Jurusan Kuliah Bisa Berubah karena Perkembangan Teknologi? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Kalau kamu melihat daftar jurusan kuliah beberapa tahun lalu lalu membandingkannya dengan pilihan program studi yang tersedia sekarang, mungkin kamu bakal menemukan beberapa perubahan.
Ada bidang yang makin berkembang, ada yang mulai banyak menawarkan konsentrasi baru, dan ada juga program studi yang menyesuaikan isi pembelajarannya dengan kebutuhan zaman. Hal ini sebenarnya cukup masuk akal.
Ilmu pengetahuan dan kebutuhan dunia kerja terus berubah.
Perkembangan teknologi, misalnya, membuat banyak bidang yang sebelumnya berjalan secara konvensional mulai membutuhkan kemampuan digital. Tapi apakah itu berarti jurusan kuliah lama akan hilang dan semuanya harus diganti dengan jurusan baru? Jawabannya nggak sesederhana itu.
Jurusan Tidak Harus Hilang ketika Teknologi Berkembang
Perubahan teknologi tidak selalu membuat sebuah bidang ilmu menjadi tidak relevan. Justru yang sering berubah adalah kompetensi yang dibutuhkan di dalam bidang tersebut.
Contohnya, bidang bisnis sudah ada jauh sebelum munculnya e-commerce. Tetapi ketika transaksi berpindah ke platform digital, kebutuhan dalam bidang bisnis ikut berkembang. Sekarang, mahasiswa yang mempelajari bisnis juga dapat berhadapan dengan topik seperti analisis data, digital marketing, platform bisnis, hingga transformasi digital. Artinya, bidang dasarnya tetap ada, tetapi cara bidang tersebut diterapkan bisa berubah.
Perubahan Teknologi Bisa Masuk ke Kurikulum
Salah satu cara perguruan tinggi merespons perubahan adalah melalui pembaruan kurikulum. Kurikulum perguruan tinggi memang bukan sesuatu yang harus berhenti pada satu susunan mata kuliah selamanya. Program studi dapat melakukan evaluasi dan penyesuaian terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kebutuhan masyarakat, serta dunia kerja.
Dalam kebijakan pendidikan tinggi Indonesia, kurikulum juga diarahkan agar pembelajaran dapat menyesuaikan perkembangan zaman dan kebutuhan kompetensi lulusan. Karena itu, nama program studinya bisa tetap sama, tetapi isi pembelajarannya dapat mengalami perubahan. Misalnya sebuah program studi yang dulu lebih banyak menggunakan pendekatan manual dapat mulai memasukkan penggunaan perangkat lunak, analisis data, atau teknologi tertentu ke dalam pembelajarannya.
AI Membuat Perubahan Ini Semakin Cepat
Perkembangan artificial intelligence atau AI menjadi salah satu contoh paling jelas. AI tidak hanya digunakan oleh perusahaan teknologi. Teknologi ini mulai masuk ke bidang kesehatan, pendidikan, keuangan, manufaktur, media, pemasaran, hingga layanan publik. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 menempatkan perkembangan teknologi, termasuk AI dan pemrosesan informasi, sebagai salah satu tren utama yang diperkirakan memengaruhi dunia kerja sampai 2030.
Artinya, perubahan teknologi dapat membuat suatu bidang membutuhkan kemampuan baru yang sebelumnya tidak terlalu penting. Namun, ini bukan berarti semua siswa harus masuk jurusan yang berhubungan langsung dengan AI. Justru yang perlu dipahami adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam berbagai bidang.
Teknologi Bisa Menjadi Skill Tambahan, Bukan Selalu Bidang Utama
Bayangkan seseorang belajar komunikasi. Perkembangan AI tidak otomatis membuat ilmu komunikasi menjadi tidak dibutuhkan. Sebaliknya, orang yang memahami komunikasi dan mampu menggunakan teknologi digital bisa memiliki kombinasi kemampuan yang berbeda.
Hal yang sama dapat terjadi pada bidang lain. Seseorang yang mempelajari ekonomi dapat berhadapan dengan analisis data. Seseorang yang mempelajari desain dapat menggunakan teknologi generatif. Seseorang yang mempelajari pertanian dapat berhadapan dengan teknologi sensor dan otomatisasi.
Seseorang yang mempelajari lingkungan dapat menggunakan teknologi untuk mengolah dan memantau data. Jadi, hubungan antara jurusan dan teknologi tidak selalu berarti “harus kuliah teknologi”.
Jangan Memilih Jurusan Hanya karena Sedang Viral
Perubahan teknologi juga punya sisi lain. Setiap kali ada teknologi baru yang ramai dibicarakan, biasanya muncul prediksi tentang “jurusan masa depan”. Masalahnya, tren teknologi bisa berubah jauh lebih cepat daripada masa studi seseorang.
Kalau kamu memilih bidang hanya karena sebuah teknologi sedang populer tahun ini, ada risiko keputusanmu terlalu bergantung pada tren sesaat. Lebih aman kalau kamu melihat fondasi ilmunya. Misalnya, daripada hanya bertanya:
“Jurusan apa yang paling cocok untuk AI?”
Coba ubah menjadi:
“Bidang apa yang ingin aku pelajari, dan bagaimana teknologi berkembang di bidang tersebut?”
Pertanyaan kedua membuat pilihanmu lebih luas dan tidak mudah terjebak tren.
Skill yang Dibutuhkan Juga Bisa Berubah
Perubahan teknologi bukan hanya memengaruhi nama pekerjaan. Kompetensi yang dibutuhkan juga dapat berubah. WEF memperkirakan sekitar 39% keterampilan inti yang dibutuhkan dalam pekerjaan akan mengalami perubahan hingga 2030 secara global. Analytical thinking tetap menjadi salah satu keterampilan inti yang penting, sementara creative thinking, technological literacy, dan kemampuan terkait AI juga semakin mendapat perhatian.
Ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan seseorang yang menguasai satu kemampuan teknis. Kemampuan untuk belajar ulang dan beradaptasi juga semakin penting. Makanya, ketika mencari jurusan, jangan cuma melihat apakah bidang tersebut “kekinian”. Lihat juga apakah pendidikan di bidang tersebut membangun dasar pengetahuan yang bisa terus dikembangkan.
Lalu, Apakah Jurusan yang Sekarang Populer Akan Tetap Populer?
Belum tentu. Popularitas suatu bidang bisa dipengaruhi banyak hal, mulai dari tren pekerjaan, perkembangan industri, kebutuhan masyarakat, sampai persepsi publik. Tapi perubahan popularitas tidak selalu berarti bidang tersebut kehilangan nilai.
Ada bidang yang mungkin tidak terlalu ramai dibicarakan di media sosial, tetapi tetap memiliki peran penting dalam industri atau masyarakat. Sebaliknya, bidang yang sedang viral belum tentu akan memiliki posisi yang sama beberapa tahun kemudian. Karena itu, popularitas sebaiknya menjadi informasi tambahan, bukan dasar utama keputusan.
Yang Perlu Dicari Anak SMA Bukan “Jurusan Masa Depan”
Kalau kamu sekarang sedang mencari pilihan jurusan, mungkin pertanyaan yang lebih berguna bukan: “Jurusan apa yang pasti aman sampai 20 tahun ke depan?”
Karena tidak ada yang bisa menjamin hal tersebut. Lebih masuk akal untuk mencari tahu:
Apa yang dipelajari?
Skill apa yang dibangun?
Bagaimana bidang tersebut berkembang?
Teknologi apa yang mulai digunakan di dalamnya?
Apakah aku tertarik mempelajari bidang tersebut lebih dalam?
Dengan pertanyaan seperti ini, kamu tidak perlu menebak masa depan secara sempurna. Kamu hanya perlu memahami arah perubahannya.
Karena Jurusan Bukan Ramalan Masa Depan
Teknologi memang bisa mengubah banyak hal, termasuk cara kita belajar, bekerja, dan menyelesaikan masalah. Tapi pendidikan tinggi bukan sekadar memilih satu pekerjaan untuk kemudian dijalani selamanya. Jurusan memberikan fondasi pengetahuan dan kemampuan yang nantinya dapat terus dikembangkan mengikuti perubahan zaman.
Jadi, jangan buru-buru mencoret jurusan hanya karena merasa bidang tersebut “ketinggalan zaman”. Sebaliknya, jangan buru-buru memilih jurusan hanya karena sedang ramai dibicarakan.
Coba lihat lebih jauh bukan cuma apa yang sedang populer sekarang, tetapi bagaimana bidang tersebut beradaptasi ketika dunia ikut berubah. Karena masa depan bukan sesuatu yang bisa ditebak dari daftar jurusan yang sedang viral hari ini. Yang lebih penting adalah punya fondasi yang cukup kuat untuk ikut berkembang ketika perubahan itu benar-benar datang.
Sumber
- World Economic Forum - The Future of Jobs Report 2025
- Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI
- Kurikulum Pendidikan Tinggi - Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan
Penulis:
Yumna Salwa Aqilah
Editor:
Ramadhan Candra Wijayanti S.Psi