Kenapa Banyak Siswa Memilih Jurusan karena “Katanya Bagus”?
“Katanya jurusan ini bagus.”
“Katanya lulusannya gampang kerja.”
“Katanya kampus ini paling bagus.”
Kalimat seperti ini mungkin sering muncul ketika anak SMA mulai membicarakan rencana setelah lulus. Informasi dari teman, keluarga, media sosial, sampai konten edukasi memang bisa membantu memperluas wawasan. Tapi masalahnya muncul ketika “katanya” berubah menjadi alasan utama untuk menentukan pilihan.
Memilih program studi bukan keputusan kecil. Kamu akan menghabiskan beberapa tahun untuk mempelajari bidang tersebut, sehingga keputusan yang hanya didasarkan pada popularitas atau pendapat orang lain bisa membuat gambaran tentang pilihanmu menjadi kurang utuh.
“Bagus” Itu Sebenarnya Bagus Menurut Siapa?
Salah satu masalah dari kalimat “jurusan ini bagus” adalah tidak adanya indikator yang jelas.
Bagus karena banyak peminat?
Bagus karena dianggap punya prospek kerja?
Bagus karena kampusnya terkenal?
Bagus karena banyak alumni yang sukses?
Atau bagus karena memang sesuai dengan minat dan kemampuanmu?
Semua bisa menghasilkan jawaban yang berbeda.
Misalnya, seseorang menganggap suatu jurusan bagus karena peluang kerjanya luas. Orang lain mungkin menganggap jurusan tersebut bagus karena cocok dengan minat akademiknya.
Artinya, predikat “bagus” belum cukup untuk menjadi dasar keputusan.
Kemendikbudristek juga pernah menekankan bahwa dalam memilih jalur pendidikan, calon mahasiswa perlu memahami passion, tujuan, dan pilihan yang akan dijalani.
Popularitas Bisa Mempengaruhi Cara Kita Melihat Jurusan
Ketika suatu jurusan sering muncul di media sosial atau banyak dibicarakan teman, kita lebih mudah merasa bahwa jurusan tersebut merupakan pilihan yang aman.
Padahal, popularitas dan kecocokan adalah dua hal berbeda.
Sebuah penelitian yang terindeks di Garuda Kemdiktisaintek pada 2024 mencatat bahwa pemilihan program studi menjadi persoalan bagi sebagian siswa karena mereka belum memahami potensi, minat, dan bakatnya. Penelitian tersebut juga menemukan adanya kecenderungan memilih berdasarkan keinginan orang tua atau mengikuti tren teman sebaya.
Ini bukan berarti mengikuti rekomendasi orang lain selalu salah.
Justru rekomendasi bisa menjadi titik awal untuk mencari informasi.
Yang perlu dihindari adalah berhenti pada rekomendasi tersebut tanpa melakukan pengecekan lebih lanjut.
Jangan Cuma Tanya “Lulusannya Jadi Apa?”
Prospek karier memang penting untuk dipertimbangkan.
Tapi kalau pertimbangannya hanya:
“Jurusan ini lulusannya bisa kerja di mana?”
informasi yang kamu dapat masih belum lengkap.
Coba tambahkan pertanyaan lain:
Apa yang dipelajari selama kuliah?
Mata kuliahnya seperti apa?
Kemampuan apa yang banyak digunakan?
Apakah cara belajarnya sesuai dengan hal yang ingin kamu dalami?
Bidang apa yang sebenarnya ingin kamu pahami lebih jauh?
Dengan begitu, kamu tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi juga mempertimbangkan proses yang harus dijalani untuk sampai ke sana.
Minat Juga Bukan Sekadar “Aku Suka”
Ada perbedaan antara menyukai sesuatu dan tertarik untuk mendalaminya.
Misalnya kamu suka melihat konten tentang psikologi. Itu bisa menjadi tanda ketertarikan, tetapi belum otomatis berarti kamu cocok dengan seluruh proses akademik di bidang psikologi.
Karena itu, minat perlu diuji dengan informasi yang lebih konkret.
Coba lihat materi yang dipelajari, aktivitas akademiknya, dan jenis persoalan yang biasanya dibahas dalam bidang tersebut.
Kalau setelah mengetahui bagian yang lebih detail kamu masih merasa tertarik, pilihanmu mulai punya dasar yang lebih kuat.
Pendapat Orang Tua Tetap Penting, Tapi Bukan Satu-Satunya Data
Orang tua bisa memiliki pertimbangan yang berbeda ketika memberikan rekomendasi.
Mereka mungkin memikirkan keamanan karier, kondisi ekonomi, lokasi kampus, atau pengalaman yang mereka miliki.
Pertimbangan tersebut tentu layak didengarkan.
Namun, keputusan akan lebih sehat kalau pendapat tersebut dibicarakan bersama informasi yang bisa diverifikasi.
Misalnya, daripada hanya mengatakan:
“Jurusan A katanya lebih bagus.”
coba cari tahu:
- apa yang dipelajari,
- bagaimana kurikulumnya,
- seperti apa bidang pekerjaannya,
- bagaimana kondisi kampus,
- dan apakah bidang tersebut memang sesuai dengan tujuanmu.
Dengan begitu, pembicaraan berubah dari sekadar pendapat menjadi diskusi berdasarkan informasi.
Jangan Menjadikan Satu Pengalaman sebagai Patokan Semua Orang
Media sosial juga bisa membuat gambaran tentang sebuah jurusan terlihat terlalu sederhana.
Ada mahasiswa yang membagikan pengalaman menyenangkan selama kuliah.
Ada juga yang menceritakan pengalaman buruk.
Keduanya bisa memberikan informasi, tetapi tetap merupakan pengalaman individu.
Pengalaman seseorang tidak otomatis menggambarkan seluruh mahasiswa di jurusan atau kampus tersebut.
Karena itu, kalau menemukan cerita di media sosial, gunakan sebagai bahan untuk menemukan pertanyaan baru.
Misalnya:
“Kalau banyak mahasiswa bilang tugasnya berat, sebenarnya tugas seperti apa yang dimaksud?”
Dari sana, cari informasi yang lebih lengkap dari sumber resmi program studi atau perguruan tinggi.
Ada Alasan Kenapa Pilihan Program Studi Perlu Dipikirkan Matang
Memilih program studi berarti menentukan bidang pendidikan yang akan kamu jalani dalam beberapa tahun ke depan.
Karena itu, informasi mengenai pilihan program studi sebaiknya tidak hanya berasal dari satu sumber.
Bahkan dalam informasi resmi program pendidikan seperti ADik 2026, pilihan perguruan tinggi dan program studi diposisikan sebagai prioritas pilihan, menunjukkan bahwa pilihan tersebut memang perlu ditentukan secara sadar oleh calon peserta.
Sementara itu, penelitian mengenai pemilihan program studi juga menunjukkan bahwa keterbatasan informasi dapat menjadi salah satu faktor yang membuat siswa kesulitan menentukan pilihan.
Jadi, semakin besar keputusan yang akan diambil, semakin penting juga kualitas informasi yang digunakan.
Jadi, Kalau Banyak Orang Bilang Jurusan Itu Bagus, Harus Gimana?
Bukan berarti langsung dicoret.
Justru jadikan itu sebagai bahan untuk mulai riset.
Kalau banyak orang mengatakan sebuah jurusan bagus, coba cari tahu:
Bagus dari sisi apa?
Data yang mendukungnya apa?
Cocok untuk siapa?
Apa yang sebenarnya dipelajari?
Apakah alasan tersebut juga relevan dengan tujuanmu?
Kalau setelah mencari tahu jawabannya kamu masih merasa cocok, pilihan tersebut menjadi jauh lebih kuat daripada sekadar:
“Aku pilih karena katanya bagus.”
Pada akhirnya, tidak ada satu jurusan yang secara mutlak menjadi pilihan terbaik untuk semua siswa.
Ada jurusan yang cocok untuk seseorang, tetapi belum tentu cocok untuk orang lain.
Jadi sebelum ikut arus karena sebuah jurusan sedang dianggap “bagus”, coba berhenti sebentar dan cari tahu bagus menurut siapa, berdasarkan apa, dan apakah alasan itu benar-benar berlaku untuk kamu.
Karena memilih masa depan sebaiknya tidak berhenti di kata “katanya.”
Sumber
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Urusan Minat dan Bakat Peserta Didik Jadi Tanggung Jawab Orang Tua.
- Garuda Kemdiktisaintek, penelitian mengenai pemilihan program studi oleh siswa SMA dan faktor minat, bakat, serta pengaruh lingkungan.
- Garuda Kemdiktisaintek, penelitian Analisis Perbandingan K-Nearest Neighbors dan Naive Bayes untuk Rekomendasi Pilihan Program Studi bagi Mahasiswa.
- Kemdiktisaintek, Syarat dan Ketentuan ADik 2026.
Penulis:
Yumna Salwa Aqilah
Editor:
Ramadhan Candra Wijayanti S.Psi