menemukan bidang yang disukai ketika SMA. Ada juga yang baru benar-benar memahami arah kariernya setelah menjalani pendidikan atau pengalaman kerja. Jadi, jangan mengukur kesiapanmu hanya dari seberapa cepat temanmu menemukan pilihan dan yang lebih penting adalah seberapa serius kamu mencari informasi sebelum membuat keputusan. Karena tujuan memilih jurusan bukan menemukan ramalan tentang seluruh hidupmu. Tujuannya adalah menemukan titik awal yang masuk akal untuk berkembang dan kalau hari ini kamu belum tahu ingin menjadi apa, mungkin yang perlu dicari bukan satu jawaban final. Cukup mulai dengan menemukan bidang mana yang layak kamu kenali lebih jauh.
Sumber
- OECD - OECD Skills Outlook 2025
- OECD - Career Guidance for Adults in a Changing World of Work
- Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI
Penulis:
Yumna Salwa Aqilah
Editor:
Ramadhan Candra Wijayanti S.Psi